Suara.com - Aksi teror di Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, pada (14/1/2016) lalu, menandai serangan pertama yang terjadi sejak ledakan bom di Jakarta tahun 2009. Bagi para turis yang berniat datang ke Indonesia, serangan di kawasan Thamrin memberikan peringatan bahwa bahaya masih mengintai tempat wisata di Indonesia.
Sejak serangan bom di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang, masyarakat menjadi lebih sensitif terhadap ancaman terorisme. Ditambah lagi terjadinya serangan anggota ISIS di Paris, Prancis, pada November 2015.
Serangan terorisme di Thamrin menewaskan delapan orang dan melukai 26 orang lainnya. Dampaknya memang lebih kecil dibandingkan bom Bali, tetapi setiap serangan yang terjadi akan memicu kegelisahan, seakan-akan peristiwa Bali terjadi lagi.
Salah satu kawasan wisata yang merasakan dampak serangan teroris di Thamrin adalah Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Jalan Jaksa terletak sekitar satu kilometer dari titik serangan teroris.
Suara.com mengunjungi Memories Cafe, salah satu kafe yang paling populer di Jaksa, pada Jumat (29/1/2016) malam, untuk mencari tahu apa saja dampak peristiwa Thamrin pada kegiatan bisnis.
Pegawai Memories Cafe mengatakan jumlah pengunjung Jalan Jaksa kini menurun. Dia mengatakan tingkat penurunan pengunjung yang datang mencapai 50 persen.
Jalan Jaksa biasanya dipenuhi dengan turis backpacker dari Eropa, Amerika, dan Australia. Umumnya, turis tertarik datang ke Jaksa karena harga minuman beralkohol di sana relatif murah, apalagi lokasinya berada di tengah-tengah Jakarta Pusat.
Gaya hidup dan suasana yang santai di Jalan Jaksa juga menarik bagi turis lokal.
“Kebanyakan pengunjung ke Memories Cafe adalah orang asli, lokal. Jadi estimasi penurunan jumlah pengunjung termasuk mereka (orang asli), tidak hanya turis,” kata salah satu pekerja Memories Cafe kepada Suara.com.
Yang membedakan bom Sarinah dengan Bom Bali adalah korbannya. Di Jakarta, kebanyakan korban yang tewas atau luka adalah orang Indonesia.
Akibatnya, warga Indonesia juga enggan datang ke destinasi wisata yang sering dikunjungi turis asing. Sebab, tempat wisata seperti ini sering dipilih teroris untuk melancarkan serangan. (Meg Phillips)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Benarkah Demo Mahasiswa Ditunggangi? Ini Alasan Mengapa PDIP Dicurigai
-
Wamensos Apresiasi Dukungan ESQ Group untuk Pendidikan dan Karier Siswa Sekolah Rakyat
-
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Aldo, Mantan Tukang Las Kini Punya Impian ke Negeri Sakura
-
Bupati Kediri Apresiasi Capaian Siswa Sekolah Rakyat dalam Open House 2026
-
Rano Karno Janji Tuntaskan Banjir Abadi Joglo: Jalan Ambles Aja Kita Perbaiki
-
Washington D.C. Kalah, Jakarta Masuk Peringkat 53 Kota Terbaik Dunia
-
Gaya Dasco Hadapi Aksi Mahasiswa Dipuji, Peneliti: Dobrak Eksklusivitas Senayan
-
Polisi Tangkap 4 Terduga Pelaku Terkait Tewasnya Dua Pria di Saluran Air Bekasi
-
Rano Karno Ajak Generasi Muda Rawat Sejarah dan Hidupkan Nilai Kebudayaan Bangsa
-
Rano Karno: Indonesia Saat Ini Butuh Keberanian Bung Karno