Suara.com - Ketua Panitia Seleksi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Jimly Asshididqie mengatakan, pemerintah menitipkan wakil tertentu untuk jadi Komisioner Komnas HAM periode 2017-2022. Menurutnya, hal tersebut tidak menjadi persoalan, karena tim yang dipimpinnya akan objektif dalam menilai para kandidat.
"Ada (titipan pemerintah). Tapi kan, kita iya-iyain aja. Saya tinggal bilang, 'Saya kan ketua, tapi yang lain kan berhak untuk menentukan.' Kita musti objektif. Nanti keputusannya harus kolektif," katanya di gedung Kementerian Hukum dan HAM, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (17/5/2017).
Saat ini, Panitia Seleksi (Pansel) sedang menjalani proses seleksi terhadap para kandidat Komisioner Komnas HAM. Sejauh ini prosesnya sudah masuk ke seleksi tahap ketiga, dengan menyisakan 60 orang.
Nantinya, setelah selesai tahap ketiga, akan dinilai siapa yang layak masuk ke tahap selanjutnya. Sebab pada tahap tersebut, panitia hanya membutuhkan 28 orang, sebelum berakhir pada 14 orang. Setelah itu, Pansel akan menyerahkan 14 nama tersebut ke DPR untuk dipilih 7 orang sebagai Komisioner Komnas HAM.
Dikatakan Jimly pula, dari 60 orang kandidat saat ini, ada lima orang dari komisioner periode sebelumnya. Terhadap kelima calon tersebut, Pansel menurutnya harus berlaku adil, sebab ada desakan agar calon petahana tersebut tidak diloloskan ke periode berikutnya.
"Ada lima. Ada masukan supaya incumbent jangan ada yang lolos. Tapi kan nggak bisa begitu. Harus adil, tidak boleh kita perlakukan diskriminatif," katanya.
Menurut Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu tersebut, calon yang ada saat ini cukup berkualitas. Meskipun, dia mengakui juga bahwa orang yang berminat untuk menduduki posisi di lembaga HAM tertua di Indonesia tersebut menurun.
"(Pendaftar) Memang turun, tapi kualitasnya naik sekarang. Tadinya kita cemas. Tapi setelah masuk, tokoh-tokoh semua. Paling nggak, dari 60 (orang) itu, 30 tokoh yang bagus-bagus," kata Jimly.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan