News / Internasional
Sabtu, 11 November 2017 | 06:21 WIB
Pengungsi Rohingya di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10).

Suara.com - Organisasi kemanusiaan internasiolal Bulan Sabit Merah menggambarkan krisis pengungsi Rohingya sebagai bencana buatan manusia terbesar di dunia. Sebab sejauh ini belum ada solusi kongkret untuk melindungi etnis Rohingya di Myanmar.

Kepala Bulan Sabit Merah, Mohammad Habibe Millat mengatakan Bangladesh melakukan semua cara untuk membantu lebih dari 611.000 etnis Rohingya yang telah melewati perbatasan dari Myanmar sejak 25 Agustus. Penerimaan Rohingya di Bangladesh hanya sementara.

"Sejak 25 Agustus, lebih dari 600.000 Rohingya, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, melewati perbatasan dari Myanmar ke Bangladesh. Ini adalah bencana buatan manusia terbesar di dunia. Kami sebagai pemerintah Bangladesh dan masyarakat Bulan Sabit Merah berusaha melakukan yang terbaik dan membuka perbatasan kami untuk mereka karena alasan kemanusiaan," kata dia.

Dia mengatakan musim dingin dalam waktu dekat menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan para pengungsi di kamp-kamp darurat di sepanjang perbatasan.

Rohingya digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia. Rohingya telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan tersebut.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan bayi dan anak kecil, pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh tentara Myanmar. (Anadolu)

Load More