Suara.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte resmi menyatakan permintaan maaf karena tak bisa menyelamatkan nyawa Jurgen Kantner (70), warga negara Jerman yang dieksekusi gerombolan Abu Sayyaf.
Namun, Duterte tetap berkeyakinan pemerintahannya sudah benar tidak memenuhi permintaan uang tebusan dari kelompok teroris yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) itu.
"Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada rakyat dan pemerintah Jerman. Tentara kami sudah berupaya maksimal menyelamatkan korban. Tapi, kami memang bertekad tidak akan tunduk pada gerombolan itu dan membayar uang tebusan. Kalau itu dilakukan, mereka akan terus melakukan penculikan," terang Duterte, seperti dilansir AFP, Selasa (28/2/2017).
Abu Sayyaf mengeksekusi dengan cara memenggal kepala Kantner. Pelaut Jerman itu dieksekusi secara kejam lantaran pemerintah Jerman maupun Filipina tak kunjung membayar uang tebusan.
Eksekusi itu sendiri baru diketahui pemerintah Filipina setelah Abu Sayyaf merilis video pemenggalan kepala Kantner, Senin (27/2/2017).
Abu Sayyaf telah lama dikenal sebagai gerombolan teroris yang gemar menculik demi mendapatkan uang tebusan kepada pemerintah. Aksi itu dilakukan setidaknya sejak gembong Al Qaeda yang membiayai mereka, Osama bin Laden, tewas. Kekinian, mereka menyatakan berafiliasi dan tunduk pada komando ISIS.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Apa Hasil Lawatan Trump ke China? Isu Taiwan Menggantung, Beijing Tetap Dukung Iran
-
Mengenal 'Ambo', Sapi Raksasa 1,15 Ton Asal Tangerang yang Dipilih Prabowo untuk Idul Adha 2026
-
Skenario AS Jika Trump Diracun di China, Isi Surat Wasiat untuk JD Vance Terungkap
-
Niat Lerai Cekcok Berujung Maut, Dico Tewas Dikeroyok dan Dilempar dari Lantai 2 Weston Billiard
-
'Pesta Babi' Ungkap Realitas Kelam, Kader PDIP: Jika Film Itu Tidak Bagus, Sediakan Ruang Debat
-
Mengapa Aparat Takut dengan Film 'Pesta Babi? Dokumenter yang Menguak Sisi Gelap Proyek di Papua
-
Tak Sembarang Orang Bisa Beli, Begini Alur Distribusi Narkoba 'VIP Only' di B Fashion Hotel
-
Nasib Ahmad Syahri Merokok dan Main Game Saat Rapat, Terancam Dipecat dari DPRD Jember?
-
Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
-
Nasib Santri Ponpes Pati Usai Geger Kasus Pelecehan, Sekolah Tetap Lanjut atau Pindah?