Suara.com - Sejumlah desa di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih terisolir akibat gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) yang mengguncang pada, Minggu (5/8/2018) malam.
Informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah Lombok Utara terkena dampak paling parah. Salah satunya di Desa Bayan Belek, Kecamatan Bayan.
Banyak warga setempat yang belum tersentuh bantuan lantaran logistik yang tidak mencukupi, disamping akses jembatan penghubung yang mengalami kerusakan.
Baca Juga: Begini Kiat Pesilat Cantik Wewey Wita Usir Gugup Jelang Asian Games
"Lombok Utara adalah wilayah yang paling (parah) terkena dampak, karena dekat dengan pusat gempa," tutur Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, gedung Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (7/8/2018).
"Sampai saat ini belum semua masyarakat di sana mendapat bantuan," Sutopo menerangkan.
Selain itu, listrik di Kecamatan Bayan juga masih padam. Ini akibat kerusakan infrastruktur jaringan dan beberapa gardu listrik dampak dari gempa Lombok.
Secara keseluruhan, baru sekitar 25 persen aliran listrik di wilayah Lombok Utara yang sudah kembali normal. Namun begitu, pihak PLN terus berupaya secepatnya melakukan perbaikan.
Keterbatasan air bersih juga menjadi kendala terbesar yang dihadapi warga di Lombok Utara akibat terputusnya saluran air PDAM.
Sutopo menambahkan, terdapat lima jembatan penghubung antar kecamatan yang rusak, sehingga menyebabkan akses pengiriman bantuan dan evakuasi korban terhambat.
Baca Juga: Mengenal Simone Julia, Atlet Jiu Jitsu Blasteran Kanada - Indonesia
Kelima jembatan yang rusak tersebut, antara lain Jembatan Tampres yang menghubungkan Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan, Jembatan Lorok Duren yang menghubungkan Kecamatan Kayangan dan Kecamatan Gangga.
Selain itu, ada pula Jembatan Luk, Jembatan Sokong dan Jembatan Lokok Tampes yang mengalami kerusakan dampak gempa Lombok. [Annisya Heriyanti]
Berita Terkait
-
Korban Gempa Bumi Venezuela Melonjak, 60 Ribu Orang Dirawat di Rumah Sakit
-
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 6.125 Orang
-
Kenapa Jepang Sering Diguncang Gempa Bumi Besar?
-
Korban Tewas Gempa Jepang Tembus 34 Orang, Masih Banyak Terjebak di Bangunan Runtuh
-
Gempa Jepang Lumpuhkan Pabrik Otomotif Hingga Kelangkaan Suku Cadang, Toyota Stop Produksi Sementara
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan