Suara.com - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri, mengungkapkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) selama empat tahun terakhir terus mengalami penurunan. Turunnya tingkat pengangguran tersebut merupakan angka terendah selama dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, angka pengangguran terbuka sekitar 6,18 persen, menurun setahun berikutnya menjadi 5,61 persen, dan pada 2017 kembali merosot menjadi 5,50 persen. Hingga Agustus 2018, tingkat pengangguran terbuka kembali turun menjadi 5,34 persen.
"Bicara masalah pengangguran, harus dikatakan bahwa capaian pemerintah saat ini, sesuai dengan yang kita harapkan, “ ujar Hanif, saat menjadi narasumber "Press Conference Forum Merdeka Barat 9 (FMB9)" bertema “Pengurangan Pengangguran” di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan ini, hadir juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dan Kepala Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro.
Hanif menjelaskan, secara keseluruhan trennya positif, namun perluasan kesempatan kerja harus terus dilakukan di perkotaan dan pedesaan. Menurutnya, pertumbuhan industri manufaktur, pariwisata, makanan dan minuman juga berkontribusi terhadap penyerapan lapangan kerja.
"Tren dari semua basis pendidikan, TPT mengalami penurunan. Ini artinya positif. Saya ingin lihat dari sisi ini agar kita optimistismelihat bangsa ini . Kalau tidak, nanti isinya mengeluh dan komplain, seolah-olah tak ada masa depan, " katanya.
Dari tingkat pendidikan, Hanif mengatakan, meski TPT pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selalu paling tinggi kontribusinya, namun sejak 2015, trennya relatif mengalami penurunan.Pada 2015, TPT pendidikan SMK sebesar 12,65 persen, menurun pada 2016 menjadi 11.11 persen, 11,41 (2017) dan hingga Agustus 2018 sebesar 11,24 persen.
Hanif mengakui banyak problem SDM di angkatan kerja, termasuk lulusan SMK. Hingga saat ini, profil ketenagakerjaan secara keseluruhan pada 2018 masih menantang. Adapun dari 131 juta angkatan kerja, 58 persennya masih lulusan SD/SMP.
Namun Hanif menegaskan, pihaknya telah melakukan terobosan-terobosan, yakni berupa perbaikan akses dan mutu pendidikan formal, utamanya pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Kedua, memperbaiki akses dan mutu vocational training secara masif. Langkah ini diperlukan untuk mengatasi tiga problem tenaga kerja, yakni kualitas, kuantitas dan persebaran tenaga kerja.
Baca Juga: Hadapi Ekonomi Digital, Kemnaker Siapkan Generasi Muda Indonesia
"Itu kunci masa depan, akses dan mutu harus diperbaiki, " ujarnya.
Ia menambahkan, yang dilakukan pemerintah untuk memperkuat pemagangan dan vocational training, salah satunya adalah kebijakan triple skilling (skilling, upskilling dan re-skilling).Bagi tenaga kerja yang belum punya keterampilan dapat mengikuti program skilling agar punya keahlian di bidang tertentu.
Bagi tenaga kerja yang telah memiliki skill dan membutuhkan peningkatan akan masuk program upskilling, sedangkan yang ingin beralih skill dapat masuk ke program re-skilling.
Kepala PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro menambahkan, jumlah lapangan kerja Indonesia pada 2018 telah melampaui target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, yakni meningkat 2,99 juta dibandingkan 2017.
Dalam rentang 2015-2018, pemerintah telah berhasil menciptakan 9,38 juta lapangan kerja. Secara absolut, jumlah pengangguran juga turun 40 ribu orang, sehingga TPT telah berhasil diturunkan menjadi 5,34 persen tahun ini.
“Penurunan ini dapat dicapai dengan penciptaan kesempatan kerja sebanyak 2,6-2,9 juta orang, dan lapangan kerja formal di sektor bernilai tinggi, yang dapat menyerap angkatan kerja berpendidikan SMA ke atas,” ujanya.
Berita Terkait
-
Menaker Terbitkan SE WFH untuk Swasta, Tak Harus Hari Jumat Seperti ASN
-
WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Tak Harus Setiap Jumat
-
Imbauan WFH 1 Hari Seminggu di Sektor Swasta Dapat Dukungan Pengusaha dan Pekerja
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
-
Aziz Yanuar Ungkap Noel Ajukan Penahanan Rumah untuk Uji Konsistensi Penegakan Hukum
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
Terkini
-
ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru
-
H-7 Keberangkatan, Pemerintah: Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung 100 Persen
-
Kasus Pelecehan Seksual FH UI: Bukti Dunia Pendidikan Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja?
-
Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Polri Longgarkan Syarat Pajak Kendaraan Bekas di Seluruh Daerah!
-
Eropa Bersiap AS Keluar dari NATO, Trump yang 'Mencla-mencle' Jadi Sorotan Jerman
-
Ancam Kesehatan dan Lingkungan: DKI Gelar Operasi Basmi Ikan Sapu-sapu Jumat Lusa
-
Horor di Sekolah Turki: Anak Mantan Polisi Tembak 4 Orang Tewas, 20 Lainnya Luka-luka
-
Pemimpin Fatah Marwan Barghouti Disiksa di Penjara Israel, Dipukuli hingga Diserang Anjing
-
Fakta Baru Kasus Begal Damkar di Gambir: 3 dari 5 Pelaku Ternyata Penjahat Kambuhan!
-
Catat! Ini Jadwal Lengkap Keberangkatan Haji Indonesia 2026