Suara.com - Ketua Gerakan Satu Periode, Sangap Surbakti menilai kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) telah gagal karena tidak menjalankan program nawacitanya selama hampir lima tahun masa kepemerintahannya.
"Pertama sebetulnya sudah bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan Jokowi - JK gagal. Karena tidak menjalankan program nawacitanya," ujar Sangap di Kantor IJW, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/7/2018).
Memasuki tahun terakhir masa kepemimpinan Jokowi - JK, Sanggap melihat indikasi-indikasi kegagalan mulai dari sektor ekonomi, politik, budaya, penegakan hukum dan tenaga kerja.
"Itu semua mengatakan hancur. Sampai hari ini rupiah 14 ribuan. Nah kita mau sampai kapan," kata dia.
Sanggap menilai jika negara ini sudah krisis dan berbeda dengan tahun 1997-1998 lalu.
"Krisisnya dalam konteks waktu itu kita belum pernah merasakan saat itu jadi bangsa yang begitu terpukul. Sekarang ini kita dari 98 sampai 20 tahun di 2018 ini masih krisis," ujarnya lagi.
Melihat kondisi itu, Sanggap menegaskan apabila pemerintahan saat ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Ia juga melihat beberapa infrastruktur yang dibangun pemerintah saat ini dinilai sia-sia karena hanya menambah hutang negara saja.
"Saya tiap hari pulang ke Bekasi tanya sama orang yang pulang ke Bekasi, becak kayu itu dia bangun itu ada yang naikin tidak? Itu maintenance sih besar, jadi tidak ada. Infrastruktur yang di daerah juga dibangun tidak ada yang naik. Kita gak butuh itu sekarang," ungkap Sanggap.
Kalau pun ingin membangun infrastruktur, itu harus dilihat dari bagaimana sektor-sektor lainnya dan bagaimana kondisi ekonomi.
Baca Juga: Marsha Aruan Kesulitan Akting Bareng Seleb Gaul
"Saya orang Medan. Medan-Binjai itu dibangun tol. Saya tanya sopir angkot kenapa kalian gak masuk tol? Jawabannya tidak ada penumpang bang buat apa kami masuk tol. Jadi kami tetap lewat jalan biasa. Akhirnya jalan tol itu juga tidak ada yang menggunakan. Jadi rasionalitas sewaktu dibangun jalan tol itu sekarang tidak terpenuhi," beber Sanggap.
Ia menambahkan, jika infrastruktur itu tidak sesuai dengan pola pembangunan. Hanya menambah hutang luar negeri yang mana harus dibayar Oktober 2018 ini sekaligus bunganya.
Menurut Sanggap, yang perlu dibangun dan mendesak saat ini adalah lapangan kerja, harga yang turun serta biaya sekolah yang tidak mahal.
"Nah karena lapangan pekerjaan sulit, akhirnya yang makan Rp 15 ribu per hari pun susah," pungkasnya. (Lili Handayani)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Rangkul Homeless Media, Bakom Perkenalkan Mitra Baru New Media Forum
-
Kasus PRT Loncat dari Lantai 4, Polisi Tetapkan Pengacara Adriel Viari Purba Tersangka
-
Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus 'Majikan Sadis' di Benhil, Ini Perannya!
-
Pemilik Blueray Cargo Didakwa Suap Rp61,3 Miliar ke Pejabat Bea Cukai demi Loloskan Barang Impor
-
Wamendagri Ribka Haluk Dorong Peran Perempuan Usai Raih Penghargaan
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Sinergi Pusat dan Daerah untuk Hadapi Tantangan Global
-
Anggota Komisi III DPR Dukung RUU Polri Atur Jabatan Polisi di Luar Institusi Dibatasi: Supaya Jelas
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Pemerintah Telah Salurkan Dana Rp 10,65 Triliun untuk Kebut Rehabilitasi Pascabencana Sumatera
-
Kabar Gembira! Pajak Kendaraan Listrik di Jakarta Tetap Nol Rupiah, Ini 5 Fakta Terbarunya