News / Nasional
Senin, 02 Februari 2015 | 05:31 WIB
Keluarga dan kerabat memberikan penghormatan terakhir untuk jenazah korban pesawat AirAsia QZ8501, I Gusti Ayu Putriana Permata Sari (16), sebelum dikremasi, di Kota Madiun, Jatim, Minggu (1/2/2015). [Antara/Fikri Yusuf]

Suara.com - Korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501, I Gusti Ayu Putriana Permatasari Sidharta (16), warga Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), dikremasi di Tempat Perabuan Jenazah Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Minggu (1/2/2015).

Korban dikremasi dengan diiringi kerabat serta teman-teman sekolahnya. Dalam proses ini, sejak kedatangan jenazah hingga proses kremasi, tampak senantiasa diwarnai isak tangis keluarga, kerabat, dan teman-teman korban.

Siswa kelas 11 SMAN I Kota Malang tersebut dikremasi tanpa kedua orangtuanya, Bobi Sidharta dan Donna Indah Nurwati, yang juga menjadi korban kecelakaan pesawat nahas itu. Hanya saja, jasad kedua orangtuanya itu hingga kini belum diketahui nasibnya.

Selain Gusti Ayu Putriana Permatasari, adik korban yang bernama Gusti Ayu Made Keisha Putri (10) dan juga menjadi korban AirAsia QZ8501, juga sudah ditemukan dan dimakamkan di TPU Samaan Malang. Sesuai permintaan keluarga, kakak-beradik tersebut memang dimakamkan terpisah.

Kakek korban, I Gusti Nyoman Kertiyasa, mengatakan bahwa atas permintaannya, jenazah Gusti Ayu Putriana Permatasari memang dikremasi di Madiun, setelah ditemukan.

"Keluarga memang meminta jenazah Sari dikremasi di Madiun. Namun, nantinya abu Sari tidak langsung dimakamkan, karena masih menunggu jenazah ayahnya, Bobi Sidharta, yang belum ditemukan," ujar Nyoman Kertiyasa.

Pihaknya berharap, jenazah Bobi dan istrinya segera ditemukan oleh tim SAR. Dia pun mengaku nantinya juga akan meminta jasad anaknya tersebut untuk dikremasi di Madiun.

"Kalau jenazah Bobi ditemukan, saya minta juga dibawa ke Kota Madiun, untuk diperabukan di sini. Saya dan keluarga besar menyampaikan ucapan terima kasih atas segala bantuan semua pihak dalam prosesi kali ini," ucapnya.

Sementara dalam proses kremasi Sari ini, sejumlah teman sekelasnya dari SMAN I Kota Malang pun turut datang mengantarkan jenazah hingga tempat perabuan. Teman-teman sekolah korban tersebut mengaku benar-benar merasa kehilangan, terutama karena korban dikenal sebagai sosok yang pandai bergaul, pintar, serta memiliki banyak teman.

"Ayu Permatasari itu pintar di kelas. Dia juga tidak sombong dan selalu membantu teman-teman saat mengalami kesulitan pelajaran," kata Shasha Putri, salah seorang teman korban. [Antara]

Load More