Suara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, tingkat kesejahteraan para petani mengalami peningkatan positif selama masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hal ini berimplikasi pada angka penduduk miskin di pedesaan yang mengalami penurunan.
Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iwantoro, mengatakan, dari hasil data yang diperoleh pada periode Januari - September 2018, Nilai Tukar Petani (NTP), yang menjadi tolak ukur daya beli petani mengalami kenaikan 102,25 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan NTP periode yang sama pada 2014, yang hanya 101,98 persen.
"Kesejahteraan petani dilihat dari NTP yang menjadi tolak ukur daya beli. Ini mengalami kenaikan 0,27 persen dibandingkan periode yang sama pada 2014," katanya, saat ditemui di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (24/10/2018).
Syukur menjelaskan, kesejahteraan petani juga dapat dilihat dari Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP), yang terus mengalami perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2014, NTUP Pertanian Sempit tanpa Perikanan hanya mencapai 106,5 persen, tapi memasuki 2015, NTUP mulai mengalami peningkatan menjadi 107,44 persen.
"Pada 2016, naik lagi menjadi 109,83 persen sampai pada 2017, kembali membaik di angka 110,03 persen," ujar Syukur.
Peningkatan kesejahteraan petani pun memiliki dampak terhadap penurunan angka penduduk miskin di pedesaan. Tercatat, pada Maret 2015, angka penduduk miskin di pedesaan mencapai 14,21 persen atau sebanyak 17,94 juta jiwa.
Pada Maret 2016, angka itu menurun perlahan menjadi 14,11 persen atau menjadi 17,67 juta jiwa, sementara 2017, angka menjadi 13,93 persen atau 17,09 juta jiwa. Penurunan kembali terjadi pada 2018, yang mana penduduk miskin pedesaan menjadi 13,47 persen atau 15,81 juta jiwa.
"Bahkan kemiskinan keseluruhan secara nasional ditekan menjadi 9,82 persen. Ini terendah dalam sejarah. Ini berkat berbagai kebijakan bidang pertanian yang mampu memberi dampak signifikan," katanya.
Baca Juga: Keanekaragaman Hayati, Kementan Satukan Database Varietas Lokal
Berita Terkait
-
Program SMK 4 Tahun dan SMK Go Global Mulai Berjalan, Ini Jurusan yang Jadi Prioritas
-
Pupuk Lancar Gabah Mahal, Petani Majalengka Bongkar Rahasia Cuan di Era Prabowo
-
Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026
-
7 Fakta Pilu Bocah 4 Tahun di Kediri Tewas Dianiaya Nenek: Pendarahan Ginjal Hingga Alibi Bohong!
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Cegah Kelelahan dan Dominasi Elit, Titi Anggraini Desak Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah
-
Kepala Daerah dan PPPK Tak Perlu Khawatir, Pelaksanaan Pasal 146 UU HKPD Akan Diatur Melalui UU APBN
-
Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Sedang Genting, BIMP-EAGA Harus Lebih Adaptif dan Berdampak
-
Dari Jombang hingga Pati: Mengapa Ponpes Terus Menjadi Titik Merah Predator Seks?
-
Sesumbar Donald Trump Usai 3 Kapal Perang AS Dibombardir Iran di Selat Hormuz
-
Skenario Jahat Zionis Israel Terkuak! Ciptakan Krisis Malnutrisi di Gaza
-
Viral Tampilan Sederhana Sultan Brunei Saat Wisuda Anak, Netizen: Tapi Jamnya Rp2,3 Miliar
-
Era Baru Dimulai, Robot Rp234 Juta Disumpah Jadi Biksu Buddha
-
Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Bakal Jadi Pandemi? Ini Penjelasan Resmi WHO
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional