Suara.com - Salah satu ketakutan yang dialami oleh pasien kanker saat ingin berobat adalah efek samping kemoterapi, yang disebut bisa menyebabkan kerontokan rambut hingga mual dan muntah yang hebat.
Dijelaskan oleh Kepala Departemen dan KSM Ilmu Kesehatan Anak RSUP Hasan Sadikin, Dr. dr. Susi Susanah, Sp.A(K), M.Kes, kemoterapi sebagai salah satu modalitas utama tatalaksana kanker berpotensi menyebabkan efek samping. Tapi katanya, risiko ini dapat diminimalisir.
"Risiko efek samping ini dapat diminimalisir melalui mitigasi dengan cara mengenal karakteristik obat kemoterapi, karakteristik pasien dan penanganan efek samping," kata dia dalam sebuah webinar.
Susi mengatakan, ada sejumlah efek samping yang bisa dirasakan pasien seperti nyeri, rambut rontok, konstipasi, diare, neurotoksisitas, mual dan muntah, demam hingga kebocoran cairan.
Efek samping ini berdasarkan waktu munculnya, bisa bersifat segera atau dalam 24 jam pertama seperti mual, muntah, kemerahan pada kulit, nyeri saat berkemih dan menggigil; dini atau atau hitungan hari hingga minggu misalnya stomatitis, rambut rontok, diare; bahkan tahunan seperti sirosis hepatis, keganasan dan infertilitas.
Pasien yang mengalami mual dan muntah karena kemoterapi dapat menurun kualitas hidupnya, ketidakseimbangan metabolik, anoreksia sehingga berujung malnutrisi, masa rawat inap yang lama dan terancamnya keberlangsungan hidup karena keterlambatan atau penundaan siklus kemoterapi.
"Faktor yang mempengaruhi kejadian mual dan muntah seperti tipe, dosis dan jadwal kemoterapi serta individu pasien yang dipengaruhi usia dan gender," kata Susi.
Menurut Susi, tenaga kesehatan umumnya sudah mengenali obat-obat kemoterapi yang menyebabkan mual dan muntah dengan derajat minimal atau ringan, sedang hingga tinggi. Pasien yang diberikan obat-obatan jenis high emetogenic umumnya akan mendapatkan antiemetik atau antimuntah sebelum kemoterapi dilakukan.
Selain mual dan muntah, pasien juga bisa merasakan efek mukositis yang dikaitkan dengan kemampuan nyeri, makan dan menelan pasien. Perawat, bisa bekerjasama dengan orangtua dan dokter untuk menjaga kebersihan rongga mulut pasien misalnya dengan berkumur, menyikat gigi sampai pada tahap yang terakhir memerlukan terapi medikamentosa.
Baca Juga: Anjing Bisa Deteksi Kanker di Tubuh Manusia pada Tahap Awal, Begini Caranya
Di sisi lain, selama kemoterapi, pasien juga dapat berisiko mengalami kebocoran cairan atau obat sehingga obat yang diberikan melalui intravena bisa memunculkan gejala seperti nyeri, gangguan sensasi seperti bengkak, panas, kesemutan dan pendarahan. Kejadian ini bisa berkurang salah satunya dengan pemilihan vena yang sesuai.
Kemoterapi bertujuan menghancurkan sel-sel kanker dengan mempengaruhi sintesis atau fungsi DNA sehingga dapat menghambat atau merusak siklus sel kanker. Tetapi, terapi ini juga dapat menghancurkan sel-sel normal, sehingga di dalam pelayanan tatalaksana kemoterapi selain manfaat yang diambil, pasien kanker menghadapi risiko berupa efek samping, meskipun tidak selalu terjadi dan bersifat individual.
"Sebagian dapat diprediksi dan ini salah satu yang harus dikomunikasikan kepada orang tua dan pasiennya kalau (dia) sudah remaja. Antisipasi dalam memberikan kemoterapi khususnya pasien kanker anak yakni mengenali karakteristik obat kemoterapi, mengantisipasi efek samping sehingga bisa mempersiapkan penanganan efek samping tersebut dan persiapan selama dan pasca kemoterapi," jelas Susi.
Dia mengingatkan, dalam pemberian kemoterapi, ada banyak faktor yang harus diperhatikan yakni jenis kanker, stadium kanker, usia pasien, status kesehatan pasien dengan sebagian ada penyakit-penyakit yang menyertai. Menurut dia, peran perawat kompeten yang menjadi bagian dari tim multidisiplin tatalaksana kanker termasuk faktor penting dalam keberhasilan terapi. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker
-
Beda Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut, Begini Penjelasannya
-
Alarm Kesehatan: Wamenkes Soroti Lonjakan Kasus Kanker Serviks di Usia 30-an
-
Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks
Terpopuler
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
Pilihan
-
Kembali Diperiksa 2,5 Jam, Jokowi Dicecar 10 Pertanyaan Soal Kuliah dan Skripsi
-
Geger! Pemain Timnas Indonesia Dituding Lakukan Kekerasan, Korban Dibanting hingga Dicekik
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
Terkini
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD