Suara.com - Jelang Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, yang Jumat (5/8) besok segera resmi dibuka, salah satu negara dengan tradisi kuat perolehan medali, Rusia, ditimpa masalah besar yang tak lain adalah skandal doping. Hingga saat ini, belum dipastikan jumlah persis yang dilarang dan mana yang diperbolehkan ikut Olimpiade, namun setidaknya sudah lebih dari 110 atlet Rusia yang tak boleh berpartisipasi di Rio 2016.
Salah satu dari sedikit atlet Rusia yang cukup "beruntung" lolos tes doping dan diperbolehkan tampil itu adalah Darya Klishina. Dia adalah seorang atlet nomor lompat jauh (atletik) yang tergolong memiliki prestasi, serta masih relatif muda. Hanya saja ternyata, tidak saja dalam posisi dilematis karena semua rekannya yang lain di cabang atletik justru tak ikut, Klishina juga kini berada di bawah tekanan mental tinggi.
Penyebabnya adalah sebutan "pengkhianat" yang justru disematkan sejumlah pihak di Rusia terhadapnya. Ya, itu terjadi lantaran Klishina yang dinilai aman dari doping baik oleh IAAF maupun IOC, hanya boleh tampil kali ini di bawah "bendera" independen --karena cabang atletik telah melarang keikutsertaan tim Rusia secara keseluruhan (blanket ban).
Pada 10 Juli lalu, usai mendapat kabar dirinya boleh berpartisipasi di Rio 2016, Klishina yang juga seorang model ini konon menulis ungkapan sukacita di laman Facebook-nya. Intinya, dia menyatakan merasa "sangat bahagia" telah diperbolehkan berkompetisi. Sayang, selain sejumlah dukungan yang muncul, sederet kritikan dan hujatan ternyata juga harus diterimanya usai ungkapan tersebut.
Bahkan lebih jauh, sejumlah media lantas memberitakan pula pandangan dan komentar miring warga Rusia terhadap keikutsertaan Klishina tersebut. Salah satunya, sebagaimana antara lain ditulis The Guardian, adalah koran Argumenty I Fakty yang mengumpulkan berbagai reaksi negatif di media sosial. Koran itu memasang artikel berjudul: "One Against All, How Athlete Darya Klishina Became An 'Enemy Of The People' (Satu Lawan Semua, Bagaimana Atlet Darya Klishina Menjadi 'Musuh Publik').
"Tak ada sepatah kata pun tentang atlet Rusia lainnya, meskipun kamu satu-satunya yang dapat lampu hijau ke Rio dari IAAF. Di mana solidaritas(mu)?" tulis koran itu, mengutip salah satu komentar dari seseorang bernama Aleksandr Agafanov.
Keesokannya, seorang jurnalis kenamaan yang berbasis di (Istana) Kremlin, Dmitry Smirnov, pun ikut melontarkan kritik pedas, bahkan membandingkan Klishina dengan sebagian oknum Uni Soviet yang bekerja sama dengan Nazi (di zaman perang dulu) lantaran iming-iming tertentu.
"Makanan hangat, (tempat) istirahat dan bantuan medis menantimu di (bawah) kekuasaan Jerman," tulisnya di Twitter.
Menjawab berbagai kritikan dan hinaan itu, Klishina pun coba memberikan penjelasan. Intinya, dia tetap merasa tidak ada salahnya ikut serta di Olimpiade Rio sebagai atlet independen, walau mengakui juga beratnya tekanan perasaan yang harus ia rasakan karena kini dimusuhi banyak orang.
"Jujur saja, segala sesuatunya jauh lebih damai sebelum situasi saat ini. Saya akan senang jika kami semua (atlet) bisa diperbolehkan berkompetisi," ungkap atlet berusia 25 tahun itu.
"Tapi kini, saya berada dalam tekanan dan di bawah sorotan ketat, yang (sayangnya) tidak selalu positif dan mendukung. Jadi, saat ini, situasinya bagi saya lebih buruk ketimbang hari kemarin," sambungnya.
Klishina yang terlahir di Tver, Rusia, pada 15 Januari 1991 lalu, sebenarnya bukan sosok baru di dunia olahraga Rusia. Perempuan bertinggi tubuh 180 cm ini bahkan sudah membela bendera negaranya sejak masih muda belia, serta menorehkan berbagai prestasi.
Di antara kejuaraan yang mencatatkan nama Klishina sebagai peringkat pertama (nomor lompat jauh), sebut saja World Youth Championships 2007 di Ostrava, Ceko; European Youth Olympics 2007 di Beograd, Serbia; European Junior Championships 2009 di Novi Sad, Serbia; European Indoor Championships 2011 dan 2013 di Paris dan Gothenburg; European U23 Championships 2011 di Ostrava; hingga ajang Universiade 2013 di Kazan, Rusia. Terakhir, saat ikut Kejuaraan Dunia 2015 di Beijing lalu, Klishina meraih posisi ke-10.
Berita Terkait
-
Apa Kabar Mykhailo Mudryk? Menghilang Gegara Kasus Doping Ternyata Sudah Alih Profesi
-
Jalan Panjang Paul Pogba: dari Sanksi Doping sampai Kembali Memiliki Klub
-
Kontingen Ukraina Girang, Atlet Rusia di Olimpiade Paris Terbatas dan Tak Wakili Negaranya
-
AIN, Panji Atlet Rusia-Belarus di Olimpiade Paris 2024
-
Antisipasi Kecelakaan, Sopir Angkutan Mudik Wajib Jalani Tes Bebas Doping hingga Alkohol
Terpopuler
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Heran Febrie Adriansyah Dipanggil sebagai Tersangka, Pengacara: Baru Kali Ini Kami Lihat
- Nasi di Rice Cooker Cepat Bau dan Kuning? Begini 10 Cara Mengatasinya
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
Tak Sekadar Energi Bersih, Panas Bumi Punya Peluang Bisnis
-
Puntung Rokok Picu Kebakaran di Pulau Tidung
-
Heboh Patahan Gempa Aktif Membelah Surabaya, Pakar Geologi ITS: Jangan Panik, Ini Faktanya
-
Yuni Kartika Soroti Potensi Atlet Putri di Audisi Umum PB Djarum 2026
-
Perbedaan Sunscreen Serum vs Sunscreen Cream, Mana yang Lebih Cepat Meresap?
-
DPR Desak Bea Cukai Bongkar Bos Rokok Ilegal, Jangan Cuma Kejar Pengecer
-
IHSG Masih Anjlok di Level 6.500 Pagi Ini, Pantau Saham ASII
-
Pesan PSSI untuk Bobotoh jelang Persija Jakarta vs Persib, Yunus Nusi: Demi Kampanye Persaudaraan
-
Digitalisasi Perlinsos Diperluas, Dibangun Atas Dasar Keadilan
-
Buntut Keracunan Massal, 172 Dapur MBG di Pati Bakal Disidak!