Setelah resmi menjadi Presiden RI, Joko Widodo harus segera menata sistem hukum dan membenahi institusi hukum, seperti Polri, Kejaksaan, dan Kementerian Hukum HAM. Tujuannya agar revolusi mental Jokowi mampu segera memberantas mafia hukum, mafia proyek, mafia pajak, dan mafia migas yang selama ini menghancurkan Indonesia.
Demikian dikatakan oleh Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane dalam pernyataan pers yang diterima suara.com, Selasa (21/10/2014).
Neta menyarankan agar Jokowi menempatkan figur yang berintegritas, berkapabilitas, berkomitmen, dan tidak menutup-nutupi kekayaan untuk posisi Kapolri, Jaksa Agung, dan Menteri Hukum HAM.
"Memang posisi Kapolri tidak satu paket dalam Kabinet Indonesia Hebat. Sebab penetapan Kapolri harus melalui uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR. Namun, pergantian Kapolri perlu segera dilakukan untuk menjalankan konsep revolusi mental Jokowi," katanya.
Jika tidak membenahi Polri, Kejaksaan Agung, dan Kementerian Hukum HAM, kata Neta, konsep revolusi mental Jokowi hanya sekedar wacana dan angan-angan. Selama ini perubahan tidak berjalan maksimal karena Polri, Kejaksaan, dan Kementerian Hukum HAM tidak dibenahi dengan maksimal. Akibatnya, kata Neta, mafia hukum, mafia proyek, mafia pajak, dan mafia
migas menggerogoti Indonesia.
"Mafia hukum, misalnya telah memperdaya Indonesia dengan aksi para bandar narkobanya, memanjakan para koruptor, dan memutarbalikkan hukum. Para bandar narkoba dan koruptor mendapat keistimewaan remisi maupun pembebasan bersyarat. Mafia proyek selalu diistimewakan untuk mendapatkan proyek-proyek besar di berbagai instansi. Diduga bekerjasama dengan oknum-oknum legislatif. Mafia pajak kerap melindungi pengemplang pajak," kata Neta.
Ke depan, kata Neta, revolusi mental Jokowi harus mendorong pemeriksaan pajak para pejabat partai dan legislatif. Partai politik dan legislatif, katanya, jangan dijadikan tempat berlindung para pengemplang pajak. Polri dan kejaksaan harus memburu para pengemplang pajak yang "bersembunyi" di partai dan legislatif. Begitu juga para mafia migas, kata Neta, harus segera diberantas revolusi mental Jokowi.
Dengan adanya perubahan signifikan di Polri, Kejaksaan Agung, dan Kementerian Hukum HAM, revolusi mental Jokowi dinilai baru bisa berjalan efektif untuk memburu "musuh negara" yang selama ini menggerogoti dan menghancurkan Indonesia di segala bidang. Jika Jokowi tidak segera bekerja cepat dan tidak segera membenahi ketiga institusi tersebut, Neta mengkhawatirkan Jokowi malah dipecundangi para mafia, yang selama ini
menguasai segala lini.
"Publik saat ini sedang menunggu, apakah revolusi mental Jokowi akan menjadi fakta perubahan negeri ini atau sekedar imajinasi untuk pencitraan," kata dia.
Berita Terkait
-
Solidaritas Sumut dan Sumbar Hibahkan Rp287 Miliar untuk Pemulihan Aceh
-
Selesaikan Masalah Perkotaan, Wamendagri Bima Dorong Aglomerasi Berbasis Sektoral
-
Dari Kritik ke Tawa: Kehadiran Rocky Gerung di Istana jadi Strategi Prabowo Akhiri Era Oposisi?
-
Cekcok Saat Main Bola, Dua Pemuda Cengkareng Nekat Siram Air Keras Hingga Masuk Sel
-
Peneliti Soroti Kebijakan Menhan Soal Militer Asing di Langit RI, Minta DPR Perketat Pengawasan
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Kilas Balik Misi Berdarah TNI Bebaskan Kapal Sinar Kudus dari Cengkeraman Perompak Somalia
-
10 Jam Terjepit Dalam Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Tim SAR Meninggal
-
Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Ajukan Perlindungan dan Restitusi ke LPSK
-
Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Iran, Taktik dan Jet Tua Jadi Kunci
-
Perang Belum Usai! Malam Ini Militer Iran Siaga Tempur Lawan AS-Israel
-
Kedubes Rusia Sampaikan Duka atas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
-
Solidaritas Sumut dan Sumbar Hibahkan Rp287 Miliar untuk Pemulihan Aceh
-
Selesaikan Masalah Perkotaan, Wamendagri Bima Dorong Aglomerasi Berbasis Sektoral
-
Dari Kritik ke Tawa: Kehadiran Rocky Gerung di Istana jadi Strategi Prabowo Akhiri Era Oposisi?
-
Cekcok Saat Main Bola, Dua Pemuda Cengkareng Nekat Siram Air Keras Hingga Masuk Sel