Kepadatan pemukiman penduduk terlihat dari ketinggian di salah satu kawasan di Jakarta, Rabu (28/9/2016). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]
Pilkada Jakarta telah usai. Kemenangan diperoleh pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno atas rival mereka, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.
Pasca pilkada, terutama setelah Ahok divonis dua tahun penjara atas kasus penistaan agama, politik semakin memanas.
Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan tensi politik di Jakarta tidak akan turun sampai pemilihan presiden periode 2019 - 2014.
Pasca pilkada, terutama setelah Ahok divonis dua tahun penjara atas kasus penistaan agama, politik semakin memanas.
Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan tensi politik di Jakarta tidak akan turun sampai pemilihan presiden periode 2019 - 2014.
Isu yang dimainkan di pilkada Jakarta memiliki kaitan dengan kepentingan pilpres.
"Kekalahan Ahok ditafsirkan oleh kubu Anis-Sandi yang kebetulan didukung oleh sebagian besar kubu KMP (Koalisi Merah Putih), Prabowo Subianto dan kawan-kawan penantang Jokowi di pilpres 2014, sebagai test case mungkin akan diulang di pilpres 2019," kata Hamdi kepada Suara.com, Selasa (16/5/2017).
Menurut Hamdi kemenangan Anies-Sandiaga telah membangkitkan semangat partai-partai yang dulu bergabung di KMP. Momentum kemenangan tersebut, kata Hamdi, tidak akan dibiarkan meredup hingga pilpres.
"Jadi (kemenangan Anies-Sandiaga) membangkitkan moral bagi pendukung KMP. Momentum ini harus dipelihara. Kira-kira begitu suasana psikologis nya," ujar Hamdi.
Hamdi mengatakan kemenangan Anies-Sandiaga dibingkai menjadi kemenangan umat Islam, kelompok anti PKI, dan anti paham liberal. Bingkai isu tersebut diyakini Hamdi akan dipakai untuk melawan Joko Widodo di pilpres tahun 2019.
"Bingkai kemenangan (Anies-Sandiaga) kemarin itu narasinya, Islam, anti PKI, anti Liberal dan seterusnya. Akan dipakai melawan kubu Jokowi yang akan digiring sebagai anti Islam, PKI, Liberal," tutur Hamdi.
Tapi, Guru Besar Fakultas Psikologi UI mengingatkan bahwa narasi tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsung sistem demokrasi Indonesia.
Hamdi tidak heran pola seperti itu diterapkan kubu Prabowo Subianto. Pasalnya, kata dia, di beberapa negara, kelompok konservatisme agama juga menguat.
"Kecenderungan konservatisme agama memang di beberapa belahan dunia menguat. Apakah momentum ini juga yang akan dimanfaatkan oleh kubu Probowo dan kawan-kawan melawan Jokowi di Pilpres 2019? Kita lihat nanti," ujar Hamdi.
Lebih jauh Hamdi mengatakan kekalahan Ahok dan Djarot di pilkada Jakarta merupakan kerugian besar bagi Jokowi. Jokowi dan Ahok-Djarot merupakan tokoh yang diusung oleh partai yang sama, Partai Demokrasi Indonesa Perjuangan.
"Kalau lihat mayoritas penduduk RI diam di Jawa, maka memenangkan seluruh provinsi di Jawa adalah kunci memenangkan politik nasional (pilpres)," kata Hamdi.
Pada pilpres 2014 ada dua kubu yang bertarung, KMP yang mengusung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dengan kubu Koalisi Indonesia Hebat yang mengusung Jokowi dan Jusuf Kalla. Kemenangan kemudian diperoleh pasangan Jokowi-JK.
Seiring dengan perkembangan politik, partai-partai yang tergabung dalam KMP pisah, sebagian bergabung ke pemerintahan Jokowi-JK.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Drama Detik-Detik Terakhir! Ma'ruf Amin Bongkar Kisah Terpilih Jadi Cawapres Gantikan Mahfud MD
-
Keok Berturut-turut, Prabowo Ungkit Menteri Ikut Bantu Jokowi Menang Pilpres: Ayo Ngaku Siapa Tuh?
-
Trauma Konflik 5 Tahun Lalu, Anies Ogah Panaskan Sengketa Pilpres: Yang Ngrasain Tembakan Rakyat, Bukan Pejabat
-
Anies Ungkit Luka Lama Rusuh Hasil Pilpres 2019: Ada yang Menggerakkan, Siapa?
-
Alasan Anies Baswedan Tak Melawan Usai Putusan MK: Jangan Sampai Ada Konfik, yang Jadi Korban Rakyat Kecil
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Inggris Tak Mampu Tahan Rudal Iran, London Kini Dalam Jangkauan Sejjil
-
Duka di Maybrat: Dua Prajurit TNI AL Gugur Usai Kontak Tembak dengan KKB, Senjata Dirampas
-
Mengenal 2 Konsep Huntap yang Akan Dibangun Satgas PRR untuk Penyintas Bencana Sumatera
-
MAKI Sindir KPK Soal Penahanan Rumah Yaqut Secara Diam-diam: Layak Masuk Rekor MURI
-
Siapa Fuad? Sosok WNA Iran Terduga Pembunuh Cucu Mpok Nori yang Ditangkap di Tol Tangerang-Merak
-
Pelaku Pembunuhan Wanita di Cipayung Tertangkap, Ternyata Mantan Suami Siri Asal Irak
-
Hawaii Diterjang Banjir Terparah Sepanjang 20 Tahun, 5000 Warga Mengungsi
-
Mudik Lebaran Lancar dan Kondusif, Kakorlantas Polri: Terima Kasih untuk Semua Pihak yang Terlibat
-
Gaspol Reformasi Pendidikan, Prabowo Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah
-
Prabowo: Lebih Baik Uang untuk Makan Rakyat daripada Dikorupsi