Suara.com - Nyak Sandang (91), pria asal Aceh yang menyerahkan hartanya sejumlah Rp100 untuk membeli pesawat pertama Indonesia sudah bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu (21/3/2018). Saat itu, sejumlah hal yang ingin dilakukan pascaoperasi katarak di matanya berjalan dengan baik.
Menurut Maturidi, perwakilan keluarganya, selain ingin menjalankan ibadah haji, Nyak Sandang juga ingin kembali membaca berita dan juga Alquran.
"Pertama, beliau memang ingin seperti keinginan pertama, ingin membaca Quran, ingin membaca berita, bisa berjalan tanpa harus dituntun gitu," katanya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subtroto, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (31/3/2018).
Maturidi mengatakan untuk memwujudkan keinginan Nyak Sandang bisa menjalankan ibadah haji sangat bergantung kepada Presiden Jokowi. Namun, menurutnya, terkait hal itu, Jokowi sudah menyampaikan sendiri kepada Nyak Sandang.
"Insyaallah memang pernah diucapkan oleh Bapak presiden kalau untuk haji, memang kalau berkenan bapak presiden untuk menunaikan haji sekeluarganya, atau pak presiden juga sempat ngomong sambil menunggu haji apa monggo, tapi itu semua kembali ke Bapak presiden, bagaimana tindak lanjutnya," kata Maturidi.
Selain itu,pihak keluarga juga meyerahkan sepenuhnya kepada Presiden Jokowi, tentang layak tidaknya Nyak Sandang mendapat penghargaan yang tinggi. Keluarga kata dia hanya bisa mengucapkan terima kasih atas apa yang telah didapat Nyak Sandang hingga saat ini.
"Ya, kita keluarga terima kasih, terima kasih dan terima kasih, kembali ke bapak presiden, apa yang sebaiknya dilakukan untuk Nyak Sandang," tutupnya.
Nyak Sandang punya jasa besar bagi Indonesia. Ia menjual sepetak tanah dan 10 gram emas seharga Rp100 saat berusia 23 tahun. Nyak Sandang memberikan uang itu kepada Presiden Soekarno pada 1948. Presiden Pertama RI itu tengah mencari dana untuk membeli pesawat pertama Indonesia.
Dari kontribusi Nyak Sandang dan warga Aceh lain, Indonesia bisa membeli dua pesawat terbang yang diberi nama Seulawah R-001 dan Seulawah R-002. Dua pesawat tersebut merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia Airways.
Nyak Sandang (91), pria asal Aceh yang menyerahkan hartanya sejumlah Rp100 untuk membeli pesawat pertama Indonesia sudah bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu (21/3/2018). Saat itu, sejumlah hal yang ingin dilakukan pascaoperasi katarak di matanya berjalan dengan baik.
Menurut Maturidi, perwakilan keluarganya, selain ingin menjalankan ibadah haji, Nyak Sandang juga ingin kembali membaca berita dan juga Alquran.
"Pertama, beliau memang ingin seperti keinginan pertama, ingin membaca Quran, ingin membaca berita, bisa berjalan tanpa harus dituntun gitu," katanya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subtroto, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (31/3/2018).
Maturidi mengatakan untuk memwujudkan keinginan Nyak Sandang bisa menjalankan ibadah haji sangat bergantung kepada Presiden Jokowi. Namun, menurutnya, terkait hal itu, Jokowi sudah menyampaikan sendiri kepada Nyak Sandang.
"Insyaallah memang pernah diucapkan oleh Bapak presiden kalau untuk haji, memang kalau berkenan bapak presiden untuk menunaikan haji sekeluarganya, atau pak presiden juga sempat ngomong sambil menunggu haji apa monggo, tapi itu semua kembali ke Bapak presiden, bagaimana tindak lanjutnya," kata Maturidi.
Selain itu,pihak keluarga juga meyerahkan sepenuhnya kepada Presiden Jokowi, tentang layak tidaknya Nyak Sandang mendapat penghargaan yang tinggi. Keluarga kata dia hanya bisa mengucapkan terima kasih atas apa yang telah didapat Nyak Sandang hingga saat ini.
Berita Terkait
-
Disebut Danai Ijazah Palsu Jokowi, Jusuf Kalla Laporkan Pencemaran Nama Baik
-
DPR Ungkap Persiapan Haji 2026 Belum 100 Persen Maksimal: Tenda di Arafah-Mina Masih Bermasalah
-
Keluarga Urus Badal Haji untuk Almarhum Vidi Aldiano, Apa Itu dan Bagaimana Prosedurnya?
-
Perbedaan Mencolok Hampers Jokowi dan Prabowo: Camilan Tradisional vs Bahan Dapur
-
Konflik di Timur Tengah, Puan Maharani Dorong Ibadah Haji Tetap Diupayakan dengan Mitigasi Ketat
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Kasus Mens Rea: Pandji Pragiwaksono Temui Pelapor di Polda Metro Jaya, Ini Hasil Pertemuannya
-
Ketimbang Tambah Utang Luar Negeri, Ekonom UMY Minta Prabowo Pangkas Gaji Pejabat
-
Geger! Penyamaran Rey Terbongkar di Malam Pertama, Intan Laporkan Kasus Nikah Sesama Jenis di Malang
-
Moeldoko: Pakai Mobil Listrik Lebih Hemat, Biaya BBM dari Rp 6 Juta Jadi Rp 800 Ribu
-
HOAKS! Donald Trump Provokasi Masyarakat Indonesia yang Sunni agar Tak Dukung Iran
-
DPRD DKI Kritik Perizinan Rumah Ibadah di Jakarta yang Masih Berlarut-Larut
-
Jalankan Instruksi Prabowo, Kemnaker Siap Perluas Program Magang ke Luar Negeri
-
Siasat Ngirit KSAU: Pesawat Tempur Latihan Sambil Patroli, Hemat BBM Tanpa Kurangi Pengawasan
-
Kronologi AS-Iran Kembali Memanas Gegara Ulah Israel, Gencatan Senjata Gagal?
-
Kemnaker Usul Tambah Kuota Program Magang 2026 hingga 150 Ribu Orang