News / Internasional
Selasa, 02 Februari 2016 | 03:03 WIB
Foto terbaru pangkalan militer Cina di Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan (Suara.com/US Navy).

Suara.com - Cina menuduh Amerika Serikat (AS) mencari hegemoni maritim atas nama kebebasan bernavigasi pada Senin (1/2/2016) setelah sebuah kapal penghancur milik Angkatan Laut Amerika Serikat berlayar kurang dari 12 mil laut dari pulau yang disengketakan di Laut Cina Selatan.

Cina mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan, mencakup wilayah tempat perdagangan dunia senilai lebih dari 5 triliun dolar Amerika berlayar setiap tahunnya. Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina dan Taiwan juga mengklaim wilayah yang sama.

Kapal penghancur bersenjata peluru kendali USS Curtis Wilbur melintas dekat Pulau Triton di Kepulauan Paracel. Pentagon menyebutnya sebagai tantangan terhadap usaha-usaha Tiongkok, Taiwan dan Vietnam untuk membatasi hak-hak dan kebebasan bernavigasi.

Pemerintah Cina yang bergerak dengan cepat untuk mencela pelayaran itu pada Sabtu, mengatakan bahwa Amerika Serikat melakukan hal yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab.

"Apa yang mereka sebut sebagai rencana kebebasan bernavigasi dan langkah-langkah yang telah ditegakkan oleh Amerika Serikat selama beberapa tahun pada nyatanya tidak sejalan dengan hukum internasional yang diakui secara umum," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lu Kang dalam sebuah pengarahan berita singkat harian.

Itu juga "mengabaikan sejumlah kedaulatan negara-negara pesisir beserta hak-hak keamanan dan maritim, merusak perdamaian dan stabilitas regional secara serius," tambahnya.

"Intinya adalah untuk mendorong hegemoni maritim Amerika Serikat atas nama kebebasan bernavigasi, yang telah selalu ditentang oleh sebagian besar komunitas internasional, terutama beberapa negara-negara berkembang. Apa yang telah dilakukan Amerika Serikat itu berbahaya dan tidak bertanggung jawab," ujar Lu.

Lu juga mengatakan bahwa salah satu penyebab utama militerisasi Laut Cina Selatan adalah Amerika Serikat yang memainkan kebebasan bernavigasi dan menyebabkan ketegangan.

Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan latihan yang serupa pada Oktober dimana kapal peghancur bersenjata peluru kendali USS Lassen berlayar dekat salah satu pulau buatan Tiongkok yang juga menimbulkan teguran dari Beijing.

Dalam sebuah edisi pada Senin, tabloid nasional Cina yang berpengaruh, Global Times, mengatakan langkah terbaru yang dilakukan oleh Amerika Serikat menunjukkan bagaimana Washington mengitari untuk membatasi Cina dan bahwa pihak militer Cina memiliki sejumlah cara untuk menghentikan patroli seperti itu.

Tiongkok perlu untuk mengeluarkan lebih banyak dana untuk anggaran bersenjatanya, surat kabar itu menambahkan.

"Terdapat jalan panjang yang harus ditempuh sebelum Cina dapat memiliki landasan yang serupa dengan Amerika Serikat. Kesetaraan tersebut hanya dapat dicapai dengan peningkatan kekuatan strategis," tambahnya. (Antara)

Load More