Suara.com - Penutupan Festival Adat Kutai Erau atau Erau International Folk Arts Festival (EIFAF) menjadi ajang yang ditunggu-tunggu masyarakat Tenggarong, Kalimantan Timur, dan juga wisatawan lokal dan mancanegara.
Sejak Minggu pagi (30/7/2017), masyarakat berduyun-duyung mendatangi Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, yang kini menjadi Museum Mulawarman. Ribuan pengunjung menunggu setia di halaman keraton.
Apa yang ditunggu-tunggu masyarakat tersebut adalah upacara adat Belimbur. Belimbur adalah ritual penyucian diri setelah pelaksanaan Erau.
"Belimbur mempunyai makna membersihkan diri kita. Selama pelaksanaan Erau, berbagai macam tabiat dan perbuatan yang kita lakukan tanpa menyadari, maka dengan Belimbur akan kembali bersih," ujar Menteri Pelestarian Nilai Budaya Adat Kesultanan Kutai Kartanegara, Haji Aji Pangeran Aryo Kusumo Puger.
Semua bersuka cita pada Belimbur. Saling serang dengan menyiramkan air di halaman Museum Mulawarman, penyiraman dibantu tiga mobil pemadam kebakaran. Dua mobil pemadam kebakaran di dalam lingkungan museum, sedangkan satu mobil lainnya di luar istana persis di tepian Sungai Mahakam.
Belimbur tak hanya berlangsung di sekitar Museum Mulawarman tetapi juga terjadi di setiap sudut kota. Di depan rumah, masyarakat sudah bersiap dengan perlengkapan tempurnya, seperangkat selang yang dialiri air dan ember untuk menyiram pengendara dan pejalan kaki yang lewat.
Di jalan-jalan kota yang berjuluk kota raja tersebut, para muda-mudi saling melemparkan air yang dibungkus di plastik.
Tua dan muda bersuka cita dalam kegiatan penyucian diri tersebut. Semuanya basah, semuanya bergembira ria. Ada satu syarat dalam kegiatan adat ini yakni masyarakat yang disiram tidak diperkenankan untuk marah.
Sejak sebelum berlangsungnya acara Belimbur, pihak Kesultanan Kutai Kartanegara menjelaskan bahwa pengunjung yang berada di daerah itu wajib basah. Jika tidak ingin basah maka harus menjauh dari lokasi acara itu.
Baca Juga: 3.257 Rumah di Kutai Kartanegara Terendam Banjir
Penggunaan air bersih sangat ditekankan sejak awal oleh pihak kesultanan, pasalnya banyak juga masyarakat yang menggunakan air selokan untuk menyiram. Tak jarang keributan terjadi dan tentunya akan merusak makna Belimbur tersebut.
Belimbur juga harus dengan niat yang baik dan tak jarang apa yang diinginkan itu terkabulkan. Bupati Kutai kartanegara, Rita Widyasari menceritakan pada 2011, dirinya ingin agar kabupaten tersebut mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Berkat niat baik dan kerja keras, hal itu tercapai. Kini Kutai Kartanegara mendapatkan opini WTP selama lima tahun berturut-turut.
Mengulur naga Tradisi Belimbur, tak bisa dilepaskan dari Mengulur Naga, yakni tradisi melarungkan replika naga jantan dan betina sepanjang 16 meter ke Kutai Lama yang berada di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara.
Konon menurut riwayat, naga tersebut awalnya ulat yang ditemukan sepasang suami-istri,Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma, saat membelah kayu kasau. Ulat kecil itu kemudian dipelihara dengan baik bak anaknya sendiri. Pasangan suami-istri berusia lanjut tersebut memang sangat menginginkan kehadiran anak.
Hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun, ulat itu membesar menjadi naga yang menakutkan masyarakat. Tak ingin menakutkan, naga tersebut kemudian meminta untuk dibuatkan tangga untuk merayap menuju Sungai Mahakam.
Naga tersebut menyelam, timbullah angin topan, air begelombang, hujan, guntur, dan petir bersahutan. Tak lama, permukaan sungai dipenuhi gelembung buih.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
7 Alasan Big Bird Airport Shuttle Cocok untuk Perjalanan Bisnis
-
Perbedaan Takbir Idul Adha dan Idul Fitri: Durasi, Waktu, dan Hukumnya
-
28 Mei 2026 Bank Buka atau Tidak? Cek Jadwal Operasional saat Iduladha
-
5 Moisturizer Wardah untuk Mencerahkan Kulit, Bikin Wajah Glowing dan Lembap
-
7 Warna Dompet Penarik Rezeki Menurut Fengshui dan Maknanya
-
Menu Makanan Idul Adha yang Tinggi Kandungan Gula Meski Nggak Manis, Apa Saja?
-
35 Ide Ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 2026 untuk Keluarga, Teman, hingga Rekan Kerja
-
Sunscreen Anessa Berapa Harganya? Ini 5 Varian Terbaik dan Manfaatnya untuk Kulit
-
5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
-
Bolehkah Puasa di Hari Tasyrik Setelah Idul Adha? Simak Pandangan Ulama dan Amalan yang Dianjurkan