Suciwati, Istri dari aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) almarhum Munir menuding Presiden Joko Widodo ambil bagian dalam kasus pembunuhan suaminya. Tudingan ini muncul karena Suciwati menilai sikap PresidenJokowi tidak serius dalam mengusut siapa pelaku pembunuhan Munir yang sebenarnya. Terlebih lagi muncul pernyataan dari pemerintah yang mengatakan bahwa dokumen hasil kerja Tim Pencari Fakta kematian Munir hilang dari Sekretariat Negara.
"Yang pasti kan sejak awal kita bisa katakan, kalau presiden tidak serius, berarti bisa kita katakan presiden ini menjadi bagian dari pembunuhan itu, karena dia tidak mau mengungkapkan, kalau saya sesederhana itu," kata Suciwati di kantor Kontras, jalan Kramat Nomor 2, Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2016).
Padahal kata Suciwati, dalam persidangan sudah terpapar jelas kasus tersebut mengarah kepada siapa dan sistemnya yang begitu terorganisir. Dengan terorganisir sistem untuk membunuh Munir tersebut seharusnya memudahkan pemerintah dalam mengusutnya.
"Kita kan bisa melihat dari persidangan, indikasinya kemana,dibunuh oleh siapa, pembunuhnya larinya kemana, bagaimana terjadi telpon-telponan antara Polycarpus dengan kantor BIN, itu kan menunjukkan teroganisirnya bagaimana dia dibunuh di pesawat, tidak semua orang bisa masuk kesana, disitu kita meliaht ada orang yang disembunyikan oleh pemerintah, presiden dalam hal ini," katanya.
Lebih lanjut dia juga menambahkan bahwa sebanranya, Kepala Badan Intelijen Negara pada saat itu, Hendro Priyono sudah mengaku bahwa pembunuhan Munir adalah menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu, dia meminta Presiden untuk memanggil Hendro Priyono untuk dimintai keterangannya.
"Kemudian, bagaiman Hendro Priyono mengatakan bahwa dia bertanggung jawab atas pembunuhan Munir, ketika ditanya Allan Nair, wartawan Amerika Serikat, kalau dia (presiden) serius, Jaksa Agung nggak usah nelpon ke tim Pencari Fakta, nggak usah teriak kemana-mana, panggil aja Hendro Priyono, dia sebagai Kepala BIN Tahun 2004," kata Suciwati.
Diketahui, sebelumnya pemerintah mengatakan bahwa dokumen hasil TPF hilang dari Sekretariat Negara. Dengan demikian, pemerintah pun tidak bisa mengumumkan hasilnya kepada publik tentang kematian aktivis HAM didalam pesawat dalam perjalanan menuju ke Amsterdam, Belanda.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek
-
Potensi RI Punya 89 Ribu Ton Uranium, BRIN Paparkan Ambisi Nuklir ke Prabowo
-
Internal Golkar Wonosobo Bergolak, Mahkamah Partai Diminta Turun Tangan
-
Rakyat Akan Marah! 470 Kepala Daerah Tak Mampu Bayar PPPK Tapi Minta Naik Gaji
-
Gunakan Uang Hasil Sikat Korupsi, Prabowo Janji Investasi Besar di Sektor Pendidikan dan Riset
-
John Herdman Blak-blakan Akui Timnas Indonesia Sedang Terluka Jelang Melawan Singapura
-
Pemerintah Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Haji Arab Saudi
-
Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG
-
Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini
-
Calon Hakim Agung Usul RUU Perampasan Diganti Jadi Pemulihan Aset, Menkum Tunggu Langkah DPR