Pengusaha sekaligus pemilik MNC Group, Hary Tanoesoedibjo telah diperiksa oleh Direktorat Tindak Pidana Siber (Ditipidsiber) Bareskrim Polri terkait kasus dugaan pesan singkat diduga bernada ancaman. Harry diperiksa selama kurang lebih tiga jam.
"Yang harus ditekankan dalam masalah ini adalah kelayakan kelanjutan kasusnya. Menurut saya, seharusnya tidak layak diteruskan karena tidak ada barang bukti," kata Harry dalam keterangan resmi, Senin (12/6/2017).
Pria yang akrab disapa HT tersebut mengaku tidak pernah melihat handphone Yulianto, Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung. Menurutnya, jaksa selama ini hanya ditunjukkan foto copy SMS dan WA.
"Padahal saya sudah ganti iPhone sejak pertengahan tahun 2016 lalu," ujar Hary.
Selain itu, ia menegaskan bahwa substansi SMS dan WA yang dipersoalkan tersebut tidak pernah punya maksud untuk mengancam karena tidak punya kapasitas untuk melakukan hal tersebut. SMS pada tangggal 5 Januari 2016 dan WA tanggal 7 Jan 2016 adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Hanya penyampaian WA pada tanggal 7 Januari 2016 lebih halus lagi. Disitu disebutkan kalimat "memberantas oknum-oknum" penegak hukum yg semena-mena dan seterusnya. Menurutnya, tujuan sms tersebut bersifat jamak/umum, bukan ditujukan kepada seseorang atau tertentu.
"Keputusan Panja Komisi III, DPR RI pada tanggal 17 Maret 2016 juga menyimpulkan kasus SMS dan WA tersebut bukan ancaman," jelas pria yang juga Ketua Umum Perindo tersebut.
Hary menambahkan bahwa latar belakang pengiriman SMS dan WA kepada Yulianto untuk menegaskan suatu hal yang ironis. Dimana dirinya dengan segala pengorbanannya terjun kedunia politik tapi disangkut pautkan dengan kasus M8.
"Dimana juga saya yakini bukan suatu kasus dan tidak ada kaitannya dgn saya. Ternyata keyakinan benar adanya dengan adanya putusan pra peradilan tgl 29 November 2016 yang meminta Kejaksaan Agung menghentikan penyidikan kasus M8," tutur Hary.
Baca Juga: Alasan Hary Tanoe Kirim SMS yang Dinilai Ancaman
Ia menegaskan bahwa latar belakang pemeriksaan pada Senin (12/6/2017) hanyalah memberikan keterangan tambahan sebagaimana disampaikan diatas. Ia menambahkan bahwa pemeriksaan kasus ini terkesan dipaksakan karena kasus ini sudah lama diam namun setelah pilgub DKI Jakarta, kasus ini diangkat kembali.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Acer Aspire 7 Pro Terbaru Dibanderol Rp13,49 Juta, Bawa RTX 3050 dan 2 Slot RAM Siap Upgrade
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Cashback Jadi Andalan Luna Maya Saat Belanja, Sudah Kumpulkan Hingga Rp 1,6 Juta
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Viral Tukang Cukur di Rancabungur Dimarahi Karena Belum Pasang Bendera, Ini Kata Camat
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi