Ilustrasi PSK. (Shutterstocks)
Wajah perempuan ini putih menor menggunakan bedak. Senyumnya merekah dengan rambut poni khas K-Pop.
Bibirnya menjulur ke depan seolah ingin mencium. Begitu Euis (bukan nama sebenarnya), menarik perhatian lelaki pengguna sebuah media sosial Tag**d.com.
Tidak sulit untuk menghubunginya dan akrab dengan perempuan 27 tahun itu. Begitu dichat, dia langsung merespon.
"Hi, salam kenal juga. Aku di Bogor," kata Euis.
Euis mempunyai akun di Tag**d sudah 2 tahun terakhir. Nama akunnya tidak menamakan dirinya, namun dinamai dengan sapaan perempuan di daerah asalnya Bandung, 'Neng'.
Dihubungi suara.com lewat telepon, dia bercerita sudah 6 bulan menjadi pekerja seks komersial. Dia tidak pernah menjadi PSK di rumah bordir.
"Banyak cerita teman saya. Nggak enak-enak ceritanya," kata perempuan berbadan sekel itu.
Euis hanya terdiam saat diminta menceritakannya. "Ngeri, saya nggak bisa cerita. Kayak tersiksa gitu. Udah gitu kalau dapat om, nggak enak. Nggak bisa pilih pasangan," kata dia.
Jadi Euis lebih memilih menjajakan diri lewat media sosial Tag**d.com. Tarif yang dipatok cukup tinggi, Rp2 juta sekali kencan.
"Nggak ada nawar yah," tegasnya.
Namun dalam sebulan, lelaki yang 'nyantol' tidak banyak. Sebab Euis pilih-pilih. Syaratnya lelaki itu harus mempunyai perawakan menarik dan berdompet tebal.
Euis awalnya tidak terpikir menjajakan diri di media sosial. Dia hanya senang berkenalan dengan lelaki lewat dunia maya.
"Kenalan asik, banyak teman. Tapi aku kan butuh duit untuk hidup," pungkas dia.
Bagaimana dengan keamanan 'kencan'? Euis tidak khawatir, dia tidak langsung mau diajak 'kencan' jika belum mengobrol dan bertemu beberapa kali.
"Ketemu dulu beberapa kali. Biasanya dekat Stasiun Bogor," kata dia.
Suara.com berselancar ke situs Tag**d.com. Hasilnya memang banyak akun bernama perempuan yang menjajakan diri secara terbuka. Foto-foto perempuan berpakaian seksi terhampar di laman utama setelah mendaftar dengan email.
Suara.com pun mencoba menghubungi mereka lewat menu pesan pribadi. Namun tidak kunjung dibalas. Ada yang dibalas, namun hanya sekali. Selebihnya tidak dibalas. Begitu juga beberapa nomor telepon yang dipajang, tidak diangkat oleh pemilik akun.
Pengamat Media Sosial John Muhammad mengatakan 'menjual' diri di media sosial memang efektif. Sebab pengguna bisa lebih dekat dan terhubung secara langsung.
"Media sosial memungkinkan orang tehubung secara langsung. Ini lah yang digunakan oleh pekerja seks," jelas dia.
Hanya saja banyak risiko yang akan didapatkan. Seperti tidak ada jaminan si teman kencan itu baik dan tidak ada niat untuk mencelakakan diri.
"Mungkin perlu trik. Mungkin ketemuan dulu. Atau menentukan kreteria, siapa saja yang boleh bertemu," jelas dia.
Sebelumnya ramai kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin atau Deudeuh 'Tata Chubby'. Deudeuh diduga menaring lelaki hidung belang lewat media sosial. Dia dibunuh oleh teman kencannya sendiri, Muhammad Rio Santoso.
Rio sudah ditangkap Kepolisian Polda Metro Jaya. Dalam tempat kejadian ditemukan daftar buku tamu Deudeuh.
Bibirnya menjulur ke depan seolah ingin mencium. Begitu Euis (bukan nama sebenarnya), menarik perhatian lelaki pengguna sebuah media sosial Tag**d.com.
Tidak sulit untuk menghubunginya dan akrab dengan perempuan 27 tahun itu. Begitu dichat, dia langsung merespon.
"Hi, salam kenal juga. Aku di Bogor," kata Euis.
Euis mempunyai akun di Tag**d sudah 2 tahun terakhir. Nama akunnya tidak menamakan dirinya, namun dinamai dengan sapaan perempuan di daerah asalnya Bandung, 'Neng'.
