Suara.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres pada Rabu (13/9/2017) mengakui bahwa warga Rohingya yang beragama Islam telah menjadi korban pembersihan etnis oleh pemerintah Myanmar.
Berbicara dalam sebuah jumpa pers jelang pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Gutteres mendesak agar pemerintah Myanmar menghentikan kekerasan terhadap warga sipil Rohingya di negara bagian Rakhine.
"Saya mendesak otoritas Myanmar untuk menghentikan aksi militer, menghentikan kekerasan, menegakkan hukum, dan mengakui hak untuk pulang (dari pengungsian) dari semua warga yang telah meninggalkan negara itu," kata Gutterres.
Ketika ditanya wartawan apakah ia sepakat bahwa warga Rohingya telah menjadi korban pembersihan etnis di Myanmar, Gutteres menjawab jelas.
"Ketika sepertiga populasi Rohingya harus melarikan diri dari negeri itu, apa lagi kata yang paling tepat untuk menggambarkannya?" ujar Gutteres.
Aksi militer Myanmar, menyusul sejumlah serangan terhadap pos militer oleh kelompok militan Rohingya pada akhir Agustus lalu, telah menyebabkan 380.000 warga sipil mengungis ke Banglades.
Dalam kesempatan itu Gutteres juga mendesak pemerintah Myanmar untuk menjamin pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah negara bagian Rakhine yang mayoritas didiami oleh warga Rohingya.
Sekitar 1,1 juta warga Rohingya telah mengalami diskriminasi di Myanmar selama bertahun-tahun. Mereka bahkan tak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah, meski mereka telah hidup selama beratus-ratus tahun di wilayah tersebut.
Gutteres sendiri mendesak pemerintah Myanmar untuk memberikan status kewarganegaraan kepada warga Rohingya, sehingga mereka bisa hidup secara normal.
Dewan Keamanan PBB sendiri telah menggelar pertemuan tertutup untuk membahas situasi dan kondisi warga Rohingya atas permintaan pemerintah Inggris dan Swedia.
Pertemuan itu diharapkan akan menghasilkan kesepakatan agar PBB merespon krisis tersebut, meski diperkirakan bahwa Rusia dan Cina, dua sekutu Myanmar, akan menolak rencana tersebut. (AFP)
Berita Terkait
-
Grebek Jaringan Online Scam, Otoritas Myanmar Tangkap 48 WNI
-
'Tangan Ikut Berlumuran Darah', Alasan Sipil ASEAN Tolak Komnas HAM Myanmar di Forum Jakarta
-
Wawancara Eksklusif: Suara dari Myanmar Jurnalis Melawan di Tengah Represi
-
Pulangkan 26 WNI Korban Online Scam di Myanmar, Menteri P2MI: Jangan Tergiur Tawaran Kerja Ilegal
-
Mengapa Myanmar dan Kamboja Bukan Negara Tujuan Kerja yang Aman? Ini Penjelasan Pemerintah
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
Pilihan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
-
6 HP 5G Paling Murah di Bawah Rp 4 Juta, Investasi Terbaik untuk Gaming dan Streaming
Terkini
-
Bantu Korban Banjir Aceh, 94 SPPG Gerak Cepat Salurkan 282 Ribu Paket Makanan!
-
Tinjau Bencana Banjir di Aceh, Mendagri Beri Atensi pada Infrastruktur Publik yang Rusak
-
Presiden Prabowo Didesak Tetapkan Darurat Bencana Nasional di Sumatera
-
Banjir Terjang Sumatera, Pimpinan Komisi X DPR Desak Dispensasi Pembayaran Uang Sekolah Bagi Korban
-
Pakar Dorong Pengetatan IUP: Reboisasi Dinilai Kunci Perbaikan Tambang
-
Direktur Eksekutif CISA: Kapolri Konsisten Jaga Amanat Konstitusi sebagai Kekuatan Supremasi Sipil
-
Cak Imin Sebut Ada Peluang Pemerintah Tetapkan Banjir-Longsor di Sumatera Berstatus Bencana Nasional
-
Rasa Bersalah Bahlil Lahadalia Soal Masa Lalunya di Bisnis Tambang yang Merusak Hutan
-
Viral Banjir Sumatera Bawa Ribuan Kayu Gelondongan, DPR Desak Pemerintah Bentuk Tim Investigasi
-
BPJS Ketenagakerjaan Raih Platinum Rank dalam Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025