Hasil pemantauan Politicawave, lembaga yang menganalisis percakapan di dunia maya, juga menunjukkan bahwa JK menjadi cawapres yang paling banyak dibicarakan oleh para pengguna internet di Indonesia.
"Tidak hanya banyak, para netizen kita juga membicarakan JK dengan nada positif. Dia dianggap kuat dalam soal diplomasi, ekonomi, dan dikenal cepat dalam mengambil keputusan," jelas Yose Rizal, CEO dan pendiri Politicawave yang dihubungi Suara.com, Jumat (16/5/2014).
Meski demikian, Nico Harjanto, ketua yayasan Populi Center, mengatakan pemilihan JK sebagai pasangan Jokowi tidak akan banyak berpengaruh terhadap elektabilitas kedua pasangan itu di pemilihan presiden kelak.
Menurut dia, tanpa cawapres, elektabilitas Jokowi sudah berada di angka 40an persen, dengan asumsi akan ada tiga pasangan yang berlaga di pilpres.
"JK tidak banyak mengangkat suara Jokowi, paling tinggi sekitar satu persen. Sama saja dengan cawapres lain seperti Mahfud MD atau Abraham Samad," jelas Nico Harjanto.
Pengusaha asal Makassar itu, imbuh Nico, juga tidak serta-merta mendorong pemilih dari Indonesia Timur untuk memilih Jokowi di pilpres.
"Samad juga merepresentasikan Indonesia Timur dan bahkan lebih populer di kalangan anak muda karena prestasi dalam pemberantasan korupsi. Mahfud juga mewakili Timur dan populer di kalangan pemilih minoritas," beber Nico.
Palang pintu parlemen
Terlepas dari elektabilitas dalam pemilihan umum, JK sendiri dinilai bisa berperan penting dalam menjaga efektvitas pemerintahan dalam hubungannya dengan lembaga legislatif, Dewan Perwakilan Rakyat.
"Dukungan parlemen dalam menjalankan pemerintahan merupakan sesuatu yang riil. Kebijakan sebagus apapun yang digagas pemerintah bisa disandera oleh parlemen jika partai-partai di parlemen tidak bersepakat mendukungnya," jelas Lucius Karus, peneliti pada Forum Masyarakat Indonesia Peduli Parlemen (Formapi).
Kekuatan suara partai pendukung Jokowi sejauh ini adalah 191 kursi, yang merupakan akumulasi kursi PDIP sebanyak 109, PKB (47), dan Nasdem (35 kursi). Dengan kata lain, Jokowi baru mendapatkan 34,10 persen dukungan di parlemen.
"Jika hanya mengandalkan prosentasi kursi seperti ini, maka efektifitas dan efisiensi usulan kebijakan pemerintah berpeluang disandera oleh partai-partai lain di parlemen," ulas Lucius.
Di sinilah, sambung Lucius, JK yang adalah mantan ketua umum Golkar periode 2004/2009 akan memainkan peran sentral. Golkar sendiri menguasai 91 kursi di DPR dan jika terjadi keriuhan di parlemen terkait kebijakan pemerintah, JK bisa menjadi palang pintu untuk menjaga jalannya pemerintahan dengan pengaruhnya di Golkar.
"JK sendiri sudah mengalami hal serupa ketika pada pemilu 2004 lalu. Walau dia tidak didukung Golkar dalam pencalonannya, tetapi setelah terpilih melalui pemilu, JK berhasil mengambil alih Golkar untuk mendukungnya di parlemen," ujar Lucius.
Karenanya, simpul Lucius, pemilihan JK tidak hanya akan strategis dalam perjalanan Jokowi di pemilihan presiden tetapi dalam mengarungi pelayaran panjang pemerintahan lima tahun mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- Harga Beda Tipis: Mending Yamaha Gear Ultima, FreeGo atau X-Ride untuk Rumah Tangga?
Pilihan
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Hapus Jejak Masa Lalu! Ketua Komisi XIII DPR Setuju Hak untuk Dilupakan Masuk RUU HAM
-
Periksa Plt Bupati Cilacap, KPK Telusuri Pemerasan pada Periode Sebelumnya
-
Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden
-
33 Tahun Tanpa Keadilan, Kasus Marsinah Disebut Jadi Alarm Bahaya Kebangkitan Militerisme
-
KPK Periksa Eks Staf Ahli Menhub Terkait Dugaan Suap Proyek Jalur Kereta
-
Partai Buruh Kritik Sistem Pemilu Berbiaya Tinggi: Hanya Pemilik Modal dan Massa Besar yang Bertahan
-
Gibran Kecam Keras Pelecehan 50 Santriwati di Pati: Tidak Bisa Ditoleransi!
-
Pengakuan Serka MN Buang Kacab Bank, Diseret 2 Meter Lalu Ditinggal Telungkup
-
PAN dan Demokrat Buka Suara soal Dana Parpol: Sudah Diaudit BPK, Tepis Isu Mahar
-
Telepon Siswa OSIS Jabar, Prabowo Izinkan Keliling Istana Hingga Jelang Rapat