Wisatawan mancanegara asal Serawak, Malaysia, Majidi Oma, senang bisa liburan ke Dusun Meliau, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. [suara.com/Bowo Raharjo]
Wisatawan mancanegara asal Serawak, Malaysia, Majidi Oma, senang bisa liburan ke Dusun Meliau, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Dia sudah belasan kali ke sana, hanya untuk memancing ikan.
"Kami bersyukur ke sini jenis ikannya banyak. Tapi selama saya ke sini ada berapa spesies yang saya belum dapat, ikan arwana, snakehead (ikan toman)," ujar Majidi di Rumah Betang, Dusun Meliau, Selasa (31/5/2016).
Dia sudah belasan kali ke sana, hanya untuk memancing ikan.
"Kami bersyukur ke sini jenis ikannya banyak. Tapi selama saya ke sini ada berapa spesies yang saya belum dapat, ikan arwana, snakehead (ikan toman)," ujar Majidi di Rumah Betang, Dusun Meliau, Selasa (31/5/2016).
Pengalaman seperti yang didapatkan Majidi merupakan tujuan dari program ekowisata di Dusun Meliau. Berwisata sekaligus menjaga kelestarian lingkungan merupakan tujuannya. Program ini atas bantuan World Wide Fund for Nature.
Majidi bercerita tempat memancing di Dusun Meliau dikelola oleh Kelompok Pengelola Pariwisata Kaban Mayas.
Majidi menambahkan banyak maniak mancing yang datang ke sana. Bahkan datang dari berbagai negara.
"Saya pertama masuk ke sini dari tahun 2013, dulu WC-nya ada di luar, sekarang sudah ada di dalam rumah, ini kemajuan," katanya.
Majidi senang dengan aturan yang dibuat oleh suku Dayak Iban. Yaitu dilarang membawa ikan pulang pulang ke rumah dan dilarang menggunakan umpan jangkrik dan kodok.
Dia sangat menghormati aturan lokal tersebut. Baginya itu bagian dari upaya warga setempat untuk menjaga konservasi kawasan.
Majidi senang dengan aturan yang dibuat oleh suku Dayak Iban. Yaitu dilarang membawa ikan pulang pulang ke rumah dan dilarang menggunakan umpan jangkrik dan kodok.
Dia sangat menghormati aturan lokal tersebut. Baginya itu bagian dari upaya warga setempat untuk menjaga konservasi kawasan.
Jantung Borneo merupakan program konservasi dan pembangunan berkelanjutan di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan dan juga mencakup sebagian wilayah Brunei Darussalam.
"Saya rasa harus jaga kelestarian ikan di sini, kalau pupus orang nggak akan datang lagi, termasuk saya. Jadi harus jaga kelestariannya," kata Majidi.
Baginya tak masalah harga paket wisata memancing di Dusun Meliau naik. Dia setuju dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan warga lokal.
"Saya rasa harus jaga kelestarian ikan di sini, kalau pupus orang nggak akan datang lagi, termasuk saya. Jadi harus jaga kelestariannya," kata Majidi.
Baginya tak masalah harga paket wisata memancing di Dusun Meliau naik. Dia setuju dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan warga lokal.
"Kalau kelestariannya selalu terjaga, kalau bisa paketnya untuk dinaikkan, ini pasti banyak orang yang datang," kata lelaki yang bekerja di salah satu perusahaan listrik di Malaysia.
Ketua Kelompok Pengelola Pariwisata Kaban Mayas, Sodek Asmoro, mengatakan sejauh ini belum memiliki paket wisata khusus, hanya saja biasanya wisatawan lokal dikenakan biaya Rp400 ribu untuk dua orang dan Rp550 ribu untuk wisatawan mancanegara.
"Harga segitu sudah termasuk penginapan di rumah Betang untuk dua orang dan makan selama 3 kali sehari. Tapi nanti akan ada paket wisata yang baru kok" kata Sodek.
Tag
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029
-
Gaji Jurnalis Pemula Disorot: Idealnya Rp 9,1 Juta, Faktanya Masih Banyak di Bawah UMR
-
PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota
-
Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik
-
Hadirkan Raisa hingga Yura Yunita, Pagelaran Sabang Merauke 2026 Siap Guncang Indonesia Arena!
-
Terseret Pusaran Narkoba, Pemprov DKI Jakarta Segel Permanen Whiterabit PIK
-
Swadaya Warga Matraman Lindungi Ibu Hamil dan Anak dari Asap Rokok
-
Dokumen Pentagon Bocor Ungkap Rencana AS Hukum Spanyol dan Inggris Terkait Perang di Iran
-
Rapor Merah Pelayanan Hijau Jakarta: Kurang Armada, Ribuan Permohonan Pemangkasan Pohon Antre!
-
Tercekik Harga BBM, Transjakarta Siap Akhiri Era Tiket Murah Rp 3.500?