Anggota Komisi V DPR RI Damayanti Wisnu Putranti usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka di gedung KPK, Jakarta, Senin (18/1). [Antara]
Bupati Kendal periode 2010-2015, Widya Kandi Susanti, diperiksa penyidik KPK pada Rabu (17/2/2016). Selesai diperiksa, dia mengaku ditanya soal hubungannya dengan anggota Komisi V DPR Damayanti Wisnu Putranti.
Susanti mengaku mengenal Damayanti ketika berlangsung acara sosialisasi empat pilar di Kendal, Jawa Tengah, pada 29 November 2015. Acara ini didanai oleh Damayanti.
"Kenalnya waktu itu saja ada sosialisasi, itu sosialisasi mendadak. Kenalnya di situ," kata Susanti di gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan mengaku tak pernah berhubungan dengan Damayanti setelah acara itu. Dia juga mengaku tak tahu soal proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang menjerat Damayanti.
Penyidik KPK, kata dia, tak banyak membahas proyek Kementerian PUPR. Susanti mengaku hanya ditanya empat sampai lima pertanyaan terkait perkenalannya dengan Damayanti di Kendal.
"Ditanya kenalnya gimana, kapan, kronologisnya gimana. Itu saja," kata Ketua DPC PDI Perjuangan Kendal.
Kasus proyek Kementerian PUPR terbongkar setelah KPK menangkap Damayanti, Direktur Utama PT. Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir, serta dua rekan Damayanti: Dessy A. Edwin dan Julia Prasetyarini. Mereka dicokok pada Rabu 13 Januari 2016.
Politikus PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah disangka menerima suap dari Abdul Khoir. Damayanti diduga menerima suap hingga ratusan ribu dolar Singapura secara bertahap melalui staf bernama Dessy dan Julia.
Uang yang diberikan Abdul Khoir kepada Damayanti diduga untuk mengamankan proyek Kementerian PUPR tahun anggaran 2016. Proyek tersebut merupakan proyek pembangunan jalan di Maluku yang digarap Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional IX.
Damayanti, Dessy, dan Julia dijadikan tersangka penerima suap. Mereka dikenakan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Sementara Abdul Khoir menjadi tersangka pemberi suap. Dia dikenakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Susanti mengaku mengenal Damayanti ketika berlangsung acara sosialisasi empat pilar di Kendal, Jawa Tengah, pada 29 November 2015. Acara ini didanai oleh Damayanti.
"Kenalnya waktu itu saja ada sosialisasi, itu sosialisasi mendadak. Kenalnya di situ," kata Susanti di gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan mengaku tak pernah berhubungan dengan Damayanti setelah acara itu. Dia juga mengaku tak tahu soal proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang menjerat Damayanti.
Penyidik KPK, kata dia, tak banyak membahas proyek Kementerian PUPR. Susanti mengaku hanya ditanya empat sampai lima pertanyaan terkait perkenalannya dengan Damayanti di Kendal.
"Ditanya kenalnya gimana, kapan, kronologisnya gimana. Itu saja," kata Ketua DPC PDI Perjuangan Kendal.
Kasus proyek Kementerian PUPR terbongkar setelah KPK menangkap Damayanti, Direktur Utama PT. Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir, serta dua rekan Damayanti: Dessy A. Edwin dan Julia Prasetyarini. Mereka dicokok pada Rabu 13 Januari 2016.
Politikus PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah disangka menerima suap dari Abdul Khoir. Damayanti diduga menerima suap hingga ratusan ribu dolar Singapura secara bertahap melalui staf bernama Dessy dan Julia.
Uang yang diberikan Abdul Khoir kepada Damayanti diduga untuk mengamankan proyek Kementerian PUPR tahun anggaran 2016. Proyek tersebut merupakan proyek pembangunan jalan di Maluku yang digarap Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional IX.
Damayanti, Dessy, dan Julia dijadikan tersangka penerima suap. Mereka dikenakan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Sementara Abdul Khoir menjadi tersangka pemberi suap. Dia dikenakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
Terkini
-
Prabowo Kumpulkan Eks Menlu: Apa Saja Poin Krusial Arah Politik Luar Negeri di Istana?
-
Partai Demokrat Desak Angka Ambang Batas Parlemen Dikecilkan, Herman Khaeron Ungkap Alasannya!
-
Temui Putra Mahkota Abu Dhabi, Megawati Kenalkan Pancasila sebagai Falsafah Pemersatu Bangsa
-
Saat Indonesia Jadi Pasar Rokok Terbesar ASEAN, Siapa Lindungi Generasi Muda?
-
OTT Beruntun di Kemenkeu, KPK Sita 3 Kg Emas dan Duit Miliaran dari Penangkapan Pejabat Bea Cukai
-
Edit Logo NU dan Disamakan dengan Simbol Yahudi, Warga Laporkan Akun X ke Polda Metro Jaya
-
Mensesneg Bocorkan Jadwal Pelantikan Hakim MK Baru Adies Kadir
-
PM Australia Anthony Albanese ke Jakarta Besok, Cek 8 Ruas Jalan yang Kena Rekayasa Lalin
-
BPJS PBI Dinonaktifkan Tanpa Pemberitahuan, Puluhan Pasien Cuci Darah Jadi Korban Ditolak RS
-
Bocah 10 Tahun di Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA Sentil Kerapuhan Sistem Perlindungan Anak Daerah