Lifestyle / Female
Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:15 WIB
Ilustrasi pelembap untuk kulit jerawatan (freepik)
Baca 10 detik
  • Pemakaian moisturizer atau pelembap harus disesuaikan dengan kondisi kulit.
  • Kalau asal pakai pelembab, justru bisa memicu peradangan yang menyebabkan jerawat.
  • Kulit berminyak sebaiknya memakai pelembap water-based dan non-comedogenic.

Suara.com - Banyak orang sudah rajin memakai moisturizer atau pelembap setiap pagi dan malam, namun jerawat tak kunjung reda bahkan makin meradang.

Pertanyaannya bukan lagi soal rajin atau tidak memakai moisturizer, melainkan cara pemakaiannnya yang masih keliru.

Menurut dr. Monica DR moisturizer bukanlah produk yang harus dipakai secara otomatis setiap hari tanpa membaca kondisi kulit terlebih dahulu.

Ketika kulit sedang dalam kondisi baik dan tidak kering, memaksakan pemakaian pelembap justru bisa berakibat sebaliknya.

"Pelembap digunakan saat kondisi kulit mengalami dehindrasi atau efek penggunaan bahan aktif yang sifatnya mempercepat regenerasi kulit sehingga membuat wajah kering," kata dr. Monica DR dalam salah satu video TikToknya.

Namun jika kondisi wajah terlalu berminyak (oily), dr. Monica menyarankan agar tidak memakai pelembap secara berlebihan ke wajah.

Ilustrasi pelembap atau moisturizer. (freepik)

Bukan tanpa sebab, kondisi kulit berminyak menciptakan lingkungan lembap yang menjadi surga bagi bakteri penyebab jerawat.

Menambahkan lapisan pelembap di atas kulit yang sudah memproduksi sebum berlebih, ibarat menuangkan bensin ke api kecil, yang ada justru memperparah peradangan.

"Pilih moisturizer berbasis water-based, bukan emolien atau oil-based. Itu pun digunakan jika perlu saja," sambungnya.

Baca Juga: Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu

Formula pelembap jenis ini  ringan, tidak menyumbat pori, dan tetap mampu menjaga hidrasi kulit tanpa memicu produksi sebum berlebih. Cocok untuk kulit berminyak, berjerawat, maupun beruntusan," paparnya.

Lalu, bagaimana dengan perubahan cuaca? Dokter Monica menjelaskan bahwa faktor lingkungan sangat menentukan kebutuhan kulit akan pelembap.

"Ketika cuaca super dingin, kulit berpotensi mengalami dehidrasi. Pada kondisi ini butuh pelembap yang dapat mencegah keluarnya kelembapan alami kulit, supaya tidak menguap," imbuhnya.

Sementara itu saat, saat cuaca panas dan lembap seperti yang umum terjadi di Indonesia, sebaiknya memakai pelembap yang ringan atau gel agar tidak lengket dan memicu produksi minyak berlebih

"Beda halnya saat cuaca panas dan berkeringat berlebih, itu gak wajib-wajib banget pakai pelembap. Apalagi yang bersifat emolien (berminyak), karena yang ada malah memicu bakteri masif dan menimbulkan masalah lain," pungkasnya.

Load More