Suara.com - Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan pada Selasa (10/3/2026) bahwa AS akan mengakhiri konflik dengan Iran sesuai dengan jadwal dan pilihan waktu yang ditentukan oleh Presiden Donald Trump.
Pernyataan ini muncul di tengah silang pendapat mengenai durasi kampanye militer yang kini telah memasuki hari ke-11.
Hegseth menolak memberikan penilaian spesifik mengenai sisa durasi perang. Namun, ia menekankan bahwa hari Selasa menjadi hari dengan intensitas serangan udara paling tinggi sejak konflik dimulai.
"Presiden telah menetapkan misi yang sangat spesifik, dan tugas kami adalah menjalankan misi tersebut tanpa henti. Dia yang memegang kendali penuh dan menentukan kapan tujuan tercapai," ujar Hegseth di Pentagon.
Narasi mengenai durasi perang ini tampak simpang siur. Di satu sisi, Presiden Trump menyebut perang ini "sudah hampir selesai" dalam wawancara dengan CBS News.
Namun, akun media sosial Departemen Pertahanan AS justru mengunggah pesan yang berlawanan: "We have Only Just Begun to Fight" (Kita baru saja mulai bertempur).
Ketika didesak mengenai durasi perang, Trump memberikan jawaban yang abu-abu.
"Bisa dikatakan keduanya. Ini adalah awal dari pembangunan negara baru, tetapi mereka [Iran] sudah tidak memiliki angkatan laut, angkatan udara, maupun peralatan anti-pesawat. Saya bisa menyebut ini kesuksesan besar sekarang, atau kita bisa melangkah lebih jauh, dan kita akan melangkah lebih jauh," kata Trump.
Ia berulang kali menyebut konflik ini sebagai "ekskursi jangka pendek" yang akan berakhir "sangat segera".
Baca Juga: Warga Tel Aviv Saat Ini: Di Langit Hujan Rudal Iran, Di Bungker Dipenuhi Pecandu Narkoba
Pemerintah AS telah menetapkan empat objektif utama dari serangan militer ini:
- Memusnahkan kemampuan rudal balistik Iran.
- Melumpuhkan angkatan laut Iran.
- Memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
- Menghentikan dukungan Iran terhadap terorisme di luar perbatasan.
Meski begitu, rencana pasca-perang atau skenario apa yang akan terjadi setelah pertempuran berakhir masih belum jelas.
Trump menyatakan bahwa ia bisa menyatakan kemenangan kapan saja, meskipun rezim Iran saat ini secara teknis masih berkuasa dan cadangan uranium yang diperkaya masih tersimpan di negara tersebut.
Trump juga memberikan pernyataan kontroversial terkait suksesi kepemimpinan Iran pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Trump secara terbuka menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru, harus mendapatkan "persetujuan" dari AS agar posisinya aman.
"Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," ucap Trump.
Sementara itu, Hegseth membantah bahwa AS akan terjebak dalam mission creep atau keterlibatan jangka panjang. Ia menegaskan bahwa pendekatan kali ini berbeda dengan invasi Irak tahun 2003.
Berita Terkait
-
Infantino Bawa Pesan Trump untuk Iran: Izin, Kalian Tetap Main kan di Piala Dunia 2026?
-
Donald Trump Kini Persilakan Timnas Iran Tampil di Piala Dunia 2026
-
Zionis Israel Makin Tersiksa dengan Rudal Iran, Tidur Makin Tak Nyenyak Takut 'Lewat' Mendadak
-
Ketegangan Selat Hormuz: Kapal Kontainer Diserang, Dua Tanker Pertamina Terjebak
-
Menko Zulhas: Konflik Iran-AS-Israel Tak Bakal Goyang Pasokan Pangan RI
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Motif Konyol 'Prank' Damkar Semarang Terungkap: Kesal Debitur Susah Ditagih Utang Rp2 Juta!
-
WHO Sebut Butuh Rp172 Triliun untuk Pulihkan Sistem Kesehatan Gaza dalam 5 Tahun
-
Kekerasan Anak di Little Aresha, Pengurus Hingga Pemilik Terancam Hukuman Berat
-
Bidik Top 50 Kota Global, Jakarta Resmi Jalin Kerja Sama Sister City dengan Jeju Korsel
-
SPAI Desak Pemerintah: Hapus Perbudakan Modern, Akui Pengemudi Ojol Sebagai Pekerja Formal!
-
Bukan Intervensi! Eks Penyidik: Usul KPK Capres Wajib Kader Partai Bentuk Kontribusi Pemikiran
-
Setelah 21 Tahun, Akankah Transjakarta Akhiri Era Tiket Murah Rp 3.500?
-
Misi Kemanusiaan Miss Cosmo 2025: Perkuat Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis di Indonesia
-
Amerika Serikat Perluas Blokade Iran ke Selat Hormuz Hingga Samudra Pasifik dan Hindia
-
Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun