- Leptospirosis, DBD, diare, dan tifoid adalah penyakit utama yang meningkat akibat genangan air kotor dan sanitasi buruk.
- Kondisi lembab dan suhu drastis saat musim hujan memicu perkembangan biak penyakit saluran pernapasan dan infeksi kulit.
- Fasilitas air bersih terbatas serta kontaminasi sumber air minum memperbesar risiko penularan penyakit berbasis air.
4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ISPA dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun mikroba lainnya. Udara dingin, kelembaban tinggi, dan kondisi pengungsian yang padat memudahkan penyebaran virus dan bakteri penyebab pneumonia.
Paparan udara dingin yang ekstrem memaksa tubuh bekerja keras menjaga suhu (termoregulasi), sehingga energi untuk sistem imun berkurang. Hal ini memudahkan virus menembus barier saluran pernapasan.
Gejala utama penyakit ini meliputi batuk, demam, dan terkadang disertai dengan sesak napas atau nyeri dada.
5. Penyakit Kulit (Dermatitis dan Jamur)
Kontak terus-menerus dengan air banjir yang mengandung kuman, bahan kimia, dan kotoran dapat menyebabkan gatal-gatal, infeksi jamur, hingga kutu air.
Pada musim hujan, hal ini dipicu oleh rendahnya kebersihan lingkungan dan diri, terutama bagi masyarakat yang terpapar langsung dengan air banjir yang kotor atau terpaksa tinggal di pengungsian yang padat.
Kulit adalah lapisan pertahanan (barier) pertama sistem imun manusia. Ketika kulit lecet atau terinfeksi jamur akibat lembab, pintu masuk bagi bakteri jahat ke dalam jaringan tubuh terbuka lebar.
6. Demam Tifoid (Tipes)
Baca Juga: Purbaya Tambah Rp 3 Triliun Anggaran Satgas Jembatan: Kalau Enggak Beres, Keterlaluan
Demam tifoid atau tipes adalah penyakit saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.
Sama seperti diare, penyakit ini menular melalui konsumsi makanan atau air yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang mengandung bakteri tersebut, yang sering kali terjadi akibat sanitasi yang buruk saat musim hujan.
Bakteri ini menyerang sistem limfatik dan sumsum tulang, yang merupakan "pabrik" sel darah putih, sehingga kemampuan tubuh untuk melawan infeksi menurun drastis.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?