Suara.com - Majalah Charlie Hebdo kembali membuat ‘sensasi.’ Kali ini bukan lewat kartun atau artikelnya yang kerap kontroversial dan membuat marah sejumlah pihak. Kantor majalah satir Prancis itu diserang oleh tiga laki-laki bersenjata, Rabu (7/1/2015) siang waktu setempat. Serangan bersenjata itu menewaskan 12 orang, termasuk dua orang polisi.
Charlie Hebdo didirikan pada 1970 dan menjadi terkenal karena karikaturnya yang ‘nyeleneh’ dan kerap mempermalukan politisi, tokoh publik dan juga simbol agama. Meski motif dari serangan teror yang terjadi kemarin itu masih belum jelas, kartun Nabi Muhammad yang dibuat oleh majalah tersebut membuat Charlie Hebdon menjadi target serangan.
“Semua tahun majalah Charlie Hebdon apabila anda bekerja di jurnalisme. Mereka telah membuat jurnalisme di Prancis dengan gambar dan juga cerita sampulnya,” kata Marie Turcan, jurnalis yang kantornya hanya berjarak 200 meter dari kantor Charlie Hebdo.
Pada November 2011, kantor Charlie Hebdo dibakar pada hari yang sama majalah tersebut merilis edisi terbaru dengan sampul yang menyindir hukum syariah Islam. Pada September 2012, majalah itu menampilkan kartun Nabi Muhammad.
Jurnalis Charlie Hebdo, Laurent Leger ketika itu mengatakan, kartun dibuat bukan untuk memprovokasi kemarahan.
“Kartun itu dibuat hanya untuk membuat anda tertawa. Kami ingin tertawa kepada kaum ekstremis. Mereka bisa saja Muslim, Yahudi, Katolik. Semua orang bisa beragama, tetapi pemikiran ekstrimis dan tindakan mereka tidak bisa kami terima,” ujarnya.
“Di Prancis, kami punya hak untuk menulis dan menggambar. Apabila ada orang yang tidak senang dengan karya kami, mereka bisa menggugat kami dan kami bisa membela diri. Itulah demokrasi. Anda tidak melempar bom, tetapi anda berdiskusi, anda berdebat. Anda juga tidak melakukan kekerasan,” kata Leger.
Tweet terakhir dari majalah Charlie Hebdo sebelum terjadinya serangan bersenjata itu adalah gambar kartun dari pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi yang menyampaikan ucapan selamat baru dengan kalimat,”Dan, di atas segalanya, sehat.”
Diantara korban yag tewas adalah editor Stephane "Charb" Charbonnier bersama dengan Georges Wolinski, Jean "Cabu" Cabut dan Bernard Verlhac, yang dikenal dengan nama "Tignous". Mereka adalah kartunis yang sangat terkenal di Prancis. (CNN)
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Wamenpar Wanti-wanti Pelaku Wisata Dieng: Utamakan Keselamatan di Tengah Lonjakan Turis!
-
Malam Ini Dijemput dari RS Polri! Roy Suryo dan dr Tifa Kembali Masuk Sel Tahanan
-
SPMB Jakarta 2026 Paling Siap, Jabar Masih Dihantui Masalah Sistem dan Transparansi!
-
Sukseskan Program Presiden, Mendagri Tinjau Program BSPS di Jayapura
-
Roy Suryo dan dr Tifa Sakit Usai Ditangkap Kasus Ijazah Jokowi, Gibran: Semoga Segera Sembuh!
-
Bantah Cuma Galak ke Ojol, Dishub DKI: Mobil Pribadi Parkir Liar Banyak Kami Derek!
-
Tanpa APBD! Pramono Anung Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jamin Patung Sudirman Tak Digeser
-
Buntut Kasus Sulis, Dishub DKI Janji Siapkan Parkir Khusus Ojol di Mal
-
Penyintas Bencana di Pidie Jaya Ubah Dana Stimulan Jadi Modal Usaha
-
Mulai Besok! Eks Karyawan Hotel Sultan Wajib Lapor ke Posko GBK Demi Kepastian Nasib