Suara.com - Heboh warga Jakarta Timur (Jaktim) yang rumahnya ditemukan jentik nyamuk penyebab sakit demam berdarah dengue (DBD) akan kena denda Rp 50 juta. Memang seberbahaya itukah jentik nyamuk aedes aegypti?
Adapun denda Rp 50 juta diberikan pada rumah yang ditemukan jentik nyamuk aedes aegypti, usai ditetapkannya Perda DKI Jakarta nomor 6 tahun 2007 tentang pengendalian penyakit DBD.
Namun denda ini tidak ujug-ujug diberikan, karena Pemprov DKI Jakarta akan lebih dulu memberikan surat peringatan alias SP1, SP2 dan seterusnya hingga diberikan denda. Tidak kurang dari 24 warga yang di rumahnya ditemukan jentik nyamuk.
Adapun pemberian sanksi ini secara langsung diberikan oleh Satpol PP, yang bertugas memberikan sosialisasi pada masyarakat terkait adanya Perda tersebut, termasuk ancaman sanksi yang bisa didapatkan masyarakat.
DBD adalah penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk bernama aedes aegypti. Beberapa gejala demam berdarah, seperti demam hingga 40 derajat Celcius yang diikuti dengan rasa sakit kepala parah, serta nyeri otot dan sendi hingga area di belakang mata.
DBD bisa menyebabkan komplikasi yang cukup parah, bahkan berpotensi menyebabkan kematian. Berdasarkan data Kemenkes, hingga minggu ke-22 tahun 2023, jumlah kumulatif kasus dengue di Indonesia sebanyak 35.694 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 270.
Melansir situs Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberantas sarang nyamuk (PSN) aedes aegypti jadi salah satu langkah 3M Plus yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang yang kemungkinan jadi tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti.
Berbeda dengan nyamuk malaria yang biasa berkembang biak di air yang keruh, khusus nyamuk aedes aegypti ini memilih air jernih sebagai tempat berkembang biak seperti bak mandi, tempat penampungan air, hingga air hujan yang tertampung di wadah.
Perkembangan nyamuk aedes aegypti penyebab DBD
Baca Juga: Pelanggar Tol Nirsentuh Akan Didenda 10 Kali Lipat Tarif Tol
Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor utama penyebar beberapa penyakit tropis yang signifikan, termasuk demam berdarah, Zika, chikungunya, dan demam kuning. Perkembangan nyamuk Aedes aegypti meliputi empat tahap kehidupan utama yaitu telur, larva, pupa, dan dewasa.
Adapun siklus hidup nyamuk aedes aegypti dari telur hingga nyamuk dewasa, siklus hidup Aedes aegypti biasanya berlangsung sekitar 8 hingga 10 hari dalam kondisi yang ideal yaitu suhu hangat dan air yang cukup.
Kehidupan nyamuk aedes aegypti juga dipengaruhi lingkungan harus bersuhu lembap, dengan ketersediaan air sangat mempengaruhi durasi siklus hidup nyamuk ini. Siklus hidup bisa memanjang dalam kondisi yang kurang ideal.
Untuk bisa mengendalikan dan mencegah nyamuk aedes aegypti ini dengan menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk dengan menguras, menutup, atau membuang wadah yang dapat menampung air.
Bisa juga menggunakan insektisida untuk membunuh larva dan nyamuk dewasa. Lalu untuk membutuhkan larva atau jentik nyamuk aedes aegypti perlu menggunakan bahan kimia. Jangan lupa juga untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk seperti menggunakan kelambu, pakaian pelindung atau bahan kimia topikal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
Terkini
-
Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta
-
Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem
-
Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius
-
Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak