Suara.com - Sebuah laporan hasil penyelidikan mengenai keterlibatan Inggris dalam Perang Irak, lebih dari satu dekade yang lalu, diungkap ke publik pada Rabu (6/7/2016) waktu setempat. Laporan tersebut pada intinya menyalahkan para politisi Inggris, militer, dan badan intelijen sebagai dalang konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi di tanah Irak.
Lansiran The Washington Post, laporan tersebut merupakan hasil kerja keras selama tujuh tahun dari sebuah tim penyidik Inggris yang diketuai pensiunan pegawai negeri John Chilcot. Tim ini diberi akses penuh terhadap dokumen Inggris, termasuk memo-memo yang dikirim oleh Perdana Menteri Inggris saat itu, Tony Blair, kepada Presiden Amerika Serikat kala itu, George W. Bush.
Inggris bergabung dengan koalisi pimpinan Amerika Serikat untuk menginvasi Irak yang dikuasai pemerintahan Saddam Hussein pada tahun 2003. Blair, PM Inggris kala itu, memerintahkan pengiriman 45.000 tentara Inggris ke Perang Irak, kendati sejumlah langkah diplomatis masih tersedia, demikian diungkap oleh laporan sepanjang 2,6 juta kata tersebut.
Kini, 13 tahun pascainvasi, Irak masih saja kacau balau. Sebagian besar wilayahnya malah jatuh ke tangan ISIS.
Banyak warga Inggris yang menginginkan Blair untuk diseret ke meja hijau atas keputusannya mengambil langkah militer. Keputusan Blair untuk membantu AS menginvasi Irak berujung pada gugurnya 179 tentara Inggris dan lebih dari 150.000 warga sipil Irak selama enam tahun pascainvasi.
Laporan tersebut juga menyebutkan, Blair berpedoman pada informasi intelijen yang salah soal keberadaan "senjata pemusnah massal" yang dimiliki penguasa Saddam Hussein. Dikatakan di situ, informasi soal "senjata pemusnah massal" hanyalah pembenaran untuk melakukan perang semata.
"Ini adalah sebuah intervensi yang teramat salah, dengan konsekuensi yang dirasakan hingga saat ini," kata ketua tim penyidik, John Chilcot.
Laporan itu juga memuat memo Blair terhadap Bush tertanggal 28 Juli 2002, atau delapan bulan sebelum invasi. Lewat memo tersebut, Blair mengatakan kepada Bush: "Saya akan mendukung Anda, apapun keputusannya. Tapi ini adalah saat yang tepat untuk menilai kesulitan-kesulitannya".
Namun, laporan tersebut tidak menyebut bahwa perang tersebut adalah perang yang ilegal. Hanya dikatakan bahwa dasar hukum dari tindakan militer yang dilakukan, masih jauh dari kata memuaskan.
Di luar gedung di mana Chilcot menyampaikan temuan-temuan timnya, para demonstran meneriakkan, "Tony Blair, penjahat perang".
Reg Keys, ayah dari Kopral Thomas Keys, serdadu Inggris yang gugur di Irak, mengatakan, "Kami semua tahu siapa pemain kuncinya yang terlibat dalam episode memalukan dalam perpolitikan Inggris. Kami ingin melihat mereka semua dimintai pertanggungjawabannya".
Pembelaan Blair
Dalam konferensi pers selama dua jam, Blair menjelaskan keputusannya untuk mendukung Bush dan membantu AS perang ke Irak pada bulan Maret 2003.
"Saya tidak menyesatkan negara ini. Tidak ada kebohongan, tidak ada penipuan," kata mantan PM Inggris tersebut.
"Namun memang ada sebuah keputusan, dan itu adalah keputusan kontroversial... untuk menggulingkan Saddam (Hussein) dan itu dilakukan bersama Amerika. Saya yakin saya mengambil keputusan yang benar dan dunia menjadi tempat yang lebih baik dan aman sesudahnya," sambung Blair.
Blair bersikeras, invasi ke Irak bukan pemicu terorisme yang terjadi belakangan ini. Ia menuding kekuatan dari luar Irak yang menghancurkan Irak, serta kemunculan ISIS.
"Penilaian intelijen yang dibuat pada masa itu ternyata salah. Hasilnya lebih parah dan mematikan ketimbang yang kami bayangkan," kata Blair.
"Untuk itu semua, saya mengungkapkan kesedihan, penyesalan, dan permintaan maaf lebih daripada yang Anda tahu," lanjutnya.
Inggris memalukan di Perang Irak
Laporan Chilcot juga memuat beragam kesalahan yang dibuat Inggris. Selain perang yang tidak direncanakan dengan baik, pemberontakan yang terjadi menyusul perang juga disebut sebagai dampak buruk invasi.
Sampai saat ini, Irak masih saja diporak-porandakan oleh kekerasan. Akhir pekan lalu, 250 orang tewas akibat serangan bom bunuh diri di Baghdad, yang terparah sejak invasi AS dan Inggris ke Irak.
"Saya berharap Saddam kembali berkuasa, ia mengeksekusi banyak anggota keluarga saya namun ia masih lebih baik ketimbang para politisi dan ulama yang membuat Irak seperti sekarang ini," kata Kadhim Hassan al-Jabouri, seorang warga Irak yang terekam kamera ikut menghancurkan patung Saddam Hussein dengan palu sesaat setelah invasi terjadi tahun 2003 silam.
Jika tidak ditujukan untuk menyeret orang-orang yang bertanggungjawab dalam segala kekacauan tersebut, lalu untuk apa laporan itu dibuat dan diungkap? Perdana Menteri Inggris David Cameron, di hadapan parlemen mengatakan, "Kami tidak bisa memutar waktu kembali, namun kami menjamin bahwa pemerintah Inggris akan belajar dari invasi dan segala sesuatu yang terjadi setelahnya".
(Reuters)
Berita Terkait
-
Bukan di Istana, Prabowo Pilih Terima Tony Blair dengan Penuh Kekeluargaan di Rumah Pribadi
-
Kekayaan Tony Blair yang Ditunjuk Jadi Pemimpin Sementara Gaza
-
Siapa Tony Blair? Mendadak Ditunjuk Jadi Pemimpin Transisi Gaza
-
DPR: kalau Tony Blair Institute Terlibat Pengusiran Warga Gaza, Batalkan Kerja Sama dengan IKN!
-
Lembaga Inggris yang Bantu Bangun IKN Terlibat Rencana Pengusiran Warga Palestina di Gaza
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung