- Komisi X DPR RI memanggil Mendikdasmen pekan depan untuk respons tragedi bunuh diri siswa SD di Ngada, NTT.
- Peristiwa tersebut dipicu ketidakmampuan ekonomi keluarga membeli alat tulis dan dianggap tamparan bagi dunia pendidikan.
- DPR akan evaluasi efektivitas Dana BOS serta meminta pemerintah pusat dan daerah lebih peka terhadap siswa pelosok.
Suara.com - Komisi X DPR RI bereaksi keras atas tragedi bunuh diri yang menimpa seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peristiwa yang diduga dipicu oleh ketidakmampuan keluarga membeli alat tulis tersebut dinilai sebagai tamparan keras bagi dunia pendidikan nasional.
Sebagai langkah nyata, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan pihaknya akan segera memanggil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) untuk meminta pertanggungjawaban serta penjelasan menyeluruh terkait kasus tersebut.
Pemanggilan dijadwalkan dilakukan pada pekan depan, sebelum masa reses DPR dimulai pada 18 Februari mendatang.
"Ya tentu, Mendikdasmen selaku penanggung jawab tertinggi yang diberikan oleh Presiden, ya tentu harus segera mengambil langkah nyata, langkah cepat untuk mengatasi persoalan ini. Anak-anak dalam hal ini, siswa-siswi tidak boleh terbebani hanya karena keuangan atau kemampuan ekonomi orang tua mereka terbatas," ujar Lalu Hadrian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Lalu menekankan bahwa persoalan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi anak bangsa untuk mengenyam pendidikan.
Ia mempertanyakan efektivitas jaring pengaman pendidikan seperti Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang seharusnya mampu mencegah tragedi semacam ini terjadi.
"Dana BOS ini merupakan hak semua sekolah, terutama sekolah negeri maupun sekolah swasta. Nah oleh sebab itu, kejadian yang menimpa siswa kita yang ada di Nusa Tenggara Timur ini, yang saya katakan tadi bahwa ini tamparan keras. Ini salahnya di mana? Apakah sekolah tidak menyalurkan? Apakah memang sekolah tersebut belum atau tidak menerima dana BOS? Atau kondisinya seperti apa? Nah inilah yang harus kita evaluasi bersama," tegasnya.
Bagi Komisi X, peristiwa ini menjadi sinyal darurat di tengah semangat Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi sektor pendidikan.
Baca Juga: Kapolres Ngada Ungkap Kematian Bocah 10 Tahun di NTT Bukan Akibat Ingin Dibelikan Buku dan Pena
Lalu Hadrian meminta pemerintah pusat maupun daerah agar lebih peka (aware) terhadap kondisi psikososial dan ekonomi para siswa, khususnya di daerah pelosok.
"Tetapi, bagi kami di Komisi X ini tamparan keras bagi dunia pendidikan kita hari ini. Di saat kita berbenah, di saat Bapak Presiden sangat bersemangat memperbaiki pendidikan kita, maka kami meminta pemerintah daerah juga aware, pemerintah daerah juga memberikan perhatian yang serius terhadap dunia pendidikan kita," ungkapnya.
Selain pemanggilan Mendikdasmen, Komisi X DPR RI juga berencana melakukan kunjungan kerja langsung ke NTT untuk berdiskusi dengan para pemangku kepentingan setempat.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan negara hadir dan memberikan solusi konkret agar kejadian serupa tidak terulang di daerah lain.
"Pendidikan wajib tidak boleh berhenti hanya gara-gara faktor ekonomi. Berikutnya, mental dari anak-anak juga harus diperhatikan. Lingkungan sekitar, tetangga, kerabat, keluarga harus aware juga dengan persoalan ini. Tidak boleh kejadian ini akan terulang terus sehingga seolah-olah negara tidak hadir. Sebetulnya negara itu sudah hadir," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Kapolres Ngada Ungkap Kematian Bocah 10 Tahun di NTT Bukan Akibat Ingin Dibelikan Buku dan Pena
-
Geger Tragedi Siswa SD di NTT, Amnesty International: Ironi Kebijakan Anggaran Negara
-
Wamensos Minta Kepala Daerah Kaltim & Mahakam Ulu Segera Rampungkan Dokumen Pendirian Sekolah Rakyat
-
Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?
-
DPR Soroti Tragedi Siswa SD NTT, Dorong Evaluasi Sisdiknas dan Investigasi Menyeluruh
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Wajah Baru Jakarta Menuju 5 Abad: Koridor Rasuna Said Jadi Pusat Diplomasi dan Budaya
-
Wamen PANRB Tegaskan Era Digital Butuh Pemimpin Visioner, Bukan Sekadar Manajer
-
Momen Haru Eks Wamenaker Noel Peluk Cium Putrinya usai Sidang: Ini yang Buat Saya Semangat
-
Korea Utara Tantang AS dan Sekutu: Jangan Atur-atur Kami Soal Nuklir
-
Sekarang Malu dan Menyesal Terima Uang Rp3 Miliar dan Ducati, Noel: Saya Minta Ampun Yang Mulia
-
Kapolri Sebut Penguatan Kompolnas Cukup Masuk di Revisi UU Polri, Tak Perlu UU Baru
-
Ahli Psikologi TNI Bongkar Profil 4 Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Kemampuan Analisa Rendah
-
Buntut Kematian Dokter Myta, Kemenkes Tunda Internship di Puskesmas dan RSUD Kuala Tungkal
-
'Nak Keluar Sayang', Noel Minta Putrinya yang Berseragam Sekolah Keluar Sidang karena Ditegur Hakim
-
7,36 Persen Warga Indonesia Tanpa Air Bersih, Teknologi Ini Jadi Harapan Baru?