Suara.com - Konselor Pemerintah Myanmar Aung San Suu Kyi, mengecam maraknya peredaran berita-berita hoaks mengenai situasi warga Rohingya di kawasan Rakhine.
Menurutnya, seperti dilansir Independent, Rabu (6/9/2017), berita-berita palsu dan kampanye berdasarkan informasi yang salah memicu krisis dan merongrong kedaulatan Myanmar.
Berita palsu tersebut, kata Suu Kyi, termasuk tentang kekejaman militer Myanmar terhadap warga imigran Bengali atau yang biasa disebut oleh pihak lain sebagai Rohingya.
Pernyataan tersebut, ditegaskan Suu Kyi saat berbicara dengan Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan via sambungan telepon, awal pekan ini.
Dalam pembicaraan itu juga, Suu Kyi memprotes Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Simsek yang mengunggah empat foto hoaks mengenai Rohingya di akun Twitter pribadinya.
Foto-foto yang diklaim sebagai warga Rohingya korban brutalitas militer Myanmar itu ternyata palsu. Meski hoaks, foto-foto tersebut sudah viral dan memicu kemarahan dan sentimen agama terhadap konflik di Myanmar.
Foto dan informasi hoaks sebenarnya tak hanya dilakukan oleh Simsek. Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Tifatul Sembiring juga sempat mengunggah foto yang diklaim sebagai warga Rohingya korban brutalitas militer Myanmar. Ternyata, foto yang diunggah anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu hoaks.
Bahkan, Suu Kyi menilai beragam foto, berita, dan informasi hoaks mengenai Rohingya itu justru membantu mempromosikan gerombolan teroris di Rakhine, yakni Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).
Gerombolan ARSA yang berideologi sama seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), menyerang 20 pos polisi di Rakhine, Kamis (25/8)dua pekan lalu.
Baca Juga: Baru Keluar Pintu Rutan, Alfian Tanjung Kembali Ditangkap Polisi
Setelah insureksi ARSA, pemerintah Myanmar merespons dengan mengerahkan militer dan mejadikan Rakhine sebagai daerah operasi. Terkait hal ini, Suu Kyi mengklaim militer Myanmar melindungi setiap warga negara yang berada di daerah tersebut.
Militer Myanmar sendiri mengungkapkan, 400 orang yang tewas dalam operasi militer di Rakhine mayoritas adalah anggota ARSA.
Untuk diketahui, Suu Kyi dalam dua pekan terakhir mendapat kecaman dari dunia internasional karena dinilai bungkam atas krisis Rohingya di Rakhine.
Itu setelah operasi militer Myanmar membuat 125.000 Rohingya terpaksa melarikan diri ke arah perbatasan negeri itu dengan Bangladesh, demikian laporan yang dipublikasikan PBB.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Harta Karun di Balik Serat Kayu: Kisah Guru Trenggalek Merawat Manuskrip Islam Abad ke-19
-
Janji Fabio Calonego Usai Memperpanjang Masa Bakti Bersama Persija Jakarta
-
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Undip Viral, Korban Mengaku Trauma hingga Tinggalkan Kuliah
-
Drama Sandiwara Dua Sopir Penggelap Sapi Berakhir di Tangan Polsek Panjang
-
Bitcoin Cs Anjlok, Indeks CFX10 Melemah ke Level 763,88
-
Persis Solo Datangkan Juan Mera Sebagai Amunisi Baru, Ini Profilnya
-
Mulai Agustus, Kota Makassar Tinggalkan Sistem Open Dumping di TPA
-
Menang Dramatis! Argentina Siap Hadapi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
-
Prediksi Buruk Minyak Dunia Beberapa Minggu ke Depan, Menurut IEA
-
Agar Wanginya Tahan Lama, Pakai Parfum Sebaiknya Berapa Kali Semprot?