News / Metropolitan
Selasa, 11 November 2014 | 08:14 WIB
Sejumlah warga RT 1/RW 5 Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, mencuci pakaian dan mandi di aliran Kali Ciliwung, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/10/2014). [Antara/Indrianto Eko Suwarso]

Suara.com - Komunitas pegiat penyelamatan Ciliwung mendeklarasikan tanggal 11 November sebagai Hari Ciliwung, dan momen itu menjadi salah satu ajang kampanye penyelamatan sungai.

"Dijadikannya Hari Ciliwung pada tanggal 11 November ini diawali dengan penemuan dua ekor kura-kura bulus pada tanggal dan bulan yang sama tahun 2011. Ini menjadi semangat kami bahwa masih ada ekosistem endemik Ciliwung yang perlu dijaga kelangsungan hidupnya," ungkap Koordinator Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak, Dr Ernan Rustiadi.

Ernan menjelaskan, Hari Ciliwung menjadi ajang kampanye para pegiat penyelamatan kawasan sungai yang melintas wilayah Puncak, Depok dan Jakarta, yang terus mengalami degradasi kerusakan lingkungan dan pencemaran akibat sampah dan limbah industri. Menurutnya, peringatan Hari Ciliwung kali ini diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan sejumlah pihak, baik masyarakat maupun komunitas pegiat Sungai Ciliwung dan kalangan pemerintah.

Acara peringatan Hari Ciliwung kali ini telah dimulai sejak 8 November, dengan melakukan serangkaian aksi nyata seperti membersihkan gunungan sampah di Sungai Citamiang di Desa Tugu Utara, kemah di pinggir sungai, memulung bersama, workshop pembuatan tas daur ulang, lomba kreativitas daur ulang, nonton film konservasi, penampilan teater serta curhat Ciliwung.

Puncak peringatan Hari Ciliwung pada 11 November sendiri juga diisi beragam kegiatan, di antaranya pameran foto, poster dan potensi lokal. Juga ada acara jalan di kebun teh menyusuri Sungai Cisampay di Blok C, deklarasi Sungai Cisampay sebagai hulu Ciliwung bebas sampah, serta diskusi publik.

"Dalam diskusi ini, kami mengundang sejumlah pihak, di antaranya Plt Bupati Bogor, Wali Kota Bogor, Wali Kota Depok, Rektor IPB, Kepala TNGGP, Kepala BKSDA Jawa Barat, Direktur Utama PTPN VIII, Direksi Perhutani, dan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," kata Ernan.

Acara diskusi sendiri dilangsungkan di Gunung Mas Desa Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ernan mengatakan, sejumlah pihak yang hadir nantinya diharapkan komitmennya dalam mendukung upaya penyelamatan Sungai Ciliwung, melalui diskusi dan deklarasi yang dilaksanakan.

Sementara itu, Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KP) Bogor, Een Irawan Putra menyebutkan, Hari Ciliwung telah rutin diperinggati selama tiga tahun berturut-turut, mulai dari 2012 saat deklarasi pertama. Ia mengatakan, tahun pertama acara dilaksanakan di Bojonggede, sedangkan tahun kedua (2013) berpusat di Condet, Jakarta.

"Untuk tahun 2014, peringatan Hari Ciliwung dilakukan serentak di tiga titik, yakni Puncak, Bojonggede dan Condet," kata Een.

Een menambahkan, kegiatan Hari Ciliwung mendapat dukungan dari banyak pihak, baik kalangan akademisi, komunitas, pemerintah daerah, hingga Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun mengapresiasinya. Menteri LH dan Kehutanan Siti Nurbaya, kali ini disebut menyampaikan apresiasinya melalui stafnya yang disampaikan lewat pesan singkat.

"Bu Menteri memberikan apresiasi yang tinggi pada aktivitas komunitas Ciliwung. Ia mengatakan, DAS Ciliwung merupakan daerah aliran sungai yang kritis dan menjadi super prioritas Kemenlinghut dalam mengatasi ancaman banjir terutama di hulu DAS Ciliwung," kata Een, membacakan pesan singkat tersebut.

Disebutkan lagi, peringatan Hari Ciliwung kali ini mengangkat tema "Sinergi Penyelamatan Ciliwung Bergerak dari Hulu". Hari Ciliwung ini juga mengusung Sunggawangan atau kura-kura bulus (Chitra chitras javanensis) sebagai maskotnya. [Antara]

Load More