Garin mengatakan sejarah menunjukkan, sejak revolusi Industri 1.0 menjadikan banyak negara Eropa bertumbuh pesat kesejahteraan ekonominya untuk membangun serta menata dasar struktur serta superstruktur peradaban baru.
Misalnya kata Garin, kekayaan VOC sebagai korporasi ekonomi liberal terbesar dalam sejarah, kekuasaan VOC melebihi kekuasaan ekonomi Microsoft sekarang ini ataupun Petro China hingga Arab.
Selain itu, Garin menyebut peradaban menunjukkan bahwa realitas ekonomi dan sosial di Hindia Timur saat itu menunjukkan sebaliknya, banyak aspek hilang dalam narasi abad itu.
Pertama kata dia, kaum Bumi Putera kehilangan tanahnya dan bekerja sebagi buruh di perkebunan untuk tanaman eksport, namun upah tidak cukup memadai untuk batas minimum kehidupan.
Kemudian kedua, akses terhadap modal, teknologi baru dan produktivitas dikuasai elit ekonomi dan politik, yakni China dan Barat.
Ketiga, beragam jenis pajak ditumbuhkan untuk menarik modal ekonomi lewat kerja sama dengan elit penguasa lokal, rakyat menjadi sapi perahan. Keempat, sebagian para pejabat pribumi bukan pemberdaya dan melayani rakyat, namun dilayani rakyat untuk kekayaan pribadi serta kesejahteraan korporasi global. Kelima, menjamurnya korupsi baik pejabat lokal ataupun VOC dalam pola kerjasama yang sistemik.
"Keenam, liberalisme ekonomi dan kapitalisme dengan daya pegas revolusi teknologi baru tenyata tidak cukup memberi kesejahteraan umum masyarakat pribumi. Mesin uap lewat kereta api dan kapal serta infrstruktur jalan justru menjadi kepanjangan global mengambil kekayaan dan memeras tenaga rakyat yang semakin tidak sejahtera," ucap Garin.
Warisan itu, kata Garin Nugroho layak diberi garis bawah sendiri di tengah awal revolusi 4.0.
"Inilah sebuah warisan sangat kompleks revolusi Industri 1.0 yang jejaknya pasti terus hidup hingga sekarang. Meski, harus diakui, revolusi indusri 1.0 melahirkan, manusia genuine, meski sedikit, mampu melahirkan negara ini beserta kelengkapan pertumbuhan sebagai sebuah bangsa, termasuk para jurnalis humanis yang kemudian banyak masuk di politik. Dengan kata lain, jurnalisme ditumbuhkan oleh, untuk dan dari humanisme," tuturnya.
Baca Juga: Seru, Jet Formula UGM Bakal Bertarung di Jepang
Hilangnya Keseriusan Membangun Dasar Perubahan
Garin menyebut salah satu dasar pertumbuhan peradaban bangsa adalah kemampuan mengolah kebangkitan di setiap momentum perubahan untuk meletakkan dasar struktur dan superstruktur bagi peta baru peradaban.
Dengan bangunan dasar di setiap perubahan, kata dia, sebuah bangsa mampu mendobrak secara struktural ketidakadilan serta ketimpagan sosial ekonomi.
"Jika kerja serius dan struktural ini tidak terjadi, teknologi baru atau revolusi industri 4.0 sekedar menjadi euforia penuh jargon, kemudian menjadi iming–iming serta narasi semu menutupi ketidaksiapan dan ketidakmampuan menghadapi jaman baru atau hanya menjadi topeng alias hiasan permukaan," kata Garin Nugroho.
Tak hanya itu, Garin mengatakan lewat kekayaan yang bertumbuh exponensial era liberalisme ekonomi 1.0, sebagian besar bangsa Eropa mampu memanfaatkan momentum tadi untuk menumbuhkan masyarakat sipil yang produktif dan kritis sekaligus membangun manajemen talenta manusia beragam profesi.
Garin mengatakan salah satu bangunan menjaga masyarakat sipil kritis dan produktif adalah membangun institusi publik, guna warga bangsa mampu mengolah, mengkontruksi dan dekonstruksi narasi bangsanya, baik lewat sumber foto, film, lukisan hingga beragam bentuk data dan informasi.
"Sebutlah lewat tersedianya beragam museum dan galeri hingga institusi kajian data. Dengan demikian mampu secara produktif mengelola perubahan jaman," ucap Garin Nugroho.
Sementara di Indonesia, kata Garin ketidakmampuan serta ketidakseriusan membangun masyarakat sipil beserta institusinya di setiap periode pertumbuhan ekonomi, menjadikan revolusi industri berbasis teknologi tidak bertumbuh linear, namun campur aduk, paradoks serta penuh goncangan dengan dampak tak terkendali.
Sebutlah, meski abad 21 ini disebut sebagai revolusi industri 4.0, ditandai dengan internet thinking dan online, namun realitas sehari-hari didominasi campur aduk karakter industri 2.0 dan 3.0.
"Perlu dicatat, era 2.0 ditandai dengan listrik dan industri masal, sementara era 3.0 ditandai dengan komputerisasi dan otomatisasi," ucapnya.
Ia menduga situasi campur aduk penuh paradoks ini, melahirkan kehilangan panduan serta dasar pertumbuhan berbagai sendi kehidupan berbangsa yang kompleks, ditambah lagi warisan revolusi industri 1.0 yang belum terpecahkan.
Menurutnya, catatan khusus perihal kehilangan dan ketimpangan bisa dilihat di era Presiden Soeharto.
Menjadi kenyataan, bahwa institusi–institusi data, informasi dan narasi berbangsa dikuasi oleh pemerintah bukan oleh masyarakat sipil. Narasi menjadi tunggal dan seragam sesuai dengan keinginan kekuasaan, menutupi berbagai ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik.
Laman berikut berbincang soal televisi swasta dan globalisme lewat satelit.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Hantavirus Masuk Singapura? Dua Penumpang Kapal MV Hondius Diisolasi
-
Berada di MV Hondius, Youtuber Ruhi Cenet Bongkar Fakta Ngeri saat Hantavirus Tewaskan 3 Orang
-
Sambut HUT ke-499, Jakarta Gelar Car Free Day di Jalan Rasuna Said Minggu Pagi, Cek Titik Parkirnya!
-
Kemensos Bentuk Tim Khusus untuk Mendalami Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat
-
Kutuk Aksi Cabul Ashari di Ponpes Pati, Gus Ipul: Jangan Jadikan Pesantren Kedok!
-
Soroti Kasus Kiai Cabul di Pati, KSP Dudung: Lindungi Korban, Tindak Tegas Pelakunya!
-
Prabowo 'Pamer' Proyek 100 GW Surya RI di ASEAN, Ingatkan Ancaman Krisis Energi
-
Cegah Kelelahan dan Dominasi Elit, Titi Anggraini Desak Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah
-
Kepala Daerah dan PPPK Tak Perlu Khawatir, Pelaksanaan Pasal 146 UU HKPD Akan Diatur Melalui UU APBN
-
Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Sedang Genting, BIMP-EAGA Harus Lebih Adaptif dan Berdampak