Suara.com - Hasil rapat pleno Musyawarah Nasional (Munas) Ulama di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat yang salah satunya merekomendasikan untuk tidak menyebut istilah kafir kepada non-muslim, mendapat tentangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau.
Ketua MUI Riau, Nazir Karim menyayangkan hasil rekomendasi musyawarah yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut karena istilah kafir memang diperuntukan untuk non-muslim.
Pendapat mantan rektor dua periode Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau tersebut, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang menyebut istilah "kafir" diartikan sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah.
"Kalau orang tidak beriman ya kafir lah. Itu satu-satunya Istilah dalam Alquran. Tidak boleh diubah karena Allah yang bilang. Mana bisa diselesaikan dengan cara musyawarah seperti itu," tegas Nazir, Sabtu (02/03/2019).
Lebih lanjut, Nazir menjelaskan dalam Alquran telah dikelompokkan tiga golongan yang ada di dunia dengan merujuk pada surat Al Baqarah, yakni mukmin, kafir dan munafik.
Nazir menjelaskan istilah mukminin disebut orang beriman, kemudian kafir disebut sebagai golongan orang yang sudah diajak dan diperingatkan tetapi tetap ingkar, dan munafik orang yang mengaku beriman tapi hanya sebatas lisan saja.
"Kita ini tidak menistakan kaum kafir. Itu jelas tidak boleh. Ayat terakhir dalam Alquran (surat Al Kafirun) itu khusus untuk mereka," tegasnya.
Berita Terkait
-
NU Mau Hapus Istilah Kafir untuk Non Muslim, Warganet: Ngaco
-
Polemik Panggilan Kafir ke Non Muslim, Ini Perbedaan Kafir dan Non Muslim
-
NU Hapus Kata Kafir, Fahri: Kafir Istilah Kitab Suci, Gak Bisa Diamandemen
-
NU: Kata Kafir Menyakiti Sebagian Kelompok Non Muslim
-
Usai Tsunami, Pendekar Banten Marah Ada Foto Ulama Bertulis Kafir di Jidat
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri
-
Maraton Geledah Tiga Lokasi di Bali, KPK Amankan Barang Bukti Kasus Pemerasan WNA
-
Penyakit Bawaan Ditemukan Saat Pemeriksaan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri
-
KPK Dalami Dugaan Penerimaan Uang Hasil Pemerasan WNA dalam Kasus Silmy Karim
-
Anak 5 Tahun Bongkar Dugaan Pembunuhan Ibunya di Tambora
-
KPK Cecar Yaqut soal Barang Bukti Kasus Korupsi Haji yang Telah Dikumpulkan Penyidik
-
Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru Anak Miskin, Wamensos: Presiden Jalankan Amanat Konstitusi
-
Pramono Siapkan 500 Ondel-Ondel Karya Desainer Top untuk Rayakan 5 Abad Jakarta
-
Irma Suryani: Program MBG Bisa Jadi Mudarat Jika Salah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!