Suara.com - Warga Kampung Iniye, Distrik Mbua, Nduga, Papua, dan aktivis Jaringan Pembela HAM Pegunungan Tengah, digegerkan oleh penemuan lima jenazah dalam satu lubang yang ditutupi dedaunan sebelum ditimbun tanah.
Kelima jenazah yang tiga di antaranya adalah perempuan itu, ditemukan pada hari Kamis (10/10) pekan ini. Warga setempat menduga kelimanya tewas ditembak aparat TNI.
Samuel Tabuni, tokoh pemuda Nduga yang juga merupakan saudara dari korban menjelaskan, tanggal 20 September, kelima korban dari Wamena hendak ke Nduga untuk membawa bahan makanan.
Mereka menggunakan Mobil Estrada. Korban saat itu bersama rombongan pemuda Nduga. Di Kampung Iniye, sejumlah orang memisahkan diri membawa bahan makanan ke kampung masing-masing.
Sedangkan korban bersama rombongan yang tersisa menyimpan bahan makanan yang mereka bawa di Gua Batu di Gunung Kanbobo, karena tempat mereka masih jauh dari Kampung Iniye. Korban kemudian menginap di Kampung Iniye.
“Pada tanggal 21 September, lima orang berniat mengambil bahan makanan yang mereka simpan di Gua Batu. Sementara yang lainnya menyusul kemudian. Saat rombongan lainnya sedang menyusul, terdengar bunyi tembakan sehingga mereka tak berani meneruskan perjalanan mereka ke Gua Batu. Mereka berbalik kembali ke Iniye lalu menelpon saya,” kata Samuel Tabuni seperti dikutip Suara.com dari Jubi.co.id, Minggu (13/10/2019).
Samuel melanjutkan, ia masih belum yakin terhadap informasi yang didapatnya dari warga di Kampung Iniye. Ia kemudian meminta bantuan kepada aparat keamanan untuk mencari tahu kebenaran informasi tersebut.
Namun aparat keamanan mengatakan tidak ada laporan mengenai insiden penembakan di Mbua.
“Ini saudara saya yang jadi korban, sehingga saya terus mencari tahu kebenarannya. Setelah lebih 20 hari, akhirnya terungkap juga bahwa benar kelimanya menjadi korban penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI,” kata Samuel Tabuni.
Baca Juga: Kemensos Segera Kirim Bantuan untuk Pengungsi Nduga
Ia menyebutkan, warga yang menghubungi dirinya mengatakan melihat anggota TNI di sekitar Gua Batu.
Lima orang yang meninggal itu adalah Ibu Yuliana Dronggi (35 tahun), Ibu Jelince Bugi (25 tahun), Ibu Macen Kusumbrue (26 tahun), Tolop Bugi (13 tahun) dan Hardius Bugi (15 tahun).
Kelimanya ditemukan dalam kondisi membusuk dalam satu lubang lalu ditutupi dengan rumput dan daun-daun.
“Jenazah mereka ditemukan oleh sejumlah warga dan JapHAM Pegunungan Tengah yang dipimpin Theo Hesegem,” kata Samuel Tabuni.
Sejak konflik di Nduga pecah pada awal Desember hingga saat ini, 189 orang telah meninggal dunia karena kelaparan dipengungsian ataupun ditembak oleh anggota TNI dan Polri. Ribuan warga Nduga telah mengungsi serta 39 gereja dikosongkan.
Rakyat Nduga, menurut Samuel Tabuni, menuntut penarikan semua pasukan TNI/Polri dari Nduga dan membutuhkan intervensi bantuan kemanusiaan untuk membawa bantuan kemanusiaan, obat-obatan, bahan makanan dan investigasi independen oleh lembaga kemanusiaan Internasional.
Berita Terkait
-
9 Bulan Mengungsi Tanpa Bantuan, 184 Warga Nduga Tewas, 41 antaranya Bocah
-
Warga Papua: Pemerintah Tak Adil Tangani antara Pengungsi Wamena dan Nduga
-
Selidiki Kabar Adanya Korban Kemanusiaan di Nduga, Polda Papua Kirimkan Tim
-
Pejabat di Nduga Klaim Jumlah Pengungsi Capai 45 Ribu Orang
-
Gubernur Papua Perintahkan Pendataan Ulang Pengungsi Nduga
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Takut Teror Susulan, Ahmad Bahar Minta Perlindungan LPSK Usai Konflik dengan Hercules
-
'Saya Mengaku Bersalah', Penyesalan Noel ke Buruh dan Keluarga di Sidang Korupsi K3
-
TNI Disuruh Urus MBG hingga Begal, Pakar UGM: Lalu Siapa yang Menjaga Pertahanan Negara?
-
Jembatan dan Sekolah Masih Jadi PR, Muzakir Manaf Buka-bukaan Soal Kondisi Terkini Aceh Pascabencana
-
Tangis Penyesalan Noel di Sidang Korupsi K3: Saya Seharusnya Lebih Hati-hati
-
Perempuan Menjaga Pangan dan Alam, Mengapa Justru Paling Rentan terhadap Krisis Iklim?
-
Angka Kecurangan Capai 99 Persen, Ada Apa dengan Fakultas Kedokteran di SNBT 2026?
-
Ironi Awak Kapal Perikanan: Banting Tulang di Tengah Laut, Pulang Malah Nombok Utang ke Majikan
-
Biadab! Sambil Hujan-hujanan, Pria Mabuk di Tangsel Cabuli Bocah Saat Main Petak Umpet
-
Vivace E Menjawab Kebutuhan Rumah Modern yang Estetik, Aman, dan Ramah Anak