Suara.com - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengkritik penanggulangan radikalisme yang dilakukan pemerintah yang dinilainya tidak tepat sasaran.
Saat membuka Rakornas Gemasaba di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jumat (8/5/2015), Muhaimin mengatakan saat ini radikalisme secara masif disebarluaskan melalui dunia maya yang berdaya jangkau luas, sementara lembaga pemerintah yang terkait dengan persoalan itu justru lebih banyak menggelar seminar dengan peserta terbatas yang notabene kecil kemungkinan terpengaruh gerakan radikal.
"Ini kan kurang pas," kata Muhaimin dalam acara yang juga dihadiri Ketua Dewan Penasihat Gemasaba Marwan Jafar yang juga Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi itu.
Sementara di luar pemerintah, kata dia, terdapat ormas dan aktivis yang sangat aktif berperang pemikiran dengan kelompok radikal yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Kelompok yang bekerja dengan sukarela ini berusaha mengimbangi, bahkan menetralisir, paham radikal yang disebarkan oleh kelompok yang disinyalir terorganisir dan memiliki dukungan dana besar.
Kelompok sukarelawan itu, kata Muhaimin, antara lain anak-anak muda anggota Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) dan anak-anak muda pengelola situs nu.or.id atau NU online milik Ormas Nahdlatul Ulama.
Menurut Muhaimin, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) bisa menggandeng kelompok sukarelawan seperti itu yang biasanya memiliki modal minim.
"Bayangkan, kelompok yang pendanaannya megap-megap harus berhadapan dengan kelompok yang punya donatur kuat," katanya.
Radikalisme dan terorisme, kata Muhaimin, merupakan persoalan yang serius sekaligus ancaman bagi negara ini, sehingga penanggulangannya juga harus serius.
Dengan APBN sekitar 2.000 triliun rupiah, kata Muhaimin, tidak menjadi masalah jika pemerintah mengalokasikan sekian miliar untuk penanggulangan radikalisme, termasuk untuk membantu pendanaan kelompok sukarelawan yang berperang pemikiran secara langsung melawan kelompok radikal. (Antara)
Berita Terkait
-
Tolak 'War Tiket Haji', Maman DPR: Ibadah Bukan Ajang Kompetisi Klik Internet!
-
PKB Apresiasi Gencatan Senjata ASIran, DPR Dorong Indonesia Aktif Jaga Perdamaian
-
Teror Air Keras Menjamur, Abdullah PKB Desak Pemerintah Tertibkan Peredaran Bahan Berbahaya
-
Cak Imin Sentil Jaksa soal Kasus Korupsi Videografer Amsal: Nilai Kreativitas Rp0, Sama Saja Dibunuh
-
Gus Yaqut 'Mendadak' Jadi Tahanan Rumah, Legislator PKB Minta Penjelasan Transparan
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
Aksi Kamisan ke-904, Sumarsih: Perjuangan Ini Lahir dari Cinta
-
Bukan Sekadar Pajangan, Andre Rosiade Dedikasikan Penghargaan KWP Awards 2026 untuk Rakyat Sumbar
-
Misteri Kerangka Manusia Nyangkut di Sampah Citarum, Ciri Kawat Jadi Kunci
-
Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten
-
Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal
-
DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH
-
Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah
-
Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang
-
Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas
-
Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu