"Isu SARA itu sebenarnya menunjukkan para calon itu tidak memiliki kepercayaan diri. Karena kalau dia menggunakan isu SARA itu dia hanya membakar emosional. Akibatnya timbul konflik, dan itu sebenarnya mengancam eksistensi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu kebhinekaan,” katanya.
Menurut Benny jika peserta pilkada percaya diri dan punya program yang baik untuk menyejahterakan masyarakat, tentu mereka meninggalkan isu agama dan etnis.
“Kalau para calon itu percaya diri, punya program unggulan, kemudian memiliki yang namanya tawaran-tawaran solusi terhadap persoalan, kemudian memiliki sebuah agenda yang jelas, maka semua calon itu memiliki kepercayaan diri, sehingga bicara dengan agenda, agenda yang jelas, apa yang ditawarkan kepada masyarakat Jakarta, kepada publik. Kalau isu SARA itu terus dimainkan, berarti para calon ini tidak punya visi, dan misi tentang perubahan apa yang ditawarkan kepada masyarakat," katanya.
Benny menyarankan peserta pilkada Jakarta lebih baik bersaing sehat. Menghindari pecah belah. Dengan cara adu program dengan lawan politik.
Memakai isu SARA, menurut Benny, hanya akan memperkeruh keadaan. Benny mengatakan peserta pilkada tidak usah risau, publik pasti memilihnya jika memang bisa meyakinkan akan mampu bekerja sebaik-baiknya.
“Nggak apa-apa (ada reaksi tokoh agama berbeda-beda), tapi masyarakat kan sudah cerdas dan matang. Nggak perlulah kita perhatikan ke masyarakat, justru nanti integritas cendekiawan dan tokoh agama itu sendiri yang merosot di mata publik. Nggak usah terlalu khawatirlah, rakyat itu sudah cerdas," kata Benny.
Kepada masyarakat Jakarta, lulusan jurusan Filsafat dan Teologi di Widya Sasana Malang tahun 1996 tersebut berharap jangan terprovokasi. Jangan ikut-ikutan merespon lemparan isu agama dan etnis. Masyarakat harus tetap pintar.
"Kita tidak perlu terlalu menanggapi isu SARA-nya, yang kita kita mau sekarang adalah masing-masing calon menawarkan agenda perubahannya apa, bagaimana mencari solusi terhadap persoalan yang terjadi. Jadi ukurannya itu pada agenda, masing-masing harus mampu memiliki agenda, maka pertarungannya agenda, karena menurut saya isu SARA itu sudah selesai, dan rakyat juga tidak usah terlalu merespon juga," kata Benny.
Pengajar filsafat di STF Driyarkara Franz Magnis Suseno menambahkan isu SARA tidak akan pernah hilang dari dinamika politik, dunia, bahkan Indonesia.
"Mungkin tidak akan hilang tapi akan berkurang. Ambil contoh Amerika Serikat, butuh 160 tahun sampai orang Katolik pertama bisa menjadi presiden, John F. Kennedy. Waktu dia jadi Presiden, di AS banyak orang protestan di AS yang histeris karena banyak yang mengira, AS akan dijual ke Vatikan. Kita kita jangan terlu heran. Tapi sesudah Kennedy tidak jadi presiden, masalah itu hilang dan sejak itu tidak dipertanyakan," kata Magnis di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Magnis mengambil contoh pandangan masyarakat yang menilai perempuan tidak bisa menjadi Presiden. Sampai akhirnya pandangan tersebut runtuh setelah Megawati Soekarnoputri berhasil menjadi Presiden di tahun 2001.
"Di Indonesia ada kasus seperti itu, yaitu perempuan. Waktu Megawati memenangkan pemilihan tahun 1999 banyak sekali yang mengatakan perempuan tidak bisa jadi Presiden, kemudian ibu Megawati menjadi Presiden, dan Gus Dur melakukan yang sangat pintar meminta Hamzah Haz jadi wakilnya. Sejak itu, wacana perempuan jadi pemimpin sudah hilang," katanya.
Menurut Magnis isu SARA tak akan berdampak apa-apa jika susana bangsa atau daerahnya baik.
"Isu SARA itu efektif, kalau suasana ekstrem emosional, tapi kalau di negara yang suasananya bagus, cukup baik, itu tidak efektif. Tapi kalau tidak, tentu SARA bisa memainkan perannya, kita harus waspada. Ada pengaruhnya, tapi saya tidak terlalu pesimis, sampai sekarang misalnya dalam pilgub di Jakarta, muncul isu SARA, tapi masih terkendali. Saya berharap setiap orang siap mengendalikan diri dengan mengambil sikap atas dasar pertimbangan untuk memilih calon gubernur yang berebutan untuk menjadi gubernur berikutnya," kata Magnis.
Koordinator Forum Kaum Muda Nahdlatul Ulama DKI Jakarta Taufik Damas ikut angkat suara menanggapi isu yang membuat suasana makin panas itu. Dia mengingatkan setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama dan tidak memandang latar belakang agama dan etnis. Hal ini sesuai asas negara ini yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
"Saya imbau kepada semua pihak, siapapun untuk kembali kepada Pancasila dan UUD 45. Kesadaran atas konstitusi itu penting, agar orang bisa menerima kenyataan bahwa Indonesia beragam suku, etnis, agama dan kepercayaan," kata Taufik kepada Suara.com di Jakarta.
Wakil Khatib Syuriah PWNU DKI Jakarta menekankan semua warga negara yang memiliki kemampuan, punya hak yang sama untuk maju dan menjadi pemimpin negeri.
"Setiap orang berhak menjadi pemimpin di negeri ini, baik itu muslim atau non muslim, suku atau etnis apapun sama," ujar dia.
Lebih jauh, Taufik mengajak masyarakat Jakarta jangan terprovokasi dimunculkannya isu SARA. Masyarakat harus sama-sama menciptakan dan menjaga situasi agar pesta demokrsi di pusat negara ini berlangsung kondusif.
"Kami mengimbau semua pihak untuk menjaga dan menciptakan suasana yang sejuk dalam proses pilkada serentak nanti. Kita harus membangun demokrasi yang lebih baik," tutur dia.
Taufik juga mengajak masyarakat jangan pernah ikut-ikutan menyebarkan kebencian atas dasar perbedaan agama dan etnis.
"Kami mengajak masyarakat untuk menghindar dari penggunaan isu SARA, politisasi agama, serta tidak mudah mengumbar tuduhan penistaan terhadap agama dan Al-Quran dalam proses kampanye pilkada," kata Taufik.
Taufik mengatakan pilkada di berbagai daerah yang akan dilaksanakan 15 Februari 2017, khususnya di Jakarta, harus dijaga karena keberhasilan penyelenggaraanya akan menentukan kualitas demokrasi bangsa.
"Mengajak masyarakat untuk menciptakan proses pilkada yang jujur, adil, transparan dan damai. Kami juga mengimbau masyarakat, terutama para politisi dan tim sukses, untuk selalu ikut meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia," ujar dia.
Taufik lebih setuju dalam memilih pemimpin daerah, mengedepankan sikap kritis terhadap kualitas calon, ketimbang memandang belakang SARA. Masyarakat dewasa ini, katanya, harus lebih obyektif dalam menggunakan hak politik.
"Mengajak masyarakat untuk besikap kritis dan obyektif dalam menentukan pilihan dalam pilkada, dan siap menerima siapapun yang terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur di Jakarta," tutur Taufik. (Nikolaus Tolen dan Erick Tanjung)
Terkait:
Ketika Timses Cagub Jakarta Kompak Buang Isu SARA
Berita Terkait
-
Kawasan Pemukiman Padat Menteng Tenggulun Akan Ditata Jadi Kampung Tematik
-
Dedi Mulyadi Akui Marketnya Makin Luas Gara-Gara Sering Ngonten, Mau Nyapres?
-
Jatuh Bangun Nasib Ridwan Kamil: Gagal di Jakarta, Kini Terseret Isu Korupsi dan Perselingkuhan
-
Ashley Tanah Abang Jakarta: Hadirkan Kamar Tematik Keluarga untuk Liburan yang Lebih Seru
-
Tim RIDO Laporkan KPU ke DKPP dan Minta Pemungutan Suara Ulang, Anies: No Comment!
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Tolak Wacana Rusun, Korban Kebakaran Kemayoran Minta Pemerintah Bantu Bangun Rumah Lagi
-
Prabowo di Depan Ribuan Petugas MBG: Terima Kasih Atas Kesetiaan Kalian
-
Dadan Hindayana Dijerat Pasal Berlapis, Ancaman Hukuman Bisa 20 Tahun Penjara
-
Detik-Detik Mencekam! Helikopter AL Inggris Meledak di Udara, 3 Prajurit Tewas
-
KPK Amankan 17 Orang dalam OTT Imigrasi, Eks Dirjen dan Kakanwil Jawa Barat Ikut Terjaring
-
DJKI Selesaikan 104 Sengketa Kekayaan Intelektual Melalui Mediasi
-
Rincian Korupsi Eks Kepala BGN: Proyek Sepeda Listrik MBG Hingga Sepatu
-
Kejagung Ungkap Detik-detik Penangkapan Dadan Hindayana dan Dua Eks Pimpinan BGN
-
Buru Wamen Imipas, KPK Dapat Info Silmy Karim Masih di Jakarta dan Sekitarnya
-
Ambisi Prabowo Saat 30 Ribu Dapur MBG Berjalan: 3 Juta Lapangan Pekerjaan Tercipta