Suara.com - Hasil survei yang dilakukan lembaga Populi Center dan Lingkaran Survei Indonesia terhadap tingkat elektabilitas pasangan calon guburnur Jakarta berbeda. Mengapa beda lembaga, beda hasil?
Menurut Direktur Populi Center Usep S. Achyar, banyak variabel yang menyebabkan perbedaan hasil survei dari setiap lembaga. Salah satunya waktu pelaksanaan survei.
"Yang membuat berbeda itu saya kira banyak hal ya. Bisa saja dari waktu penyelengaraan, karena pemilih itu, kan punya potensi berubah-ubah dalam menentukan pilihan," kata Usep di kantor Populi Center, Perumahan Bank Mandiri, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (6/10/2016).
Itu sebabnya, kata Usep, hasil survei tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk melihat popularitas dan elektabiltas kandidat.
"Karena hasil survei ini, kan bersifat sementara juga," ujar Usep.
Selain itu, kata Usep, hasil survei juga tergantung pada metode yang digunakan. Namun, sejauh ini hampir semua lembaga survei di Indonesia menggunakan metode yang sama.
"Bisa juga dari metode. Tapi kalau metode itu biasanya cenderung samalah. Rata-rata pakai metode itu-itu juga," kata Usep.
Bagaimana cara mengukur kevalidan data dari setiap hasil survei? Menurut Usep, hal itu bisa dilihat dari proses pelaksanaan hingga rilis hasil survei.
"Kita lihat proses dan prosedur yang digunakan. Ilmiah nggak? Dia pakai standar-standar ilmiah nggak? Jadi itu yang harus dilihat. Mulai dari tujuannya, metodenya, SDMnya, prosesnya di lapangan sampai dengan rilis hasil," kata Usep.
Seperti di ketahui, hasil survei yang dilakukan Populi Center pada tanggal 25 September sampai 1 Oktober 2016 menyebutkan elektabilitas pasangan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat yaitu 45.5 persen.
Sementara hasil survei Lingkaran Survei Indonesia yang dilakukan pada tanggal 28 September sampai 2 Oktober 2016 menyatakan eletabilitas Ahok-Djarot 31,4 persen.
Berita Terkait
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Ahok Ngamuk di Sidang Korupsi LNG Pertamina: Saya Paling Benci Korupsi, Akan Saya Sikat!
-
Ahok Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi LNG Pertamina Rp1,7 Triliun, Irit Bicara Saat Tiba di Tipikor
-
Kesaksian Ahok di Kasus Korupsi Pertamina Bikin Geger, Sentil Menteri BUMN
-
Pakar UGM Bongkar Akar Masalah BUMN: Titipan Politik Bikin Rugi dan Rawan Korupsi
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah dari Rumah, Bagaimana Aturan dan Caranya?
-
Kasus Kekerasan Seksual di Depok Meningkat, Wakil Wali Kota Ungkap Fakta di Baliknya
-
Waspada Malaria Knowlesi! Penyakit 'Kiriman' Monyet yang Mulai Mengintai Manusia
-
Geger Kabar Syekh Ahmad Al Misry Ditangkap, Polri: Tersangka Masih Sembunyi di Mesir
-
Demo Depan KPK, GMNI DKI Desak Usut Dugaan Mega Korupsi Rp 112 Triliun di Proyek KDMP
-
Kementerian PKP dan KPK Sinkronkan Aturan Baru Program BSPS untuk Rakyat
-
4 Anggota BAIS Penyiram Air Keras Ngaku Salah, Siap Minta Maaf Langsung ke Andrie Yunus
-
Ahmad Rizal Ramdhani, Dari Korps Zeni Menuju Penguatan Ketahanan Pangan Nasional
-
Diplomasi Dudung Abdurachman dengan Dubes Saudi: Ada Undangan Resmi untuk Prabowo Haji Tahun 2027
-
Senyum-senyum Donald Trump Tiba di Beijing Disambut Nyanyian 300 Remaja China