News / Metropolitan
Senin, 10 Oktober 2016 | 15:11 WIB
Ilustrasi kotak suara [suara.com/Adrian Mahakam]

Suara.com - Rohaniawan Katolik Antonius Benny Susetyo menilai didengungkannya isu agama dan etnis jelang pilkada Jakarta menunjukkan rasa tidak percaya diri peserta pilkada untuk bersaing secara sehat. Pemakaian isu tersebut, menurut Benny, menunjukkan mereka tidak punya program kerja yang baik.

"Isu SARA itu sebenarnya menunjukkan para calon itu tidak memiliki kepercayaan diri. Karena kalau dia menggunakan isu SARA , dia itu hanya membakar emosional. Akibatnya timbul konflik, dan itu sebenarnya mengancam eksistensi kita itu berbangsa dan bernegara yaitu kebhinnekaan," kata Benny kepada Suara.com, Sernin (10/10/2016).

Benny yakin jika para peserta pilkada punya program kerja yang bagus tentu mereka tidak akan memilih cara-cara negatif untuk menjatuhkan lawan politik.

"Kalau para calon itu, punya program unggulan, kemudian memiliki yang namanya tawaran-tawaran solusi terhadap persoalan, kemudian memiliki sebuah agenda yang jelas, maka semua calon itu memiliki kepercayaan diri, sehingga bicara dengan agenda, agenda yang jelas, apa yang ditawarkan kepada masyarakat jakarta, kepada publik," katanya.

Benny mengingatkan isu SARA tidak pernah laku. Apalagi di zaman sekarang. Itu sebabnya, dia mengingatkan para peserta pilkada dan pendukung lebih baik meyakinkan masyarakat dengan program unggulan.

"Lebih pada agenda yang jelas untuk memberikan solusi terhadap persoalan rakyat, adu program, adu agenda kerja, fokus membangun gerakan masyarakat, bukan malah memperkeruh," katanya.

Load More