Suara.com - Lebih dari 160 orang tewas dalam kekerasan yang terjadi di tengah-tengah upaya kudeta terhadap Presiden Turki Tayyip Erdogan oleh sebuah faksi militer di negara itu.
Pasukan yang loyal terhadap Erdogan mematahkan upaya kudeta yang dilancarkan pada Jumat (15/7/2016) malam. Hanya dalam waktu singkat, pemerintah mampu kembali menguasai keadaan.
Presiden Erdogan juga menyatakan bahwa kup yang gagal merupakan "pengkhianatan" dan memperingatkan bahwa pihak-pihak yang mendalangi kudeta harus menerima konsekuensinya.
Presiden menuding mantan sekutunya, ulama Fethullah Gulen yang mengasingkan diri di Amerika Serikat. Erdogan mengatakan, "struktur paralel" yang mendukung Gulen, berada di belakang upaya kudeta.
Siapa Fethullah Gulen?
Gulen, yang dituding otak dari kudeta, tidak bermukim Turki, melainkan di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengasingkan diri di Negeri Abang Sam sejak tahun 1999.
Lelaki berusia 75 tahun itu menjadi ulama selama bertahun-tahun dan pernah disebut sebagai salah satu tokoh Muslim ternama di dunia.
Lelaki kelahiran Ezurum, Turki pada tahun 1941 ini pernah menjadi pendakwah yang ternama di seluruh negeri. Ia menjadi amat terkenal di Turki dan membuka banyak sekolah di Turki, serta di sejumlah negara di Asia dan Afrika.
Gulen memimpin gerakan Hizmet, yang diyakini memiliki jutaan pendukung di Turki, termasuk orang-orang yang memiliki posisi penting di pemerintahan. Gerakan tersebut meluas ke seluruh dunia, tidak hanya di Turki saja.
Gerakan Hizmet mendorong adanya dialog antaragama. Gulen merupakan sosok ulama yang pernah berdialog dengan mendiang pemimpin Vatikan, Paus Yohanes Paulus II, dan sejumlah pemuka Yahudi ternama.
Gulen pernah menjadi sekutu Erdogan. Namun, hubungan mereka meregang ketika Erdogan menuding Gulen berada di balik penyelidikan korupsi terhadap sejumlah tokoh pemerintahan pada tahun 2013 lalu.
Sebagai balasan, Erdogan menangkapi jurnalis, pejabat militer dan polisi yang diyakini pengikut gerakan Gulen. Ia pun menutup sejumlah sekolah swasta yang didirikan Hizmet.
Pada tahun 2014, Turki mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Gulen atas tuduhan upaya menggulingkan pemerintahan. Namun, Gulen membantah tudingan tersebut. Tahun lalu, Gulen masuk daftar orang paling dicari oleh Turki.
Kini, menyusul kudeta gagal, pemerintah kembali menekankan tuduhan tersebut. Seorang jaksa pemerintah mengatakan, ada indikasi keterlibatan langsung Gulen dan gerakannya dalam kudeta ini.
Gulen sendiri, melalui sebuah pernyataan yang dikeluarkan kelompok Alliance of Shared Values, sebuah afiliasi Hizmet, mengutuk upaya kudeta tersebut dan membantah terlibat.
"Saya mengutuk keras, upaya kudeta militer di Turki. Pemerintah harus direbut melalui sebuah proses pemilu yang bebas dan adil, bukan lewat kekerasan. Saya berdoa untuk Turki, untuk masyarakat Turki, dan untuk semua orang yang saat ini berada di Turki agar situasi ini segera selesai dengan damai dan cepat," kata Gulen.
"Sebagai seseorang yang mengalami sejumlah upaya kudeta dalam lima dekade terakhir, amat menyakitkan dituduh terlibat dalam kudeta tersebut. Saya membantah tuduhan tersebut," ujar Gulen.
Menurut Alliance, saat ini Gulen menikmati masa tua di Pennsylvania untuk membaca, menulis, dan berdoa. (Independent)
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
Ikrar Nusa Bakti Desak Prabowo Segera Reshuffle Kabinet
-
Roy Suryo Siapkan Gibran Black Paper, Soroti Riwayat Pendidikan hingga Legalitas Ijazah Wapres
-
KPK soal Kepala Daerah Dipilih DPRD: Tekan Biaya Politik, Cegah Korupsi
-
Tabrak Lari di Tambora Tewaskan Dua Orang, Mobil Pelaku Ringsek Ditabrak Kereta
-
Pesepeda Luka Kepala Ditabrak Mobil Listrik di Jalan Sudirman
-
Puncak Musim Hujan, BMKG Minta Warga DIY Waspadai Banjir dan Longsor
-
Demokrat Nilai Langkah Hukum SBY Jadi Pendidikan Politik Lawan Disinformasi
-
Pemerintah Pusat Puji Gerak Cepat Gubernur Bobby Nasution Bangun Huntap Korban Bencana
-
Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Kemen PPPA Pastikan Hak dan Pendidikan Anak Tetap Terpenuhi
-
Reklamasi Terintegrasi, Wujud Komitmen Praktik Pertambangan yang Bertanggung Jawab