Suara.com - Sebuah lembaga humaniter Migrant Offshore Aid Station (MOAS) menyatakan tiga anak asal Suriah mati tenggelam bersama tiga orang dewasa saat kapal yang membawa pengungsi menuju Eropa terbalik di perairan Libya.
Mayat dua anak, berusia delapan bulan dan lima tahun, ditemukan di perairan berjarak sekitar 22 mil laut dari Libya pada Kamis lalu. "Mereka adalah penumpang kapal kecil bermuatan 27 warga Suriah yang terbalik dan tenggelam," kata pernyataan tersebut.
Mayat dua orang perempuan dan satu laki-laki juga ditemukan. Namun demikian, satu anak laki-laki berusia lima tahun yang juga menaiki kapal yang sama hingga kini belum ditemukan.
MOAS saat ini mengoperasikan dua kapal penyelamat di Laut Tengah yang terletak di antara Italia dan Libya.
Sementara itu 21 penumpang kapal yang lain berhasil diselamatkan oleh sebuah kapal nelayan dan sebuah kapal milik organisasi humaniter "Proactiva Open Arms". Mereka saat ini sudah berpindah ke atas kapal bernama Responder milik MOAF.
Pada saat yang sama, media masa tengah menyoroti nasib warga sipil Suriah di tengah perang menyusul munculnya video menyayat hati tentang Omran Daqneesh, seorang anak laki-laki berusia lima tahun, dengan tubuh penuh debu. Omran berhasil diselamatkan dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat perang di Aleppo.
Lebih dari 500 pendatang berhasil diselamatkan dari kapal berkualitas buruk dengan penumpang melebihi kapasitas di perairan antara Libya dan Italia. Termasuk di antara mereka adalah 146 orang yang berjejal di kapal karet setengah kempes.
Pada tahun lalu, pengungsi asal Suriah yang menyeberang ke Eropa lebih memilih untuk mengikuti jalur laut dari Turki menuju Yunani yang lebih pendek. Namun rute tersebut sudah ditutup pada tahun ini, sehingga memaksa sebagian pengungsi untuk mengikuti jalur yang lebih panjang.
Ribuan anak telah menjadi korban dalam perang saudara di Suriah yang sudah berlansung selama lima tahun. Di sisi lain, lebih dari 3.000 pendatang tewas di Laut Tengah pada tahun ini, demikian perkiraan Organisasi Internasional untuk Migrasi.
Sekitar seperempat dari semua penumpang kapal migran sepanjang 2016--dari sekitar 100.000 pendatang yang tiba di Italia--masih berusia anak-anak, kata lembaga pengunsi PBB, UNHCR. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
PSI Incar Jawa Tengah Jadi Kandang Gajah, Hasto PDIP Kasih Respons Santai, Begini Katanya
-
Rakernas I 2026: PDIP Bakal Umumkan Sikap Resmi Terkait Wacana Pilkada di Akhir Acara
-
Megawati di HUT ke-53 PDIP: Politik Adalah Alat Pengabdian, Bukan Sekadar Kejar Jabatan
-
Megawati Dorong Politik Berbasis Kearifan Lokal: Peradaban Diukur dari Cara Menghormati Bumi
-
Instruksi Tegas Megawati di HUT ke-53 PDIP: Kader Wajib Jaga Alam, Hingga Lawan Keserakahan
-
Kritik Keras Regulasi Karpet Merah Konsesi, Megawati: Itu Pemicu Bencana Ekologis di Sumatra
-
Megawati di HUT ke-53 PDIP: Krisis Iklim Adalah Ancaman Nyata, Generasi Muda Paling Dirugikan
-
Megawati Kecam Intervensi AS di Venezuela: Ini Imperialisme Modern!
-
Rocky Gerung Ngaku Girang Hadir di HUT ke-53 PDIP, Puji Pidato Megawati: Jernih, Tulus, dan Berani
-
BGN Ancam Suspend Dapur MBG Tanpa Sertifikat Higiene, Target Nol Keracunan 2026