Suara.com - Aroma fermentasi khas dari kulit jeruk langsung menyambut saya begitu melangkah masuk ke Sanggar Kemala, Duren Tiga. Siang itu, saya sengaja menyambangi Kelurahan Duren Tiga dengan maksud melakukan wawancara mendalam dengan komunitas River Ranger Jakarta. Kebetulan, mereka sedang mengedukasi warga RW 03 untuk membuat eco-enzyme.
Saat saya tiba, ibu-ibu dan bapak-bapak Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta Pokja 3 warga setempat sedang larut dalam keasyikan membuat cairan serbaguna tersebut. Mereka terlihat begitu antusias mencari tahu manfaat dari eco-enzyme ini. Ada cairan untuk pembersih rumah tangga alami hingga penjernih air, bahkan ampasnya bisa diolah menjadi bantalan kesehatan. Tidak ada formalitas kaku di sini, yang saya temukan hanyalah diskusi hangat dan proses belajar yang penuh kesabaran.
Tersesat: Awal dari Sebuah Perjalanan yang Tepat
Jika diingat lagi, sampai di lokasi ini saja saya sudah bersyukur karena sebelumnya saya sempat tersesat akibat arahan Google Maps yang kurang akurat. Masalahnya sepele namun fatal: phone holder di motor saya sudah longgar. Setiap kali melewati gundukan atau jalan berlubang, ponsel bergeser dari pandangan. Alhasil, saya hanya mengandalkan instruksi suara melalui earphone, yang justru membawa saya ke arah yang salah.
Namun, pengalaman nyasar ke SMA 55 dan Puskesmas justru terasa seperti prolog yang pas. Seperti halnya River Ranger Jakarta yang membangun gerakan dari ketidakterdugaan, kedatangan saya di gang ini pun dimulai dari ketersesatan yang berujung pada pertemuan menyenangkan.
Tepat di rumah Bu LMK, sang tuan rumah sekaligus host kegiatan, pemandangan hangat menyambut saya. Di sini, saya merasakan energi warga yang sangat luar biasa. Tawa dan semangat berbagi mengalir tanpa sekat ruang rapat formal. Bagi saya, ini adalah cerminan nyata dari esensi River Ranger Jakarta.
Sejak awal berdiri, komunitas ini memang tidak berpegang pada aturan baku yang kaku. Sang inisiator, Syahiq, bersama Koordinator Kurikulum, Nana, tidak membawa materi yang harus ditelan mentah-mentah oleh warga. Mereka lebih memilih menyatu dengan permasalahan, mengobservasi apa yang kurang, lalu membangun solusi bersama secara organik.
Pengalaman di gang sempit ini mengajarkan saya bahwa untuk menemukan solusi, kita memang harus rela sedikit tersesat. Nana menceritakan bahwa jiwa komunitas ini lekat dengan hobi Syahiq Harpi yang gemar bertualang ke kawasan Indonesia Timur. Karakter itu sangat terlihat dari cara mereka berbicara dan memperhatikan hal-hal kecil.
Syahiq dan Nana tidak hanya hadir, tapi benar-benar terlibat secara emosional. Mereka menyambut saya dengan senyuman tulus. Syahiq dengan luwes menghidupkan suasana bersama warga, ditimpali tawa yang memenuhi ruangan. Satu momen yang membekas adalah saat Syahiq menyadari kalung salib yang saya pakai. Tidak ada rasa canggung, justru pancaran toleransi terasa sangat natural. Ia bercerita bahwa ia teringat teman-temannya di Papua. Pengalaman hidup itulah yang membentuk karakternya menjadi sosok membumi dan berhati terbuka.
Baca Juga: Tak Cuma Edukasi, Ini Strategi Kertabumi Ubah Cara Warga Kelola Sampah
"River Ranger Jakarta itu senang banget tiba-tiba tersesat ke mana, tinggal di sana, observasi, lalu bikin kegiatan tanpa plan," ungkap Nana. Gaya kerja organik inilah yang membuat mereka sangat fleksibel di lapangan.
Adaptasi di Lapangan: dari Hama hingga Literasi Teknologi
Di Trans Patoa, Sulawesi Utara, Syahiq menemukan bahwa masalah utama warga bukan sekadar sampah plastik, melainkan hama yang menyerang kebun cengkeh dan cabai mereka. Ilmu pengetahuan yang terbatas membuat warga tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak mampu membeli pestisida atau pupuk kimia yang mahal.
“Di sana kan banyak jeruk, dan jeruk itu nggak ada harganya sama sekali. Bisa Rp4.000 atau Rp3.000 per kilo,” ungkap Syahiq.
Melihat banyaknya jeruk yang membusuk dan terbuang karena harga jualnya rendah, Syahiq melihat peluang. "Aku ajak mereka untuk bikin eco-enzyme. Eco-enzyme itu kan banyak fungsinya ya. Fungsinya sebagai kayak membasmi hama, seperti fungisida ataupun pestisida," jelasnya. Dengan bahan alami yang ada di sekitar, warga akhirnya bisa melindungi tanaman mereka dengan cara yang lebih murah dan aman bagi tubuh.
Prinsip "customize" atau penyesuaian ini kembali diuji saat Syahiq menginjakkan kaki di Desa Syurdori, Papua. Awalnya, ia berniat membawa materi waste management. Namun, realita di lapangan berbicara lain. Warga di sana ternyata lebih membutuhkan literasi teknologi.
Berita Terkait
-
Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Sampah Jadi Pundi Rupiah: Cara Warga Kutawaru Ubah 240 Ton Limbah Jadi Destinasi Wisata
-
Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah
-
Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
E-Meterai Bisa Beli di Alfamart? Ini Info Penting untuk Daftar Manajer Koperasi Merah Putih
-
Lowongan Manajer Koperasi Merah Putih Dibuka Sampai Kapan? Jangan Sampai Telat Daftar
-
Tanggal 21 April Memperingati Apa Saja? Selain Kartini Ada Hari Bakti Hiu Kencana
-
Selain Ikan Sapu-Sapu, 7 Spesies 'Monster' Ini Juga Merusak Ekosistem Perairan Indonesia
-
4 Ciri-Ciri Siomay yang Pakai Ikan Sapu-Sapu, dari Aroma hingga Harga
-
Link Download Surat Pernyataan Format Resmi untuk Daftar Manajer Koperasi Merah Putih
-
12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
-
Di Tengah Derasnya Fast Fashion, Novia Arifin Memilih Melambat dengan Pilihan Slow Fashion
-
5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
-
7 Lip Balm yang Bagus untuk Memerahkan Bibir, Harga Mulai Rp31 Ribuan