Suara.com - Pihak perguruan tinggi yang tergabung di Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menyalahkan pemerintah terkait peredaran ijazah palsu belakangan ini. Sebab pengawasan pemerintah tidak ketat.
Ketua Umum APTISI Edy Suandi Hamid mengatakan untuk mendirikan universitas di Indonesia sangat mudah. Sebab belum ada aturan yang memperketat kualifikasi pendirian universitas.
Tak heran jika sejak 2005 jumlah perguruan tinggi di Indonesia terus meningkat. Di tahun itu awalnya hanya sekitar 2.408 perguruan tinggi. Kini perbulan Maret 2015 jumlah perguruan tinggi di Indonesia berjumlah 4.264 buah.
"Dalam sepuluh tahun terakhir, satu perguruan tinggi muncul di Indonesia setiap dua hari," tuturnya di Kantor Kadin Indonesia, Jakarta pada Kamis (4/6/2016).
Edy mengaku tak heran belakangan ini muncul beredar kabar maraknya jual beli ijazah palsu. Ini lantaran minimnya pengawasan dari pemerintah terkait pertumbuhan perguruan tinggi di Indonesia.
"Sebenarnya praktik jual beli ijazah palsu ini sudah terjadi sejak lama. Maraknya ijazah palsu ini karena kurang ketatnya pengawasan dan belum adanya undang-undang yang jelas tentang ijazah ini, jelasnya.
Menurut APTISI, praktik jual beli ijazah menciderai dunia pendidikan di Indonesia. Terlebih akhir tahun ini Indonesia sudah ikut melaksanakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA memungkinkan pekerja asing di lingkungan Asia Tenggara bisa bekerja di Indonesia. Begitu pun sebaliknya.
"Ijazah palsu ini menurut kami itu tidak pantas. Kalau itu terjadi di Perguruan Tinggi kami tak akan membela anggota kami, karena itu praktik menjijikan dari perguruan tinggi," tegasnya.
Edy mengaku telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh anggota APTISI di seluruh wilayah Indonesia untuk mengaudit dosen di perguruan tinggi masing-masing. Ini untuk menelusuri perguruan tinggi yang dicurigai menjalankan praktik ijazah palsu.
"Serta melaporkan praktek-praktek nakal tersebut ke pihak Kemenristekdikti dan Kemendikbud. Kita mendorong pak menteri dan perguruan tinggi untuk memberantas praktik yang menjijikan ini," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
APTISI: Bekal Teori Tak Cukup untuk Mahasiswa Bisa Bekerja
-
Tutup Kampus, Menristekdikti Dikecam Alumnus STIE Adhy Niaga
-
Bila STIE Adhy Niaga Bekasi Tak Lengkapi Syarat, Izin Dicabut
-
Disebut Gunakan Ijazah Palsu, Ini Tanggapan Menpar Arief Yahya
-
Tiga Pembelaan 'Berkley Indonesia' Bantah Keluarkan Ijazah Palsu
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat
-
Gus Ipul Pastikan Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Transparan
-
Tutup Program Magang Kemendagri Wamendagri Bima Arya Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter
-
Evaluasi Rekrutmen Polri: Hapus Kuota Khusus, Libatkan Multi-aktor
-
Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun
-
Peneliti Temukan Cara Ubah Kulit Kayu Eukaliptus Jadi Penangkap Polusi, Seberapa Efektif?