News / Internasional
Rabu, 11 Maret 2026 | 16:08 WIB
Donald Trump (tengah) [White House]

Suara.com - Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan pada Selasa (10/3/2026) bahwa AS akan mengakhiri konflik dengan Iran sesuai dengan jadwal dan pilihan waktu yang ditentukan oleh Presiden Donald Trump.

Pernyataan ini muncul di tengah silang pendapat mengenai durasi kampanye militer yang kini telah memasuki hari ke-11.

Hegseth menolak memberikan penilaian spesifik mengenai sisa durasi perang. Namun, ia menekankan bahwa hari Selasa menjadi hari dengan intensitas serangan udara paling tinggi sejak konflik dimulai.

"Presiden telah menetapkan misi yang sangat spesifik, dan tugas kami adalah menjalankan misi tersebut tanpa henti. Dia yang memegang kendali penuh dan menentukan kapan tujuan tercapai," ujar Hegseth di Pentagon.

Narasi mengenai durasi perang ini tampak simpang siur. Di satu sisi, Presiden Trump menyebut perang ini "sudah hampir selesai" dalam wawancara dengan CBS News.

Namun, akun media sosial Departemen Pertahanan AS justru mengunggah pesan yang berlawanan: "We have Only Just Begun to Fight" (Kita baru saja mulai bertempur).

Ketika didesak mengenai durasi perang, Trump memberikan jawaban yang abu-abu.

"Bisa dikatakan keduanya. Ini adalah awal dari pembangunan negara baru, tetapi mereka [Iran] sudah tidak memiliki angkatan laut, angkatan udara, maupun peralatan anti-pesawat. Saya bisa menyebut ini kesuksesan besar sekarang, atau kita bisa melangkah lebih jauh, dan kita akan melangkah lebih jauh," kata Trump.

Ia berulang kali menyebut konflik ini sebagai "ekskursi jangka pendek" yang akan berakhir "sangat segera".

Baca Juga: Warga Tel Aviv Saat Ini: Di Langit Hujan Rudal Iran, Di Bungker Dipenuhi Pecandu Narkoba

Pemerintah AS telah menetapkan empat objektif utama dari serangan militer ini:

  • Memusnahkan kemampuan rudal balistik Iran.
  • Melumpuhkan angkatan laut Iran.
  • Memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
  • Menghentikan dukungan Iran terhadap terorisme di luar perbatasan.

Meski begitu, rencana pasca-perang atau skenario apa yang akan terjadi setelah pertempuran berakhir masih belum jelas.

Trump menyatakan bahwa ia bisa menyatakan kemenangan kapan saja, meskipun rezim Iran saat ini secara teknis masih berkuasa dan cadangan uranium yang diperkaya masih tersimpan di negara tersebut.

Trump juga memberikan pernyataan kontroversial terkait suksesi kepemimpinan Iran pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Trump secara terbuka menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru, harus mendapatkan "persetujuan" dari AS agar posisinya aman.

"Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," ucap Trump.

Sementara itu, Hegseth membantah bahwa AS akan terjebak dalam mission creep atau keterlibatan jangka panjang. Ia menegaskan bahwa pendekatan kali ini berbeda dengan invasi Irak tahun 2003.

Load More