Suara.com - Ketua Harian Pembela Tanah Air (PETA) Provinsi Aceh, T Sukandi mengutuk dan mengecam keras aksi penembakan Mukhlisin warga Kecamatan Idi Rayek, Kabupaten Aceh Timur oleh orang tak dikenal, Selasa (6/12/2016).
"Penembakan tersebut sangat biadab karena korban dieksekusi di hadapan anaknya berumur 5 tahun. Meskipun motif penembakan tersebut tidak ada kaitannya dengan politik, namun tetap saja akan menimbulkan keresahan bagi masyarakat Aceh menjelang Pilkada 2017," katanya di Tapaktuan, Kamis (8/12/2016).
Keresahan warga, menurut T Sukandi sangat berasalan, sebab setiap menjelang berlangsungnya Pilkada di Aceh selalu saja terjadi aksi kekerasan menggunakan senjata api yang merenggut korban jiwa.
Seharusnya, kata dia, masa kelam apa yang terjadi saat Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh tahun 2012 tidak terjadi lagi pada Pilkada tahun 2017.
"Terulangnya aksi penembakan ini jelas-jelas membuktikan bahwa peredaran dan penggunaan senjata api di Aceh masih marak. Meskipun pihak keamanan mengklaim bahwa senjata yang digunakan adalah senjata rakitan, namun tetap saja penggunaan senjata api secara illegal tersebut sangat membahayakan keselamatan warga," ungkapnya.
Di samping menimbulkan keresahan bagi masyarakat menjelang Pilkada, sambung T Sukandi, aksi penembakan yang terus berulang di Aceh juga telah mencoreng nama baik Provinsi Aceh di mata masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional.
Sehingga kondisi ini secara otomatis juga berpengaruh terhadap semakin merosotnya tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh secara rata-rata nasional. Karena dengan masih terjadinya kekerasan menggunakan senjata api di daerah bekas konflik tersebut, akan menghambat minat para investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya di daerah itu.
"Perlu diketahui bahwa pertimbangan utama para investor dalam menanamkan investasinya adalah terkait jaminan keamanan. Jika belum ada jaminan keamanan maka jangan mimpi akan ada pengusaha luar daerah akan menanamkan modalnya skala besar di Provinsi Aceh," katanya.
Karena itu, ia menilai bahwa percuma atau sia-sia saja upaya Pemerintah Aceh selama ini bersusah payah melobi investor ke luar negeri, jika jaminan keamanan dalam daerah belum mampu diwujudkan.
Baca Juga: Ibadah di Sabuga Distop, Jangan karena Mayoritas Lalu Seenaknya
Terkait hal ini, T Sukandi mempertanyakan keputusan Mabes Polri dan TNI yang telah mempetakan tiga provinsi di Indonesoa sangat berpotensi terjadi kerawanan pelaksanaan Pilkada tahun 2017, yakni Provinsi Aceh, DKI Jakarta dan Papua.
"Jika memang tiga daerah tersebut khususnya Provinsi Aceh telah dipetakan sebagai daerah rawan, kenapa fokus pengamanan menjelang Pilkada terlihat belum maksimal dilakukan. Apalagi aksi kekerasan bersenjata di Aceh kembali terulang terjadi, seharusnya hal itu menjadi perhatian serius Pemerintah Pusat," ungkapnya.
Karena itu, untuk menjamin pelaksanaan Pilkada 2017 serentak di Provinsi Aceh berlangsung aman dan lancar tanpa ada intimidasi dan pengancaman serta terror terhadap masyarakat, T Sukandi meminta kepada Pemerintah Pusat segera mengirim pasukan BKO ke daerah tersebut.
"Demi menciptakan rasa aman dan tentram di tengah-tengah masyarakat Aceh, kami mendukung penuh kebijakan Pemerintah Pusat menambah pasukan BKO ke Aceh. Kita sangat mengharapkan ke depannya Aceh harus benar-benar aman tanpa ada lagi kekerasan bersenjata yang memakan korban jiwa lebih banyak lagi," ujarnya. [Antara]
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara