Suara.com - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pejuangan menciptakan kedamaian di tengah umat dan bukan melakukan peperangan.
"Perjuangan menciptakan kedamaian adalah dengan membangun silaturrahmi, menghargai semua orang dan meminimalkan bebagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, baik muslim maupun non-muslim," kata Marsyudi Syuhud pada diskusi "Merawat Toleransi dan Kebhinekaan di Bumi Papua untuk Memperkuat NKRl di Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB), di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (9/9/2015).
Menurut Marsyudi, penyelesaian konflik di antara masyarakat beragama di Indonesia yang dilakukan dengan pendekatan silaturahmi telah mendapat apresiasi dari negara-negara di dunia internasional.
Bahkan, kata dia, dunia internasional menjadikan Nahdlatul Ulama karena masyarakat Islam di Timur Tengah sering terjadi konflik yang diwarnai kekerasan seperti pengeboman, hingga perang.
"Hal ini tentu menjadi sorotan, sehingga internasional melihat Islam di Indonesia yang selalu damai," katanya.
Menurut dia, dalam penyelesaian konflik masyarakat beragama, Indonesia mendapat apresiasi dan rujukan dunia dari dunia internasional.
Marsyudi menegaskan, konflik masyarakat beragama di Indonesia ditangani Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang berkoordinasi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia.
"Pendirian FKUB digagas oleh Mantan Presiden dan mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid, yang semasa hidupnya telah menangani berbagai konflik SARA di Indonesia," katanya.
Sekretaris FPKB DPR RI, Jazilul Fawaid, mengatakan Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh semesta alam dengan mengdepankan akhlakul karimah, moralitas dan etika dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Menurut Jazilul, FPKB DPR RI sangat peduli terhadap kedamaian umat beragama sehingga ketika terjadi konflik antara umat beragama, FPKB turut berkontribusi untuk menyelesaikannya.
"Terhadap kasus Tolikara di Papua, FPKB DPR bersama Kementerian Agama sudah menindaklanjuti dan menyampaikannya ke Menkopolhukam," katanya.
Sementara itu, KH Maman Imanulhaq menilai konflik agama itu seperti mengurai benang kusut, sehingga tidak cukup hanya melihat secara hitam putih pada ledakan isunya.
Namun, menyelesaikan konflik agama harus dilakukan secara konprehensif dari hulu hingga hilir. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular
-
Sudaryono Geram MBG Disebut Habiskan Uang Negara: Tanpa Program Ini Sekolah Rusak Tetap Banyak
-
Unai Emery Senang Kembali ke Indonesia, Aston Villa Siap Suguhkan Permainan Terbaik di GBK
-
DPR Sentil OPK BPJS-TK Jalan di Bara Api: Materi Tak Relevan Tak Perlu