News / Nasional
Senin, 04 April 2016 | 07:33 WIB
Salah satu olah TKP tewasnya anggota Santoso. [Antara]

Suara.com - Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Rudy Sufahriady, di Poso, Minggu (3/4/2016), mengatakan bahwa kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso alias Abu Wardah, sangat erat hubungannya dengan kelompok radikal yang ada di Filipina.

"Berdasarkan senjata yang digunakan, yang jelas kelompok Santoso cs ini dipastikan erat kaitannya dengan kelompok radikal di negara Filipina. Sebab diketahui, beberapa orang anggotanya pernah berlatih strategi perang di sana," ungkapnya kepada sejumlah wartawan, di Desa Watutau, Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso.

Rudy mengakui, soal kepemilikan senjata, hal itu telah dipastikannya setelah dirinya datang langsung dan mengecek kebenarannya di Filipina. Lebih jauh diketahui, sejumlah senjata yang dimiliki oleh kelompok Santoso ada yang baru dipasok, namun ada juga senjata yang lama.

Menurut Kapolda, terungkapnya persenjataan kelompok Santoso setelah anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap tersangka Witadi alias Iron asal Bima, pada 28 Mei 2015 lalu, di kompleks Pasar 45, Jalan Dotulong Lasut, Taman Kesatuan Bangsa Manado, Sulawesi Utara.

Dari penangkapan itu, teridentifikasi kuat senjata yang digunakan merupakan buatan Filipina. Hal itu setelah disesuaikan oleh hasil tangkapan terhadap salah seorang kelompok Santoso oleh tim Satgas Tinombala TNI Polri beberapa waktu lalu.

Rudy menyebutkan, tersangka Witadi alias Iron, pada akhir tahun 2013 mengikuti kegiatan Tadrib Asykari yang dilaksanakan oleh Santoso dan Daeng Koro di Poso. Ia juga memberikan fasilitas dan menyuruh B alias R, A alias Z, Tiger alias Anton, untuk berangkat ke Poso.

Sebelumnya, Polda Sulawesi Tengah kembali merilis 29 orang anggota kelompok Santoso alias Abu Wardah yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), di mana tiga di antaranya merupakan perempuan.

Kapolda mengatakan bahwa sebelumnya jumlah DPO terorisme anggota Santoso adalah sebanyak 41 orang. Namun, seiring berjalannya Operasi Tinombala 2016, sebanyak 10 orang dinyatakan tewas dan dua orang telah ditangkap hidup-hidup.

"Artinya, jumlah saat ini tersisa 29 orang yang masuk dalam DPO terorisme di wilayah Poso," ungkapnya. [Antara]

Load More