Dihubungi suara.com lewat telepon, dia bercerita sudah 6 bulan menjadi pekerja seks komersial. Dia tidak pernah menjadi PSK di rumah bordir.
"Banyak cerita teman saya. Nggak enak-enak ceritanya," kata perempuan berbadan sekel itu.
Euis hanya terdiam saat diminta menceritakannya. "Ngeri, saya nggak bisa cerita. Kayak tersiksa gitu. Udah gitu kalau dapat om, nggak enak. Nggak bisa pilih pasangan," kata dia.
Jadi Euis lebih memilih menjajakan diri lewat media sosial Tag**d.com. Tarif yang dipatok cukup tinggi, Rp2 juta sekali kencan.
"Nggak ada nawar yah," tegasnya.
Namun dalam sebulan, lelaki yang 'nyantol' tidak banyak. Sebab Euis pilih-pilih. Syaratnya lelaki itu harus mempunyai perawakan menarik dan berdompet tebal.
Euis awalnya tidak terpikir menjajakan diri di media sosial. Dia hanya senang berkenalan dengan lelaki lewat dunia maya.
"Kenalan asik, banyak teman. Tapi aku kan butuh duit untuk hidup," pungkas dia.
Bagaimana dengan keamanan 'kencan'? Euis tidak khawatir, dia tidak langsung mau diajak 'kencan' jika belum mengobrol dan bertemu beberapa kali.
"Ketemu dulu beberapa kali. Biasanya dekat Stasiun Bogor," kata dia.
Suara.com berselancar ke situs Tag**d.com. Hasilnya memang banyak akun bernama perempuan yang menjajakan diri secara terbuka. Foto-foto perempuan berpakaian seksi terhampar di laman utama setelah mendaftar dengan email.
Suara.com pun mencoba menghubungi mereka lewat menu pesan pribadi. Namun tidak kunjung dibalas. Ada yang dibalas, namun hanya sekali. Selebihnya tidak dibalas. Begitu juga beberapa nomor telepon yang dipajang, tidak diangkat oleh pemilik akun.
Pengamat Media Sosial John Muhammad mengatakan 'menjual' diri di media sosial memang efektif. Sebab pengguna bisa lebih dekat dan terhubung secara langsung.
"Media sosial memungkinkan orang tehubung secara langsung. Ini lah yang digunakan oleh pekerja seks," jelas dia.
Hanya saja banyak risiko yang akan didapatkan. Seperti tidak ada jaminan si teman kencan itu baik dan tidak ada niat untuk mencelakakan diri.
"Mungkin perlu trik. Mungkin ketemuan dulu. Atau menentukan kreteria, siapa saja yang boleh bertemu," jelas dia.
Sebelumnya ramai kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin atau Deudeuh 'Tata Chubby'. Deudeuh diduga menaring lelaki hidung belang lewat media sosial. Dia dibunuh oleh teman kencannya sendiri, Muhammad Rio Santoso.
Rio sudah ditangkap Kepolisian Polda Metro Jaya. Dalam tempat kejadian ditemukan daftar buku tamu Deudeuh.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Inggris Tak Mampu Tahan Rudal Iran, London Kini Dalam Jangkauan Sejjil
-
Duka di Maybrat: Dua Prajurit TNI AL Gugur Usai Kontak Tembak dengan KKB, Senjata Dirampas
-
Mengenal 2 Konsep Huntap yang Akan Dibangun Satgas PRR untuk Penyintas Bencana Sumatera
-
MAKI Sindir KPK Soal Penahanan Rumah Yaqut Secara Diam-diam: Layak Masuk Rekor MURI
-
Siapa Fuad? Sosok WNA Iran Terduga Pembunuh Cucu Mpok Nori yang Ditangkap di Tol Tangerang-Merak
-
Pelaku Pembunuhan Wanita di Cipayung Tertangkap, Ternyata Mantan Suami Siri Asal Irak
-
Hawaii Diterjang Banjir Terparah Sepanjang 20 Tahun, 5000 Warga Mengungsi
-
Mudik Lebaran Lancar dan Kondusif, Kakorlantas Polri: Terima Kasih untuk Semua Pihak yang Terlibat
-
Gaspol Reformasi Pendidikan, Prabowo Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah
-
Prabowo: Lebih Baik Uang untuk Makan Rakyat daripada Dikorupsi