"Aku nggak bisa maksain tentang program. Aku udah nggak mampu menjalankan program itu. Karena yang dibutuhkan bukan itu saat itu," kenang Syahiq.
Alhasil, meski jauh dari visi-misi utama River Ranger yang berfokus pada lingkungan, ia memutuskan untuk mengajar komputer kepada guru-guru setempat. Baginya, memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat adalah pintu masuk untuk membangun kepercayaan. Ini juga masih sejalan dengan tujuan awal pembentukan River Ranger, yakni sebagai wadah untuk belajar.
Saat menceritakan ini, saya bisa merasakan ketulusan mereka. Mimik wajah Syahiq terlihat sangat merindu pada teman-teman di Timur. Dengan mata berbinar, ia tampak sangat bersemangat bisa membantu orang lain belajar.
Mengingat Sungai yang Pernah Hidup
Nah, kembali ke akarnya. Syahiq bercerita bahwa awalnya, gerakan yang digaungkan River Ranger Jakarta memang tidak langsung menyentuh isu lingkungan. Bersama Nana, yang sebelumnya mengelola taman baca, Syahiq membuka kelas bahasa Inggris, fotografi, hingga matematika dan bahasa Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menyadari ada masalah yang lebih mendesak. Masyarakat pinggiran sungai tidak lagi hidup selaras dengan alamnya.
Inilah yang membuat fokus River Ranger bergeser menjadi pendidikan sustainable living. Mereka membawa anak-anak pergi ke kebun untuk belajar di pinggiran sungai.
“Jadi ngelihat sendiri, ini loh tanaman-tanaman yang cuma ada di sini, endemik Condet, bahkan yang nggak ada di luar. Seperti Buni asli Condet, Salak, Gandaria, Menteng, Kuweni, Kedoya, Bintaro, semua yang ada di nama-nama jalanan yang mereka cuma tahu itu sebagai nama jalanan, padahal buahnya masih ada di Condet,” ujar Nana.
Pengenalannya pun dimulai dari yang paling dasar agar anak-anak memahami bagaimana kerusakan ini bisa terjadi dan apa yang menyebabkan kerusakan itu. Jujur saja, saya juga baru tahu kalau nama-nama jalan yang ada di Jakarta ini ternyata adalah buah.
“Jadi kita kenalkan mereka sama sungai. Ini loh sungai kalian tuh yang tadinya berbatu-batu, bersih, bisa mandi di dalamnya, sekarang warnanya keruh, coklat, banyak sampah, dan kita coba untuk ajak mereka mengenali sampah di sekitar situ,” cerita Nana. Dari sini, anak-anak akhirnya melihat sendiri bahwa sampah plastik yang ada, tidak terurai walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.
Baca Juga: Tak Cuma Edukasi, Ini Strategi Kertabumi Ubah Cara Warga Kelola Sampah
Mendengar itu, saya merasa sedih. Kenyataan ini terasa seperti pil pahit. Jika tidak berubah, mungkin 40 tahun lagi sungai kita hanya akan menjadi saluran pembuangan raksasa yang mati.
Empati sebagai Nadi Perubahan
Dengan tidak menarik tarif atau rate card, River Ranger Jakarta membuktikan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Perjalanan mereka bukan hanya tentang membersihkan air yang keruh, melainkan tentang memulihkan hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Nana percaya bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk memengaruhi sekitarnya.
“Semua langkah besar pasti dimulai dari satu langkah. Be a change, jadi contoh buat orang lain, dan kamu akan rasakan semua orang akan berubah gara-gara satu orang," pesannya dengan penuh semangat.
Ini berdampak nyata bagi saya. Setelah kegiatan selesai, kami sempat makan bersama, dan di situlah saya melihat sendiri bagaimana prinsip Nana dipraktikkan tanpa perlu banyak bicara. Tanpa menggurui, mereka menunjukkan cara hidup minim sampah dengan menolak sedotan plastik, menggunakan tumbler, hingga memilah sampah organik dan anorganik.
Melihat aksi nyata itu, saya tersadar bahwa “menjadi contoh” bukan soal bicara besar, tapi soal pilihan kecil yang dilakukan berulang kali. Membawa tumbler, menolak sedotan, serta membawa wadah makan dari rumah kini menjadi gaya hidup baru bagi saya. “Rupanya, efek menular dari kebaikan itu benar-benar ada,” pikir saya kemudian.
Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Syahiq bahwa perjuangan ini bermuara pada satu nilai inti yang sering kali terlupakan: kerusakan lingkungan itu bukan salah sampahnya, tapi dari hilangnya rasa empati yang dimiliki manusia.
Jadi, yuk, mulai kembalikan empati itu dari diri sendiri! Mungkin tidak perlu langsung mengubah dunia, tapi cukup mulai dengan mengubah cara kita memandang sampah sebagai tanggung jawab bersama.
Jika Anda ingin tahu lebih banyak atau ingin ikut merasakan pengalaman “tersesat” untuk kebaikan, komunitas ini dapat dijangkau melalui Instagram mereka @riverrangerjakarta. Mari bergerak, sebelum sungai-sungai kita benar-benar kehilangan denyut nadinya!
(Reporter: Vicka Rumanti)
Berita Terkait
-
Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Sampah Jadi Pundi Rupiah: Cara Warga Kutawaru Ubah 240 Ton Limbah Jadi Destinasi Wisata
-
Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah
-
Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
Sudaryono Jadi Kepala BGN yang Baru, Dilantik Sore Ini
-
9 Jam Tangan Pintar Anti Air untuk Aktivitas Outdoor yang Murah, Mulai Rp200 Ribuan
-
Apple Naikkan Harga Langganan iCloud Plus di Indonesia Mulai Juli 2026
-
25 Link Poster Ucapan Hari Anak Nasional 2026, Desain Menarik untuk Dibagikan ke Medsos
-
DJP Bisa Intip Rekening Warga, Purbaya: Coretax Lebih Mengerikan
-
Nanik S Deyang Mundur, Puan Maharani Buka Suara Soal Isu Sudaryono Jadi Bos Baru BGN
-
Cuti dan Privasi Karyawan: Sejauh Mana Perusahaan Berhak Bertanya?
-
PBNU Punya Jaringan Luas, Menkeu Purbaya Sebut Siap Dukung Proyek Inisiasi NU
-
Pramono Minta Maaf, Janji Segera Bangun Ulang SDN Kebayoran Lama 09 yang Roboh
-
Kulit Sawo Matang Jangan Asal Pilih Kutek! 10 Warna Ini Bikin Tangan Langsung Glowing