News / Nasional
Rabu, 08 Agustus 2018 | 12:00 WIB
Menteri Pariwisata, Arief Yahya. (Dok: Kemenpar)

Suara.com - Upaya pemerintah untuk mengantarkan wisatawan dari Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno dituntaskan, Senin, 6 Agustus 2018. Itulah komitmen bersama Menpar Arief Yahya, Menhub Budi Karya Sumadi dan Kabasarnas Marskal Muda, TNI M Syaugi .

“Iya, betul. Pengantaran para wisatawan dari Gili ke Pulau Lombok diharapkan dapat dituntaskan hari ini. Harap bersabar ya. Beberapa kapal dengan ukuran cukup besar mulai mendekat Gili,” jelas Arief, yang terus memantau dari Jakarta, ketika itu.

Bagaimana dampak gempa bagi pariwisata Lombok dan Bali?

Angkanya belum dapat diprediksi, karena masih fokus pada proses mengantarkan wisatawan dan memastikan akses, amenitas, dan atraksi (3A) beres.

“Kalau dari pengalaman bencana erupsi Gunung Agung tahun lalu, dampaknya sekitar 1 juta wisman yang membatalkan kunjungan ke Indonesia. Dampak bencana gempa Lombok ini, diperkiran 100 ribu wisman akan membatalkan kunjungan ke Indonesia,” ujar Menpar.

Cara menghitungnya,  jumlah wisman di Bali dibandingkan dengan di Lombok adalah 5 : 1. Lalu durasi bencana Bali dan Lombok sekitar 2 : 1.

“Jadi dampak bencana gempa Lombok sekitar 1/10 atau 10 persen dari dampak bencana erupsi Gunung Agung Bali, yang jumlahnya 1 juta atau sekitar 100 ribu,” jelas Arief lagi.

Banyak juga yang menanyakan, berapa banyak wisatawan yang keluar atau diungsikan dari Lombok?

“Kita sekarang sedang fokus menjemput wisatawan di Pulau Gili. Total warga dan wisatawan di Gili sekitar 1000. Yang sudah menyeberang 300 (angka resmi Pemerintah : 358),” ujarnya.

Baca Juga: Bantu Kemenpar, BRI Salurkan Barang Kebutuhan Korban Gempa Lombok

Lalu apa langkah pemerintah untuk memulihkan pariwisata di Lombok dan Bali? Bagaimana mengembalikan kepercayaan wisatawan dunia untuk berwisata ke lombok?

Bencana bisa terjadi dimana-mana di seluruh dunia. Ada bencana alam, ada juga karena kerusuhan, termasuk juga terorisme.

“Yang terpenting, bagaimana kita memberikan pelayanan terkait dengan bencana tersebut,” kata menteri yang ahli marketing itu.

Ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, memberikan pelayanan informasi terkini terus menerus, agar tidak ada kepanikan, terutama informasi resmi (official statement).

Kedua, memberikan pelayanan kepada wisatawan, terutama terkait dengan akses tranportasi dan akomodasi. Ketiga, terkait pemulihan destinasi pariwisata setelah bencana telah usai, yang berhubungan dengan atraksi, akses dan akomodasi.

Jika berkaca pada pengalaman waktu gempa Lombok, Minggu 29 Juli lalu, ketiga hal itu dikerjakan dengan baik oleh Pemprov NTB, Poltekpar Lombok, industri pariwisata Lombok dan Kemenpar.

Load More