Suara.com - Performa impresif ditampilkan pebalap anyar Movistar Yamaha, Maverick Vinales, pada seri pembuka MotoGP 2017 di Sirkuit Losail, Qatar, akhir pekan lalu.
Start dari pole position, Vinales sempat melorot posisinya ke peringkat kelima. Perlahan tapi pasti, Vinales terus merangsek ke depan hingga akhirnya finis pertama, mengungguli Andrea Dovizioso (Ducati) dan rekan setimnya, Valentino Rossi.
Berikut fakta-fakta menarik yang terjadi selama gelaran seri pembuka di Losail.
- Kemenangan yang diraih Maverick Vinales di seri pembuka MotoGP 2017 di Losail, sekaligus mengantarkan pabrikan Yamaha meraih kemenangan kedelapannya di sirkuit tersebut. Rossi jadi pebalap Yamaha yang paling banyak mengoleksi kemenangan di arena ini--empat kali (2005, 2006, 2010, 2015). Disusul kemudian oleh Jorge Lorenzo; 3 kali (2012, 2013, 2016).
- Hujan mewarnai balapan pembuka MotoGP tahun ini. Para bintang MotoGP harus menunggu selama 45 menit untuk memulai balapan. Hujan mengguyur Sirkuit Losail, tepat lima menit sebelum start dilangsungkan.
- Pabrikan Honda tercatat tiga kali memenangi balapan di Losail. Pebalap Honda terakhir yang menang adalah Marc Marquez, tahun 2014. Sementara, pebalap Honda lainnya yang pernah menang di arena ini adalah Casey Stoner (2011) dan Sete Gibernau (2009).
- Prestasi terbaik Suzuki di Losail adalah berada di urutan keempat. Prestasi ini ditorehkan John Hopkins pada tahun 2007. Sementara, pada tahun ini, Suzuki berada di peringkat kesembilan, berkat pebalapnya Alex Rins, setelah pebalapnya yang lain, Andrea Iannone, terjatuh di pertengahan lomba.
- Rossi bukan hanya jadi pebalap tertua di gelaran MotoGP saat ini; 38 tahun. Dia juga menjadi pebalap tertua yang naik podium di kelas utama setelah finis di posisi ketiga pada balapan di Losail sejak Jack Findlay memenangkan Grand Prix Austria di tahun 1977 dalam usia 42 tahun.
- Vinales jadi satu dari empat pebalap yang berhasil memenangi balapan MotoGP bersama Suzuki dan Yamaha. Tiga pebalap lainnya adalah Barry Sheene, Randy Mamola, dan Jack Middleburg.
Baca Juga: Wah, Jenazah Pendiri Ferrari Hampir Saja Disandera Geng Kriminal
- Lorenzo jadi pebalap yang paling banyak memenangi balapan di Losail, yakni enam kali. Rinciannya adalah tiga di kelas MotoGP (2012, 2013, dan 2016), dua di kelas 250cc (2006 dan 2007), dan satu di kelas 125 cc (2004).
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lingkaran Setan Kekerasan di Balik Seragam: Mengapa Polisi Junior Terus Jadi Korban Senior?
-
Bareskrim Ambil Alih Pengejaran Ko Erwin, Bandar Narkoba Terkait Kasus AKBP Didik
-
WNA Australia Terinfeksi Campak Usai Kunjungi RI, Kemenkes Percepat Imunisasi MR untuk Anak PAUDTK
-
Pramono Anung Instruksikan Perluasan Akses Jalan Guna Urai Kemacetan Flyover Latumenten
-
KPK Telusuri Pemilik Lima Koper Berisi Uang Rp5 Miliar dalam Kasus Bea Cukai
-
DPRD DKI Kritik Impor 3.100 Sapi oleh Pramono Anung, Dinilai Tak Sejalan UU Pangan
-
Habib Jafar: Ramadan Momentum Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Sekadar Kaya Materi
-
Hakim Tetapkan Kerugian Negara Kasus Korupsi Minyak Pertamina Sebesar Rp9,4 Triliun
-
Divonis 9 Tahun Penjara, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Sebut Fakta Sidang Diabaikan
-
Ancaman Nyata dari AS hingga AI: Bagaimana RI Menjaga 'Benteng' Pembangunan Nasional di 2026?