Suara.com - Desakan agar medali penghargaan Nobel Perdamaian yang diterima Konselor Myanmar, Aung San Suu Kyi, pada tahun 1991 semakin marak sejak dua pekan terakhir.
Sebabnya, Suu Kyi dinilai bungkam dan tak membela komunitas Rohingya di wilayah Rakhine, yang menjadi target persekusi militer Myanmar.
Namun, Kepala Nobel Institute Olav Njolstad menegaskan, predikat penerima Nobel Perdamaian Suu Kyi tidak bisa dicabut.
"Alfred Nobel (penggagas hadiah Nobel) tidak pernah mengatakan penghargaan itu bisa dicabut. Yayasan Nobel juga tak memunyai aturan pencabutan itu," kata Olav melalui pos elektronik kepada The Associated Press yang dikutip Telegraph, Jumat (8/9/2017).
Karenanya, Olav memasatikan pencabutan medali Nobel Perdamaian 1991 dari Suu Kyi merupakan kemustahilan.
"Tidak ada satu pun anggota komite di Stockholm dan Oslo pernah berpikir mengenai pencabutan penghargaan itu setelah diberikan kepada seseorang," tegasnya lagi.
Suu Kyi pada awal dekade lalu menerima Nobel Perdamaian atas perjuangan nonkekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia. Namun, kekinian, penghargaan itu dipertanyakan kepantasannya.
Sebab, 386.000 orang sudah menandatangani petisi yang digalang secara daring melalui laman Change.org, untuk mendesak Nobel Perdamaian ditarik dari Suu Kyi.
Suu Kyi dinilai memihak kepada militer dan pemerintah Myanmar yang melakukan persekusi terhadap warga Rohingya di Rakhine.
Baca Juga: Foto Resepsi Cynthia Bella Tersebar, Warganet Sibuk Kritik Ini
Dalam surat terbukanya, mantan Uskup Anglikan Afrika Selatan yang juga penerima Nobel Perdamaian, Desmond Tutu, mempertanyakan sikap bungkam Suu Kyi atas konflik Rohingya.
Menurutnya, sikap bungkam Suu Kyi itu secara tidak langsung merupakan persetujuan sehingga militer Myanmar leluasa menggelar operasi militer di Rakhine.
Bahkan, saat memberikan pernyataan, Suu Kyi justru menilai krisis Rohingya disebabkan peredaran berita-berita serta foto hoaks alias bohong mengenai kondisi Rohingya di Rakhine.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mengenal Kecanggihan Honda NX500 Motor Crossover Terbaru Pengganti CB500X
-
Qatar Ungkap Kemajuan Negosiasi AS-Iran, Harga Minyak Dunia Anjlok 4 Persen
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri